2015-12-13

KERAJINAN TEKSTIL TRADISIONAL INDONESIA

Indonesia kaya akan budaya khas tradisional yang melekat menjadi sebuah identitas. Salah satu budaya Indonesia yang terkenal adalah produksi kain setiap daerah. Kain menjadi semacam identitas khusus dengan sebutannya masing-masing dan melambangkan ciri khas suatu daerah. Aneka kain cantik dan khas suatu daerah juga bagus untuk dijadikan buah tangan.
Inilah 5 jenis kain cantik nan elegan khas Indonesia yang cocok untuk buah tangan.
1.      Batik
Batik menjadi salah satu kain yang mendominasi setiap lini fashion di berbagai kegiatan. Di setiap acara resmi sering kita temui orang orang yang memakai kain batik dengan berbagai model. Ada yang memakainya sebagai bahan kemeja resmi, atau hanya untuk pakaian sehari-hari. Kepopuleran Batik kini telah melebar hingga mancanegara. Tak jarang dalam ajang-ajang acara fashion internasional, banyak designer menggunakan batik sebagai tema fashion mereka.


Batik menjadi salah satu kain yang mendominasi setiap lini fashion di berbagai kegiatan. Di setiap acara resmi sering kita temui orang orang yang memakai kain batik dengan berbagai model. Ada yang memakainya sebagai bahan kemeja resmi, atau hanya untuk pakaian sehari-hari. Kepopuleran Batik kini telah melebar hingga mancanegara. Tak jarang dalam ajang-ajang acara fashion internasional, banyak designer menggunakan batik sebagai tema fashion mereka.


Kepopuleran Batik sebenarnya terletak pada proses pembuatannya yang cukup unik. Kain batik diproses melalui proses pencantingan menggunakan malam atau lilin cair, setelah itu diberi pewarna sesuai kebutuhan. Makna yang terkandung dalam motif batik adalah falsafah hidup yang jika didalami banyak mempelajari tentang tata kehidupan.

Daerah yang terkenal memproduksi batik sebenarnya tersebar luas di seluruh Indonesia. Daerah-daerah tersebut memiliki corak khusus yang menjadi identitas  tersendiri. Namun, Batik akan sangat mudah Anda temukan jika Anda bepergian ke Pulau Jawa. Yogyakarta, Solo, Pekalongan, dan Cirebon adalah daerah yang menjadi tujuan utama para pelancong untuk berburu Batik. Keempat daerah pun memiliki beragam jenis kerajinan batik dan memiliki corak khasnya masing-masing. Bahkan kerajinan Batik juga bisa kita temukan di Pulau Madura dan Pulau Bali.

2.      Tenun Ikat


Jika Anda pergi jalan-jelan ke Flores, NTT jangan lupakan dengan kain cantik khas daerah tersebut yaitu tenun ikat. Tenun ikat merupakan cinderamata yang pas dan wajib Anda beli dari Flores. Ada beberapa daerah sentra khusus yang memperoduksi tenun ikat sekaligus menjualnya langsung ke konsumen. Daerah tersebut meliputi Desa Sikka di Maumere yaitu yang paling sering dikunjungi turis, Lio, dan Ende.

Jika Anda berkunjung ke daerah sentra tenun ikat tersebut, Anda akan puas melihat proses pembuatan tenun ikat. pada mama asyik membuat kain tersebut di depan rumah, mereka dengan terampil memasukkan benang satu persatu menggunakan alat tenun menjadi satu kain yang utuh. Selain itu Anda juga akan dipuaskan dengan berbelanja kain tenun. Kain yang dijual di daerah tersebut sangat bervariasi ukurannya. Mulai dari kain ukuran 2 meter hingga kain kecil seperti taplak, sapu tangan, syal. Harga yang ditawarkan pun bermacam-macam sesuai ukuran kain.

3.      Songket

Songket adalah kain lain di Indonesia yang tak kalah cantik sehingga sering dijadikan cinderamata oleh para pelancong. Kain ini akan mudah Anda dapatkan jika Anda berpergian ke tanah Sumatera. Daerah yang terkenal dengan oleh-oleh kain songket adalah Sumatera Barat.

NIlai jual songket dari Sumatera Barat yang terkenal adalah karena songket terbuat dari benang emas. Harganya cukup bervariasi tergantung tingkatan songket yang Anda pilih. Ada empat jenis songket sesuai tingkatan benang yaitu songket benang 1, 2, 3 dan 4.

Perbedaan keempat jenis tersebut terletak pada cara pembuatan. Songket benang 1 proses pembuatannya lebih rumit dan memerlukan waktu lebih lama. Sang penenun memasukkan benang  sehelai demi sehelai agar tercipta  satu lembar kain songket yang utuh. Harga songket benang pertama pun harganya lebih mahal dari tingkatan lainnya, bisa mencapai jutaan rupiah. Jika Anda memilih benang 4, maka harga akan lebih murah karena proses pembuatannya cukup mudah dan cepat. Prosesnya penenun langsung memasukkan 4 benang sekaligus ke dalam mesin tenun.

4.      Ulos


Ulos menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi masyarakat Batak di Sumatera Utara. Di setiap kegiatan atau upacara kebudayaan batak, Ulos tak pernah ditinggalkan keberadaanya, rasanya tidaklah sah jika tidak memakai Ulos. Oleh karena itu Ulos dianggap istimewa di mata masyarakat Batak.

Ulos hanya bisa didapat di Sumatera utara. Kain ini menjadi cinderamata khusus dari Sumatera Utara bagi para pelancong. Ada banyak  sekali sentra pembuatan dan penjualan Ulos di sana namun yang paling terkenal terletak di Desa Perbaban Pulau Samosir. Di desa tersebut, banyak sekali dijumpai pengrajin dan penjual Ulos sebagai cinderamata. Namun, Anda perlu mempersiapkan kocek sedikit dalam karena harga Ulos di sana cukup mahal mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.




5.      Sasirangan


Rupanya tanah Kalimantan tak hanya memiliki alam yang indah namun juga cinderamata yang indah pula. Cinderamata tersebut berupa kain khas yang dikenal sebagai Sasirangan. Kain ini banyak dijumpai di toko-toko yang ada di kota Banjarmasin dan Mamrtapura.

Keistimewaan Sasirangan terletak pada motifnya yang berbeda dengan kain lain. Jika kita sekilas melihat coraknya saja sudah menunjukkan corak khas Kalimantan. Sama seperti kain lain, kain Sasirangan juga dijual tiadk hanya dalam bentuk kain. Anda bisa mendapatkan sasirangan berupa daster, kemeja, kaos, rok ataupun celana. Bahan yang digunakan juga bervariasi, berupa kaso, sutera, maupun katun.

Nah, Jika Anda berminat untuk berburu kain Sasirangan, jalan-jalanlah ke Pasar Martapura, Kalimantan Selatan. Banyak penjual yang menjual kain Sasirangan dengan variasi harga yang cukup murah. Sasirangan berbahan katun bisa Anda peroleh dengan harga sekitar Rp 150.000, sedangkan yang sutera sekitar Rp 200.000.


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan kebidanan yang diberikan ssecara menyeluruh dari mulai hamil, bersalin, nifas sampai pada bayi baru lahir. Asuhan kebidanan ini dilakukan agar mahasiswa dapat mengetahui hal – hal apa saja yang terjadi pada seorang wanita semenjak hamil, bersalin, nifas sampai dengan bayi yang dilahirkannya serta melatih mahasiswa dalam melakukan pengkajian, menegakkan diagnosa secara tepat, antisipasi masalah yang  mungkin terjadi, menentukan tindakan segera, melakukan perencanaan dan tindakan sesuai kebutuhan ibu, serta mampu melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) penurunan angka kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup masih terlalu lamban untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals/MDGs) dalam rangka mengurangi tiga perempat jumlah perempuan yang meninggal selama hamil dan melahirkan pada 2015, untuk mencapai target MDGs penurunan angka kematian ibu antara 1990 dan 2015 seharusnya 5,5 persen per tahun. Namun data WHO, UNICEF, UNFPA dan Bank Dunia menunjukkan angka kematian ibu hingga saat ini masih kurang dari satu persen per tahun. Pada 2005,sebanyak 536.000  perempuan meninggal dunia akibat masalah persalinan, lebih rendah dari jumlah kematian ibu tahun 1990 yang sebanyak 576.000.
Menurut data WHO, sebanyak  99kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi dinegara-negara berkembang. Rasiko kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibuper 100 ribu kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran. Terlebih lagi, rendahnya penurunan angka kematian ibu global tersebut merupakan cerminan belum adanya penurunan angka kematian ibu secara bermakna di negara-negara yang angka kematian ibunya rendah
Jumlah AKI di kota Tangerang pada tahun 2008 mencapai 14 orang,di tahun 2011 adalah sebanyak 50 orang  , Demikian juga tingkat AKB dari 89 kasus di tahun 2008,turun menjadi 59 di tahun 2009 (Dinkes Kota Tangerang 2009). AKI  Dan AKB  di provinsi banten pada tahun 2012 masih cukup tinggi,  yaitu pada tahun 2012 mencapai 189/100.000 kelahiran hidup sedangkan AKB dari 26 menjadi 22,8/1000 kelahiran hidup. (Dinkes Banten,2012).
Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90 % pada saat persalinan dan segera setelah pesalinan yaitu perdarahan 28 %, eklamsia 24 %, infeksi 11 %, komplikasi puerperium 8 %, partus macet 5 %, abortus 5 %, trauma obstetris 5 %, emboli air ketuban 3 %. Kematian ibu juga diakibatkan beberapa faktor resiko keterlambatan yaitu (Tiga Terlambat), diantaranya terlambat dalam pemeriksaan kehamilan (terlambat mengambil keputusan), terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan, dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat dalam keadaan emergensi. Sedangkan penyebab kematian neonatal karena BBLR  (Bayi Berat Lahir Rendah) 29 %, asfiksia 27 %, masalah pemberian minum 10 %, tetanus10 %, gangguan hematologi 6 %, infeksi 5 % dan lain - lain 11 % (SKRT 2009). Departemen Kesehatan dalam mewujudkan hal ini, salah satu upaya terobosan dan terbukti mampu meningkatkan indikator persalinan oleh tenaga kesehatan dalam penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian  Bayi adalah Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) yaitu penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, pendamping persalinan yang ibu inginkan, tempat persalinan yang ibu inginkan, transportasi dan donor darah. Perencanaan pemakaian alat/ obat kontrasepsi pasca persalinan. Ibu juga di’kdorong untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dilanjutkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Selain itu, pemerintah melalui Departemen Kesehatan juga menerapkan Strategi Making Pregnancy Safer (MPS).
Tugas bidan dalam berperan menurunkan AKI adalah memberikan asuhan kebidanan kepada ibu hamil, bersalin dan nifas serta bayi baru lahir, bimbingan terhadap kelompok remaja masa pra nikah, pertolongan persalinan, melakukan pergerakan dan pembinaan peran serta masyarakat untuk mendukung upaya-upaya kesehatan ibu dan anak. Oleh karena itu, mahasiswi ikut berperan serta dalam upaya menurunkan AKI dan AKB yaitu dengan memperdalam ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada ibu dan bayi, salah satunya dengan magang/praktek di BPM atau kelinik guna mengasah dan melatih kemampuan dalam memberikan asuhan kebidanan yang berkualitas di masa ini dan masa yang akan datang (Saffudin, 2010).
Untuk meningkatkan kerja sama BPM dan institusi , Maka kebidanan Muhammadiyah Banda aceh mahasiswa semeter 5 wajib mengikuti asuhan kebidanan komprehensif berikut dilaporkan hasil perktik asuhan kebidanan komprehensif.



B.  Tujuan Penulisan
1.   Tujuan Umum
               Mampu memberikan Asuhan Pelayanan Kebidanan secara komperehensif  sesuai standar pelayanan kebidanan pada ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru lahir, ibu nifas dan keluarga berencana dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan Varney dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP.
2.   Tujuan Khusus
a.  Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir nifas,dan KB secara komprehensif melalui pendekatan manajemen kebidanan .
b.  Mahasiswa mampu menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa masalah pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir ,nifas dan KB melalui pendekatan manajemen kebidanan.
c.   Mahasiswa mampu menetapkan  kebutuhan terhadap tindakan segera pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir ,nifas, dan KB secara komprehensif melalui pendekatan manajemen kebidanan.
d. Mahasiswa mampu mendokumentasikan hasil asuhan pelayanan kebidanan dengan metode SOAP (Subjektif, Objektif, Analisa, Penatalaksanaan).

C.   Ruang Lingkup
Adapun ruang lingkup dari laporan studi kasus ini untuk melakukan asuhan kebidanan yang komprehensif pada Ny. F  umur 28  tahun usia kehamilan 38-38 minggu, bersalin, bayi baru lahir, nifas dan KB Di BPS Hj. Sinarti Amd,Keb.SKM  lambaro skep , Kota Banda Aceh

D.   Sistematika Penulisan
Sistematika studi kasus ini tediri dari 5 bab,yaitu :
Bab I  :            Berisi tentang latar belakang, tujuan penulisan yang  terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus, ruang lingkup, dan sistematika penulisan.
Bab II  :           berisi tentang Tinjauan pustaka mengenai kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir serta asuhan-asuhan yang sesuai diberikan oleh tenaga kesehatan pada ibu hamil, melahirkan, nifas, bayi baru lahir dan kontrasepsi. Selain itu, mejelaskan tentang pendokumentasian Asuhan Kebidanan (ASKEB) yang dilakukan oleh tenaga kesehatan khususnya bidan dalam memberikan asuhan komprehensif.
Bab III :        Tinjauan Kasus yang berisikan tentang asuhan kebidanan pada Ny.K berupa data subjektif dan data objektif.Dimana data tersebut diperoleh dari anamnesa, observasi, pemeriksaan fisik. Dimana data tersebut ditulis dalam bentuk pendokumentasian SOAP.
Bab IV  :         Tentang pembahasan yang berisikan tentang asuhan Komprehensif yang diberikan kepada Ny.K G1P0A  usia Kehamilan  39 minggu fisiologis .

Bab V :            Tentang Kesimpulan dan saran yang berisikan tentang keesimpulan asuhan komprehensif dari uraian yang telah dibahas dari bab-bab sebelumnya serta saran dari penulis bagi pembaca.

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.