Obstruksi Usus

Laporan Tentang Obstruksi Usus

BAB I
KONSEP TEORITIS

A.    Definisi
Obstruksi usus adalah kerusakan parsial atau komplit aliran isi usus ke arah ke depan. Yang kebanyakan terjadi di usus halus khususnya di ileum (Ester, M, 2002:49), atau gangguan yang terjadi ketika terdapat rintangan terhadap aliran normal dari isi usus, bisa juga karena hambatan terhadap rangsangan syaraf untuk terjadinya peristaltik atau karena adanya blokkage pada ileus mekanik/organik (Long B. C, 1996:242). Adapun pengertian lain obstruksi usus yaitu blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus dan makanan dapat secara mekanis atau fungsional (Tucker, M, 1998:325).
Pada obstruksi usus perlu dilakukan tindakan laparatomi karena kalau tidak dilakukan pembedahan akan menyebabkan nekrosis, gangren, iskemia sehingga dilakukan laparatomi obstruksi usus (Sjamsuhidayat, 1997:843). Laparatomi adalah pembedahan perut, membuka selaput perut dengan operasi (Ahmad, R.P, 1997:194).
a.     Ileus obstruksi adalah gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus pada traktus intestinal (Price & Wilson, 2007).

b.     Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus (Sabara, 2007 dikutip dari (http://www.Files-of-DrsMed.tk ).
c.     Ileus obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran normal isi usus sedangkan peristaltiknya normal (Reeves, 2005 dikutip dari(http://www.Files-of-DrsMed.tk).
d.    Obstruksi Ilius adalah gangguan aliran isi usus yang bisa disebabkan oleh adanya mekanik dan non mekanik sehingga terjadi askumuli cairan dan gas di lumen usus.
B.     Etiologi
Adhesi ( perlekatan  usus  halus )  merupakan  penyebab  tersering  ileus  obstruktif,  sekitar 50-70%  dari semua kasus. Adhesi bisa disebabkan oleh riwayat operasi intraabdominal sebelumnya atau proses inflamasi intraabdominal. Obstruksi yang disebabkan oleh adhesi berkembang sekitar 5% dari pasien yang mengalami operasi abdomen dalam


 hidupnya. Perlengketan kongenital juga dapat menimbulkan ileus obstruktif di dalam masa anak-anak.
a.    Hernia  inkarserata  eksternal ( inguinal, femoral, umbilikal, insisional,  atau  parastomal ) merupakan yang terbanyak kedua sebagai penyebab ileus obstruktif, dan merupakan penyebab tersering pada pasien yang tidak mempunyai riwayat operasi abdomen. Hernia interna (paraduodenal, kecacatan mesentericus, dan hernia foramen Winslow) juga bisa menyebabkan hernia.
b.     Neoplasma. Tumor primer usus halus dapat menyebabkan   obstruksi   intralumen,  sedangkan tumor metastase atau tumor intra abdominal dapat menyebabkan obstruksi melalui kompresi eksternal.
c.    Intususepsi usus halus menimbulkan obstruksi dan iskhemia terhadap bagian usus yang mengalami intususepsi. Tumor, polip, atau pembesaran limphanodus mesentericus dapat sebagai petunjuk awal adanya intususepsi.
d.    Penyakit Crohn dapat menyebabkan obstruksi sekunder sampai inflamasi akut selama masa infeksi atau karena striktur yang kronik.
e.    Volvulus sering  disebabkan oleh  adhesi  atau  kelainan  kongenital, seperti  malrotasi  usus. Volvulus lebih sering sebagai penyebab obstruksi usus besar.
f.     Batu   empedu   yang    masuk   ke  ileus.  Inflamasi   yang   berat     dari   kantong   empedu menyebabkan fistul dari saluran empedu ke duodenum atau usus halus yang menyebabkan batu empedu masuk ke traktus gastrointestinal. Batu empedu yang besar dapat terjepit di usus halus, umumnya pada bagian ileum terminal atau katup ileocaecal yang menyebabkan obstruksi.
g.    Striktur yang  sekunder yang berhubungan dengan  iskhemia, inflamasi,  terapi radiasi, atau trauma operasi.
h.    Penekanan eksternal oleh tumor, abses, hematoma, intususepsi, atau penumpukan cairan.
i.      Benda asing, seperti bezoar.
j.      Divertikulum Meckel yang bisa menyebabkan volvulus, intususepsi, atau hernia Littre. Fibrosis kistik dapat menyebabkan obstruksi parsial kronik pada ileum distalis dan kolon kanan sebagai akibat adanya benda seperti mekonium (Sabara, 2007 dikutip dari (http://www.Files-of-DrsMed.tk)
Obstruksi non-mekanis atau ileus adinamik sering terjadi setelah pembedahan abdomen karena adanya refleks penghambatan peristaltik akibat visera abdomen yang tersentuh tangan. Refleks penghambatan peristaltik ini sering disebut sebagai ileus paralitik, walaupun paralisis peristaltik ini tidak terjadi secara total. Keadaan lain yang sering menyebabkan terjadinya ileus adinamik adalah peritonitis. Atoni usus dan peregangan gas sering timbul menyertai berbagai kondisi traumatik, terutama setelah fraktur iga, trauma medula spinalis, dan fraktur tulang belakang.
Penyebab obstruksi mekanis berkaitan dengan kelompok usia yang terserang dan letak obstruksi. Sekitar 50% obstruksi terjadi pada kelompok usia pertengahan dan tua, dan terjadi akibat perlekatan yang disebabkan oleh pembedahan sebelumnya. Tumor ganas dan volvulus merupakan penyebab tersering obstruksi usus besar pada usia pertengahan dan orang tua. Kanker kolon merupakan penyebab 90% obstruksi yang terjadi. Volvulus adalah usus yang terpelintir, paling sering terjadi pada pria usia tua dan biasanya mengenai kolon sigmoid. Inkarserasi lengkung usus pada hernia inguinalis atau femoralis sangat sering menyebabkan terjadinya obstruksi usus halus. Intususepsi adalah invaginasi salah satu bagian usus ke dalam bagian berikutnya dan merupakan penyebab obstruksi yang hampir selalu ditemukan pada bayi dan balita. Intususepsi sering terjadi pada ileum terminalis yang masuk ke dalam sekum. Benda asing dan kelainan kongenital merupakan penyebab lain obstruksi yang terjadi pada anak dan bayi
a.     Mekanis
1.  Adhesi/perlengketan pascabedah (90% dari obstruksi mekanik)
2.  Karsinoma
3.  Volvulus
4.  Intususepsi
5.  Obstipasi
6.  Polip
b.     Fungsional (non mekanik)
1.  Ileus paralitik
2.  Lesi medula spinalis
3.  Enteritis regional
4.  Ketidakseimbangan elektrolit
C.   Jenis – jenis Obstruksi
Terdapat 2 jenis obstruksi :
  1. Obstruksi paralitik (ileus paralitik)
Peristaltik usus dihambat sebagian akibat pengaruh toksin atau trauma yang mempengaruhi kontrol otonom pergerakan usus. Peristaltik tidak efektif, suplai darah tidak terganggu dan kondisi tersebut hilang secara spontan setelah 2 sampai 3 hari.
  1. Obstruksi mekanik
Terdapat obstruksi intralumen atau obstruksi mural oleh tekanan ekstrinsik. Obstruksi mekanik digolongkan sebagai obstruksi mekanik simpleks (satu tempat obstruksi) dan obstruksi lengkung tertutup (paling sedikit 2 obstruksi). Karena lengkung tertutup tidak dapat didekompresi, tekanan intralumen meningkat dengan cepat, mengakibatkan penekanan pebuluh darah, iskemia dan infark (strangulasi) sehingga menimbulkan obstruksi strangulate yang disebabkan obstruksi mekanik yang berkepanjangan. Obstruksi ini mengganggu suplai darah, kematian jaringan dan menyebabkan gangren dinding usus. (Sabara, 2007 dikutip dari (http://www.Files-of-DrsMed.tk)
D.    Patofisiologi












Semua peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau non mekanik. Perbedaan utama adalah pada obstruksi paralitik peristaltik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang. Sekitar 6-8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran cerna setiap hari. Sebagian besar cairan diasorbsi sebelum mendekati kolon. Perubahan patofisiologi utama pada obstruksi usus adalah adanya lumen usus yang tersumbat, ini  menjadi tempat perkembangan bakteri sehingga terjadi akumulasi gas dan cairan (70% dari gas yang tertelan). Akumulasi gas dan cairan dapat terjadi di bagian proksimal atau distal usus. Apabila akumulasi terjadi di daerah distal mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan intra abdomen dan intra lumen. Hal ini dapat meningkatkan terjadinya peningkatan permeabilitas kapiler dan ekstravasasi air dan elektrolit di peritoneal. Dengan peningkatan permeabilitas dan ekstravasasi menimbulkan retensi cairan di usus dan rongga peritoneum mengakibatakan terjadi penurunan sirkulasi dan volume darah. Akumulasi gas dan cairan di bagian proksimal mengakibatkan kolapsnya usus sehingga terjadi distensi abdomen. Terjadi penekanan pada vena mesenterika yang mengakibatkan kegagalan oksigenasi dinding usus sehingga aliran darah ke usus menurun, terjadilah iskemi dan kemudian nekrotik usus. Pada usus yang mengalami nekrotik terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan pelepasan bakteri dan toksin  sehingga terjadi perforasi. Dengan adanya perforais akan menyebabkan bakteri akan masuk ke dalam sirkulasi sehingga terjadi sepsis dan peritonitis.
Masalah lain yang timbul dari distensi abdomen adalah penurunan fungsi usus dan peningkatan sekresi sehingga terjadi peminbunan di intra lumen secara progresif yang akan menyebabkan terjadinya retrograde peristaltic sehingga terjadi kehilangan cairan dan elektrolit. Bila hal ini tidak ditangani dapat menyebabkan syok hipovolemik. Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebih berdampak pada penurunanan curah jantung sehingga darah yang dipompakan tidak dapat memenuhi kebutuhan seluruh tubuh sehingga terjadi gangguan perfusi jaringan pada otak, sel dan ginjal. Penurunan perfusi dalam sel menyebabkan terjadinya metabolisme anaerob yang akan meningkatkan asam laktat dan menyebabkan asidosis metabolic. Bila terjadi pada otak akan menyebabkan hipoksia jaringan otak, iskemik dan infark. Bila terjadi pada ginjal akan merangsang pertukaran natrium dan hydrogen di tubulus prksimal dan pelepasan aldosteron, merangsang sekresi hidrogen di nefron bagian distal sehingga terjadi peningaktan reabsorbsi HCO3- dan penurunan kemampuan ginjal untuk membuang HCO3. Hal ini akan menyebabkan terjadinya alkalosis metabolic. (Price &Wilson, 2007)
E.      Komplikasi
a. Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehinnga terjadi peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen.
b. Perforasi dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi selalu lama pada organ intra abdomen.
c. Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat.
d. Syok hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma. (Brunner and Suddarth, 2001, hal 1122)
F.     Pemeriksaan Penunjang
a.       Sinar x abdomen menunjukkan gas atau cairan di dalam usus
b.      Barium enema menunjukkan kolon yang terdistensi, berisi udara atau lipatan sigmoid yang tertutup.
  1. Penurunan kadar serum natrium, kalium dan klorida akibat muntah, peningkatan hitung SDP dengan nekrosis, strangulasi atau peritonitis dan peningkatan kadar serum amilase karena iritasi pankreas oleh lipatan usus.
  2. Arteri gas darah dapat mengindikasikan asidosis atau alkalosis metabolic. Brunner and Suddarth, 2002 ) dan Sabara, 2007 dikutip dari http://www.Files-of-DrsMed.tk )
G.    Penatalaksanaan
Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal
  1. Resusitasi
Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda - tanda vital, dehidrasi dan syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami dehidrasi dan gangguan keseimbangan ektrolit sehingga perlu diberikan cairan intravena seperti ringer laktat. Respon terhadap terapi dapat dilihat dengan memonitor tanda - tanda vital dan jumlah urin yang keluar. Selain pemberian cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric tube (NGT). NGT digunakan untuk mengosongkan lambung, mencegah aspirasi pulmonum bila muntah dan mengurangi distensi abdomen.
  1. Farmakologis
Pemberian obat - obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai profilaksis. Antiemetik dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah.
  1. Operatif
Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastrik untuk mencegah sepsis sekunder. Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil eksplorasi selama laparotomi. Berikut ini beberapa kondisi atau pertimbangan untuk dilakukan operasi: Jika obstruksinya berhubungan dengan suatu simple obstruksi atau adhesi, maka tindakan lisis yang dianjurkan. Jika terjadi obstruksi stangulasi maka reseksi intestinal sangat diperlukan. Pada umumnya dikenal 4 macam cara/tindakan bedah yang dilakukan pada obstruksi ileus:
1.                  Koreksi sederhana (simple correction).
Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.
2.                  Tindakan operatif by-pass.
Membuat saluran usus baru yang “melewati” bagian usus yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.
3.                  Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya pada Ca stadium lanjut.
4.                  Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinoma colon, invaginasi, strangulata, dan sebagainya. Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif  bertahap, baik oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi usus dan anastomosis. (Sabara, 2007 dikutip dari (http://www.Files-of-DrsMed.tk ).




























BAB II
PENGKAJIAN
A.    Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Pengkajian
a.       Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelelahan dan ngantuk.
Tanda  : Kesulitan ambulasi
b.      Sirkulasi
Gejala : Takikardia, pucat, hipotensi ( tanda syok)
c.       Eliminasi
Gejala : Distensi abdomen, ketidakmampuan defekasi dan Flatus
Tanda  : Perubahan warna urine dan feces
d.      Makanan/cairan
Gejala : anoreksia,mual/muntah dan haus terus menerus.
Tanda  : muntah berwarna hitam dan fekal. Membran mukosa pecah-pecah. Kulit buruk.
e.       Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen terasa seperti gelombang dan bersifat kolik.
Tanda : Distensi abdomen dan nyeri tekan
f.       Pernapasan
Gejala   : Peningkatan frekuensi pernafasan,
Tanda    : Napas pendek dan dangkal
g.      Diagnostik Test
- Pemeriksaan sinar X: akan menunjukkan kuantitas abnormal   dari gas dan cairan dalam usus.
- Pemeriksaan simtologi
- Hb dan PCV: meningkat akibat dehidrasi
- Leukosit: normal atau sedikit meningkat
- Ureum dan eletrolit: ureum meningkat, Na+ dan Cl‑  rendah
- Rontgen toraks: diafragma meninggi akibat distensi abdomen
- Rontgen abdomen dalam posisi telentang: mencari penyebab (batu empedu, volvulus, hernia)
- Sigmoidoskopi: menunjukkan tempat obstruktif.  (Doenges, Marilynn E, 2000)
B.     Diagnosa Keperawatan
  1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang tidak adequat dan ketidakefektifan penyerapan usus halus yang ditandai dengan adanya mual, muntah, demam dan diaforesis.
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrisi.
  3. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen
  4. Gangguan pola eliminasi: konstipasi berhubungan dengan disfungsi motilitas usus.
  5. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
  6. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan. (Doengoes, Marilynn E. 2000) dan ( Sabara, 2007 dikutip dari http://www.Files-of-DrsMed.tk )
C.     Perencanaan Keperawatan
  1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang tidak adequat dan ketidakefektifan penyerapan usus halus yang ditandai dengan adanya mual, muntah, demam dan diaforesis.
Tujuan :
Kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi, Mempertahankan hidrasi adekuat dengan bukti membran mukosa lembab, turgor kulit baik, dan pengisian kapiler baik, tanda-tanda vital stabil, dan secara individual mengeluarkan urine dengan tepat.
Kriteria hasil:
1.   Tanda vital normal (N:70-80 x/menit, S: 36-37 C, TD: 110/70 -120/80 mmHg)
2.   Intake dan output cairan seimbang
3.   Turgor kulit elastic
4.   Mukosa lembab
5.   Elektrolit dalam batas normal (Na: 135-147 mmol/L, K: 3,5-5,5 mmol/L, Cl: 94-111 mmol/L).




Intervensi
Rasional
1.  Kaji kebutuhan cairan pasien


2.  Observasi tanda-tanda vital: N, TD, P, S


3.  Observasi tingkat kesadaran dan tanda-tanda syok


4.  Observasi bising usus pasien tiap 1-2 jam
5.  Monitor intake dan output secara ketat
6.  Pantau hasil laboratorium serum elektrolit, hematokrit
7.  Beri penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang tindakan yang dilakukan: pemasangan NGT dan puasa.
8.  Kolaborasi dengan medik untuk pemberian terapi intravena
1.  Mengetahui kebutuhan cairan pasien.

2.  Perubahan yang drastis pada tanda-tanda vital merupakan indikasi kekurangan cairan.
3.  kekurangan cairan dan elektrolit dapat mempengaruhi tingkat kesadaran dan mengakibatkan syok.
4.  Menilai fungsi usus

5.  Menilai  keseimbangan cairan

6.  Menilai keseimbangan cairan dan elektrolit
7.  Meningkatkan  pengetahuan pasien dan keluarga serta kerjasama antara perawat-pasien-keluarga.
8.  Memenuhi  kebutuhan cairan dan elektrolit pasien.


  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrisi.
Tujuan :
Berat badan stabil dan nutrisi teratasi.
Kriteria hasil :
1.   Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi.       
2.   Berat badan stabil.        
3.   Pasien tidak mengalami mual muntah. 
Intervensi
Rasional
1.  Tinjau faktor-faktor individual yang mempengaruhi kemampuan untuk mencerna makanan, mis: status puasa, mual, ileus paralitik setelah selang dilepas.
2.     Auskultasi bising usus; palpasi   abdomen; catat pasase flatus.
3.  Identifikasi kesukaan / ketidaksukaan diet dari pasien. Anjurkan pilihan makanan tinggi protein dan vitamin C.





4.  Observasi terhadap terjadinya diare; makanan bau busuk dan  berminyak.


5.  Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan sesuai indikasi: Antimetik, mis: proklorperazin (Compazine). Antasida dan inhibitor histamin, mis: simetidin (tagamet).
1.    Mempengaruhi pilihan intervensi.



2.     Menentukan kembalinya peristaltik ( biasanya dalam 2-4 hari ).
3.     Meningkatkan kerjasama pasien dengan aturan diet. Protein/vitamin C adalah kontributor utuma untuk pemeliharaan jaringan dan perbaikan. Malnutrisi adalah fator dalam menurunkan pertahanan terhadap infeksi.
4.     Sindrom malabsorbsi dapat terjadi setelah pembedahan usus halus, memerlukan evaluasi lanjut dan perubahan diet, mis: diet rendah serat.
5.     Mencegah muntah. Menetralkan atau menurunkan pembentukan asam untuk mencegah erosi mukosa dan kemungkinan ulserasi.


  1. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen
Tujuan :
pola nafas menjadi efektif
Kriteria hasil :
pasien memiliki pola pernafasan: irama vesikuler, frekuensi: 18-20x/menit
Intervensi
Rasional
1.  Observasi TTV: P, TD, N,S




2.  Kaji status pernafasan: pola, frekuensi, kedalaman

3.  Kaji bising usus pasien



4.  Tinggikan kepala tempat tidur 40-60 derajat
5.  Observasi adanya tanda-tanda hipoksia jaringan perifer: cianosis



6.  Monitor hasil AGD

7.  Berikan penjelasan kepada keluarga pasien tentang penyebab terjadinya distensi abdomen yang dialami oleh pasien
8.  Laksanakan program medic pemberian terapi oksigen
1.      Perubahan pada pola nafas akibat adanya distensi abdomen dapat mempengaruhi peningkatan hasil TTV.

2.      Adanya distensi pada abdomen dapat menyebabkan perubahan pola nafas.
3.      Berkurangnya/hilangnya bising usus menyebabkan terjadi distensi abdomen sehingga mempengaruhi pola nafas.
4.      Mengurangi penekanan pada paru akibat distensi abdomen.
5.      Perubahan pola nafas akibat adanya distensi abdomen dapat menyebabkan oksigenasi perifer terganggu yang dimanifestasikan dengan adanya cianosis.
6.      Mendeteksi adanya asidosis respiratorik.
7.      Meningkatkan pengetahuan dan kerjasama dengan keluarga pasien.


8.      Memenuhi kebutuhan oksigenasi pasien


  1. Gangguan pola eliminasi: konstipasi berhubungan dengan disfungsi motilitas usus.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola eliminasi kembali normal.
Kriteria hasil:
Pola eliminasi BAB normal: 1x/hari, dengan konsistensi lembek, BU normal: 5-35 x/menit, tidak ada distensi abdomen.

Intervensi
Rasional
1.  Kaji dan catat frekuensi, warna dan konsistensi feces

2.  Auskultasi bising usus


3.  Kaji adanya flatus

4.  Kaji adanya distensi abdomen



5.  Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga penyebab terjadinya gangguan dalam BAB

6.  Kolaborasi dalam pemberian terapi pencahar (Laxatif)
1. Mengetahui  ada atau tidaknya kelainan yang terjadi pada eliminasi fekal.
2. Mengetahui normal atau tidaknya pergerakan usus.

3. Adanya flatus menunjukan perbaikan fungsi usus.
4. Gangguan motilitas usus dapat menyebabkan akumulasi gas di dalam lumen usus sehingga terjadi distensi abdomen.
5. Meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga serta untuk meningkatkan kerjasana antara perawat-pasien dan keluarga.
6. Membantu dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi

  1. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
Tujuan :
rasa nyeri teratasi atau terkontrol
Kriteria hasil:
pasien mengungkapkan penurunan ketidaknyamanan; menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan relaks.

Intervensi
Rasional
1.      Observasi TTV: N, TD, HR, P tiap shif


2.      Kaji keluhan nyeri, karakteristik dan skala nyeri yang dirasakan pesien sehubungan dengan adanya distensi abdomen
3.      Berikan posisi yang nyaman: posisi semi fowler

4.      Ajarkan dan anjurkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam saat merasa nyeri
5.      Anjurkan pasien untuk menggunakan tehnik pengalihan saat merasa nyeri hebat.
6.      Kolaborasi dengan medic untuk terapi analgetik
1.      Nyeri hebat yang dirasakan pasien akibat adanya distensi abdomen dapat menyebabkan peningkatan hasih TTV.
2.      Mengetahui kekuatan nyeri yang dirasakan pasien dan menentukan tindakan selanjutnya guna mengatasi nyeri.
3.      Posisi yang nyaman dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien
4.      Relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri

5.      Mengurangi nyeri yang dirasakan pasien.


6.      Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri

  1. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan. 
Tujuan:
Kecemasan teratasi.
Kriteria hasil :
pasien mengungkapkan pemahaman tentang penyakit saat ini dan  mendemonstrasikan keterampilan koping positif.

Intervensi
Rasional
1.      Observasi adanya peningkatan kecemasan: wajah tegang, gelisah

2.      Kaji adanya rasa cemas yang dirasakan pasien
3.      Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan sehubungan dengan keadaan penyakit pasien
4.      Berikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa takut atau kecemasan yang dirasakan
5.      Pertahankan lingkungan yang tenang dan tanpa stres.


6.      Dorong dukungan keluarga dan orang terdekat untuk memberikan support kepada pasien
1.      Rasa cemas yang dirasakan pasien dapat terlihat dalam ekspresi wajah dan tingkah laku.
2.      Mengetahui  tingkat kecemasan pasien.
3.      Dengan mengetahui tindakan yang akan dilakukan akan mengurangi tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan kerjasama
4.      Dengan mengungkapkan kecemasan akan mengurangi rasa takut/cemas pasien

5.      Lingkungan yang tenang dan nyaman dapat mengurangi stress pasien berhadapan dengan penyakitnya
6.      Support system dapat mengurani rasa cemas dan menguatkan pasien dalam memerima keadaan sakitnya.
(Doengoes, Marilynn E. 2000) dan ( Sabara, 2007 dikutip dari (http://www.Files-of-DrsMed.tk )



DAFTAR PUSTAKA
Anonym. Mechanical Intestinal Obstructionhttp://www.Merck.com. ( Diakses 20  Agustus 2011)
Author :Nova Faradilla, S. Ked  Files of DrsMed – FK UNRI, ileus obstruksi.http://www.Files-of-DrsMed.tk.  (Diakses 20 Agustus 2011)
Alief. M, dkk, (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: FKUI.
Black & Hawk, (2005). Medical Surgical Nursing Clinical Managemen for Positive Outcomes. Fifth Edition, Vol 1. St. Louis Missouri: Mosby.
Brunner & Suddarth, (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC.
Donna Ignatavician, (2006). Medical Surgical Nursing. Volume 2. St. Louis Missouri: Elsevier Sounders
Lewis Heitkemper Diksen, (2007). Medical Surgical Nursing. Volume 2. St. Louis Missouri: Mosby Elsevier.
Price &Wilson, (2007). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi  6, Volume1. Jakarta: EGC.

Rahayu Rejeki handayani, bahar asril. Buku ajar ilmu penyakit Dalam. Jakarta : Departemen Pendidikan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jilid III edisi IV ; 2007. 1405-1410
Label:

Post a Comment

[blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.