Makalah ANTROPOLOGI DAN KESEHATAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ketika
baru dilahirkan, semua tingkah laku manusia yang baru lahir tersebut digerakkan
olen insting dan naluri. Insting atau naluri ini tidak termasuk dalam
kebudayaan, tetapi mempengaruhi kebudayaan. Contohnya adalah
kebutuhan akan tempat tinggal,dulu manusia hanya hidup berpindah-pindah
atau nomaden. Mereka hanya mencari perlindungan di goa atau di
bawah pohon-pohon besar agar tidak diserang oleh binatang buas, tetapi sekarang
tempat tinggal adalah kebutuhan dasar yang tidak termasuk dalam kebudayaan.
Bagaimana kebutuhan itu dipenuhi;dengan cara apa agar kebutuhan itu terpenuhi
adalah bagian dari kebudayaan. Semua manusia perlu tempat tinggal yang bersih
dan nyaman bagi kehidupannya,agar tidak diserang penyakit tetapi
kebudayaan yang berbeda dari kelompok kelompoknya menyebabkan manusia melakukan
kegiatan itu dengan cara yang berbeda.
Sebagai contoh adanya kepercayaan
masyarakat Jawa memiliki budaya mencuci kaki selepas bepergian dengan alasan
kepercayaan menghindari musibah dan gangguan makhluk halus. Meskipun memiliki
alasan yang tidak ilmiah, namun budaya tersebut secara langsung
mempengaruhi kesehatan masyarakat Jawa. Contoh lainnya adalah budaya
sumpah-serapah dalam keluarga di beberapa daerah di Indonesia. Budaya ini lebih
jauh dapat mempengaruhi kesehatan kejiwaan anggota keluarga. Hal ini semua
terjadi karena manusia mempelajari atau mencontoh sesuatu yang dilakukan oleh
generasi sebelumya atau lingkungan disekitarnya yang dianggap baik dan berguna
dalam hidupnya. Sehingga dalam mensosialisasikan kesehatan pada masyarakat luas
dapat lebih terarah yang implikasinya adalah naiknya derajat kesehatan
masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang akan di
sampaikan, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan antropologi dan
kesehatan?
2. Bagaimana hubungan antara budaya dan
kesehatan?
3. Bagaimana perkembangan budaya kesehatan
manusia?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini, adalah sebagai berikut:
1. Agar mahasiswa mampu menganalisis hubungan antropologi
dengan Ilmu Kesehatan Masyarakat;
2. Agar mahasiswa mengetahui, hubungan antara
budaya dan kesehatan;
3. Agar mahasiswa mengetahui perkembangan budaya
kesehatan manusia;
4. Untuk memenuhi tugas akhir yang diberikan
dosen kepada mahasiswa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
ANTROPOLOGI DAN KESEHATAN
1. Definisi Antropologi
Antropologi
kesehatan adalah studi tentang pengaruh unsur-unsur budaya
terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan (Solita
Sarwono, 1993).
terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan (Solita
Sarwono, 1993).
Antropologi
Kesehatan mengkaji masalah-masalah kesehatan dan penyakit
dari dua kutub yang berbeda yaitu kutub biologi dan kutub sosial budaya. Pokok perhatian Kutub Biologi. Pertumbuhan dan perkembangan manusia, peranan penyakit dalam evolusi manusia, paleopatologi (studi mengenai penyakit-penyakit purba). Pokok perhatian kutub sosial-budaya : Sistem medis tradisional (etnomedisin), masalah petugas-petugas kesehatan dan persiapan profesional mereka, tingkah laku sakit, hubungan antara dokter pasien, dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan kesehatan barat kepada masyarakat tradisional.
dari dua kutub yang berbeda yaitu kutub biologi dan kutub sosial budaya. Pokok perhatian Kutub Biologi. Pertumbuhan dan perkembangan manusia, peranan penyakit dalam evolusi manusia, paleopatologi (studi mengenai penyakit-penyakit purba). Pokok perhatian kutub sosial-budaya : Sistem medis tradisional (etnomedisin), masalah petugas-petugas kesehatan dan persiapan profesional mereka, tingkah laku sakit, hubungan antara dokter pasien, dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan kesehatan barat kepada masyarakat tradisional.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa Antropologi Kesehatan adalah
disiplin yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosio-budaya
dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara
keduanya disepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi
kesehatan dan penyakit pada manusia (Foster/Anderson, 1986; 1-3).
disiplin yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosio-budaya
dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara
keduanya disepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi
kesehatan dan penyakit pada manusia (Foster/Anderson, 1986; 1-3).
Antropologi
kesehatan merupakan bagian dari antropologi sosial dan kebudayaan yang
mempelajari bagaimana kebudayaan dan masyarakat mempengaruhi masalah-masalah
kesehatan, pemeliharaan kesehatan dan masalah terkait lainnya.
Antropologi
kesehatan merupakan bagian dari antropologi yang menggambarkan pengaruh sosial,
budaya, biologi, dan bahasa terhadap kesehatan (dalam arti luas) meliputi
pengalaman dan distribusi kesakitan, pencegahan dan pengobatan penyakit, proses
penyembuhan dan hubungan sosial manajemen pengobatan serta kepentingan dan
kegunaan kebudayaan untuk sistem kesehatan yang beranekaragam.
Antropologi
kesehatan mempelajari bagaimana kesehatan individu, formasi sosial yang lebih
luas dan lingkungan dipengaruhi oleh hubungan antara manusia dan spesies lain,
norma budaya dan institusi sosial, politik mikro dan makro, dan globalisasi.
2. Definisi Kesehatan
Kesehatan adalah
kondisi umum dari seseorang dalam semua aspek. Ini juga merupakan tingkat
fungsional dan / atau efisiensi metabolisme organisme, sering secara implisit
manusia.
Pada
saat berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 1948, kesehatan didefinisikan
sebagai "keadaan lengkap fisik, mental, dan kesejahteraan sosial dan bukan
hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan."
Pada
1986, WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan, mengatakan
bahwa kesehatan adalah "sumber daya bagi kehidupan sehari-hari,
bukan tujuan dari kehidupan. Kesehatan adalah konsep yang positif
menekankan sumber daya sosial dan pribadi, serta kemampuan fisik."
Ciri
Ciri Sehat :
Kesehatan
fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak
adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh
berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
Kesehatan
mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.
1. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir
atau jalan pikiran.
2. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk
mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan
sebagainya.
3. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam
mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap
sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat
spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang.
B. HUBUNGAN
ANTARA BUDAYA DAN KESEHATAN
Kebudayaan
sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J Herskovits dan Bronislaw
Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat
ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah
untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits
memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke
generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagaisuperorganic. Menurut
Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma,
ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan
lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang
menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan
merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan
lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo
Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa,
dan cipta masyarakat.
Dari
berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yang
mana akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan
yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah
benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa
perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku,
bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang
kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat.
Mengacu
pada esensi budaya, nilai budaya sehat merupakan bagian yang tak terpisahkan
akan keberadaanya sebagai upaya mewujudkan hidup sehat dan merupakan bagian
budaya yang ditemukan secara universal. Dari budaya pula, hidup sehat dapat
ditelusuri. Yaitu melalui komponen pemahaman tentang sehat, sakit, derita
akibat penyakit, cacat dan kematian, nilai yang dilaksanakan dan diyakini di
masyarakat, serta kebudayaan dan teknologi yang berkembang di masyarakat.
Pemahaman
terhadap keadaan sehat dan keadaan sakit tentunya berbeda di setiap masyarakat
tergantung dari kebudayaan yang mereka miliki. Pada masa lalu, ketika pengetahuan
tentang kesehatan masih belum berkembang, kebudayaan memaksa masyarakat untuk
menempuh cara “trial and error” guna menyembuhkan segala jenis penyakit,
meskipun resiko untuk mati masih terlalu besar bagi pasien. Kemudian perpaduan
antara pengalaman empiris dengan konsep kesehatan ditambah juga dengan konsep
budaya dalam hal kepercayaan merupakan konsep sehat tradisional secara kuratif.
Sebagai
contoh pengaruh kebudayaan terhadap masalah kesehatan adalah penggunaan kunyit
sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit kuning (hepatitis) di kalangan
masyarakat Indonesia. Masyarakat menganggap bahwa warna penyakit pasti akan
sesuai dengan warna obat yang telah disediakan oleh alam. Kemudian contoh
lainnya adalah ditemukannya system drainase pada tahun 3000 SM di kebudayaan
bangsa Kreta, dan bangsa Minoans. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan dan
pengetahuan serta teknologi sangat berpengaruh terhadap kesehatan.
C. PERKEMBANGAN
BUDAYA KESEHATAN MANUSIA
Budaya
adalah hasil cipta, karya, dan karsa manusia. Budaya lahir akibat adanya
interaksi dan pemikiran manusia. Manusia akan selalu berkembang seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka hasilkan. Budaya
manusia pun juga akan ikut berkembang dan berubah dari waktu ke waktu. Hal yang
sama terjadi budaya kesehatan yang ada di masyarakat. Budaya
kesehatan akan mengalami perubahan. Dengan kemajuan ilmu pengethuan yang pesat
dan teknologi yang semakin canggih, budaya kesehatan di masa lalu berbeda
dengan kebudayaan kesehatan di masa sekarang dan mendatang.
Salah
satu contoh budaya kesehatan adalah tentang cara menjaga kesehatan personal,
seperti mandi, keramas, atau sikat gigi. Pada zaman dahulu sebelum
ditemukannya formula untuk membuat sabun oleh Al-Razi, kimiawan Persia,
manusia di berbagai daerah di belahan bumi ini memiliki cara yang berbeda dalam
membersihkan badan. Penggunaan yang lazim pada masa itu diantaranya
adalah minyak, abu, atau batu apung sesuai dengan kebudayaan mereka.
Masyarakat
Mesir Kuno melakukan ritual mandi dengan menggunakan kombinasi minyak
hewani dan nabati ditambah garam alkali. Ini adalah bahan pengganti sabun.
Ramuan ini pun berfungsi untuk menyembuhkan penyakit kulit sekaligus untuk
membersihkan. Orang Yunani Kuno mandi untuk alasan kecantikan dan tidak
menggunakan sabun. Mereka membersihkan tubuh dengan menggunakan balok lilin,
pasir, batu apung dan abu. Mereka juga mengoleskan tubuh dengan minyak dan
kadang dicampur abu. Sedangkan orang Sunda kuno biasa menggunakan tanaman wangi
liar sebagai alat mandi mereka.
Ketika
peradaban Romawi mulai maju, penduduk jadi sering mandi. Tempat mandi Romawi
yang pertama sangat terkenal. Di pemandian yang dibangun tahun 312 SM itu
terdapat saluran air. Sejak saat itu mandi menjadi hal yang mewah dan populer.
Di
abad-ke 2 Masehi, dokter Yunani, Galen menganjurkan sabun untuk pengobatan dan
pembersih. Akhirnya, mandi dengan memnggunakan sabun menjadi sebuah kegiatan
rutin hingga saat ini.
Bukan
hanya cara mandi yang berbeda dari masa dahulu dan sekarang, tapi juga budaya
gosok gigi. Pada zaman dahulu masyarakat Jazirah Arab menggunakan kayu siwak
untuk menggosok gigi. Orang Roma menggunakan pecahan kaca halus sebagai bagian
dari pembersih mulut mereka. Sedangkan masyarakat Indonesia menggunakan halusan
genting dan bata. Namun saat ini manusia beralih menggunakan pasta gigi untuk
menggosok gigi. Begitu juga dengan shampoo yang secara luas digunakan. Dahulu,
secara luas masyarakat menggunakan merang untuk keramas.
Tidak
hanya tentang budaya kesehatan individu atau personal yang mengalami perubahan.
Budaya kesehatan masyarakat pun saat ini telah mengalami perubahan jika
dibandingkan dengan masa lalu. Dahulu masyarakat lebih ke arah paradigma sakit.
Namun saat ini seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat cenderung
berparadigma sehat dalam memaknai kesehatan mereka. Penilaian individu terhadap
status kesehatan merupakan salah satu faktor yang menentukan perilakunya, yaitu
perilaku sakit jika mereka merasa sakit dan perilaku sehat jika mereka
menganggap sehat.
Perilaku
sakit yaitu segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh individu yang sedang
sakit agar memperoleh kesembuhan, contohnya mereka akan pergi ke pusat layanan
kesehatan jika sakit saja, karena mereka ingin sakitnya menjadi sembuh.
Sedangkan perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatannya, misalnya: pencegahan penyakit, personal
hygiene, penjagaan kebugaran dan mengkonsumsi makanan bergizi.
Masyarakat akan selalu menjaga kesehatannya agar tidak menjadi sakit.
Masyarakat menjadi rajin berolah raga, fitness, chek up ke pusat layanan
kesehatan, membudayakan cuci tangan menggunakan sabun, menghindari makanan
berkolesterol tinggi dan lain-lain.
Perkembangan
teknologi menjadi salah satu faktor perubahan budaya kesehatan dalam
masyarakat. Contohnya masyarakat dahulu saat persalinan minta bantuan oleh
dukun bayi dengan peralatan sederhana, namun saat ini masyarakat lebih banyak
yang ke bidan atau dokter kandungan dengan peralatan yang serba canggih. Bahkan
mereka bisa tahu bagaimana keadaan calon bayi mereka di dalam kandungan melalui
USG.
Saat
ini masyarakat lebih memaknai kesehatan. Banyaknya informasi kesehatan yang
diberikan melalui penyuluhan dan promosi kesehatan membuat masyarakat
mengetahui pentingnya kesehatan. Dengan kesehatan kita bisa melakukan berbagai
macam kegiatan yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Sekarang
pola pikir masyarakat kebanyakan lebih ke arah preventif terhadap adanya suatu penyakit.
Yaitu pola pikir bahwa mencegah datangnya penyakit itu lebih baik daripada
mengobati penyakit.
D. Macam-macam
Jenis Cabang Disiplin Ilmu Antropologi
1.
Antropologi
fisik
a. Paleontologi, yaitu ilmu yang mempelajari
tentang asal-usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil
b. Somatologi, yaitu ilmu yang mempelajari
keberagaman ras manusia dengan cirri-ciri fisik.
2.
Antropologi
budaya
a. Prehistori, yaitu ilmu yang mempelajari
sejarah penyebaran dan perkembangan budaya manusia mengenai tulisan
b. Etnolinguistik antrologi, yaitu ilmu yang
mempelajari suku-suku bangsa yang ada di dunia
c. Etnologi, yaitu ilmu yang mempelajari asas
kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa yang ada di dunia
d. Etnopsikologi, yaitu yang mempelajari
kepribadian bangsa seta peranan individu kepada bangsa dalam proses perubahan
adapt-istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi.
3.
Antorpologi
terapan, seperti antropologi politik, antropologi kesehatan, antropologi
ekonomi, dan sebagainya
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Antropologi
kesehatan mempelajari bagaimana kesehatan individu, formasi sosial yang lebih
luas dan lingkungan dipengaruhi oleh hubungan antara manusia dan spesies lain,
norma budaya dan institusi sosial, politik mikro dan makro, dan
globalisasi. Budaya memiliki kaitan yang erat dengan kesehatan. Hal ini
tidak lain karena pngertian budaya itu sendiri mencakup pengetahuan,
kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat dan kebiasaan. Ini
dikarenakan budaya bersifat dinamis sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan.
B.
SARAN
Sebagai
individu yang berperan dalam kesehatan masyarakat, pemahaman akan budaya
masyarakat sangat penting dalam memecahkan permasalahan kesehatan masyarakat.
DAFTAR
PUSTAKA
Almatsier, Sunita. (2004). Prinsip Dasar Ilmu
Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Anderson, Foster. (2006). Antropologi
Kesehatan. Jakarta : UI Press.
FKM UI. (2007). Gizi dan Kesehatan
Masyarakat. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Post a Comment