Makalah Budaya Demokrasi Menuju Masyarakat Madani
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Berbagai
upaya perlu dilakukan dalam mewujudkan masyarakat madani, baik yang berjangka
pendek maupun yang berjangka panjang. Untuk yang berjangka pendek dilaksanakan
dengan memilih dan menempatkan pemimpin-pemimpin yang dapat dipercaya, dapat
diterima, dan dapat memimpin. Untuk jangka panjang
antara lain adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang berwawasan dan
berperilaku madani melalui perspektif pendidikan. Perspektif pendidikan penting
untuk dikaji mengingat konsep masyarakat madani sebenarnya merupakan bagian
dari tujuan pendidikan nasional.
Kecenderungan
sakralisasi berpotensi untuk menambah derajat kefrustasian yang lebih mendalam
dalam masyarakat bila terjadi kesenjangan antara realisasi dengan harapan.
Padahal kemungkinan untuk itu sangat terbuka, antara lain, kesalahan mengkonsepsi
dan juga pada saat manarik parameter-parameter ketercapaian. Saat ini gejala
itu sudah ada, sehingga kebutuhan membuat wacana ini lebih terbuka menjadi
sangat penting dalam kerangka pendidikan politik bagi masyarakat luas.
Artikel ini
mencoba mengungkapkan sejarah pemikiran, karakterstik, serta
perkembangan masyarakat madani di Indonesia yang mungkin dapat
dijadikan masukan dalam mewujudkan masyarakat madani melalui perspektif
pendidikan. Tentu saja pemikiran konseptual ini akan dapat dioperasionalisasikan
di lapangan secara kontekstual setelah melalui pengujian empiris yang
profesional.
Melihat
kenyataan di atas, maka kelompok kami mengambil inisiatif untuk mengambil judul
makalah ini dengan Mewujudkan Masyarakat Madani di Indonesia dan oleh karena
itu kami tertarik untuk membahas dan mengkaji perkembangan masyarakat madani di
Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan kami bahas pada
makalah ini antara lain adalah:
1.
Apakah pengertian masyarakat madani?
2.
seperti apa budaya demokrasi menuju
masyarakat madani ?
3.
apa manfaat masyarakat madani
?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Masyarakat Madani
Pengertian
Masyarakat Madani menurut para ahli:
1. Mun’im
(1994) mendefinisikan istilah civil society sebagai
seperangkat gagasan etis yang mengejawantah dalam berbagai tatanan sosial, dan
yang paling penting dari gagasan ini adalah usahanya untuk menyelaraskan
berbagai konflik kepentingan antarindividu, masyarakat, dan negara.
2. Mahasin
(1995) menyatakan bahwa masyarakat madani sebagai terjemahan bahasa
Inggris, civil society. Kata civil society sebenarnya
berasal dari bahasa Latin yaitu civitas dei yang artinya kota
Illahi dan society yang berarti masyarakat. Dari kata civil akhirnya
membentuk kata civilization yang berarti peradaban. Oleh
sebab itu, kata civil society dapat diartikan sebagai
komunitas masyarakat kota yakni masyarakat yang telah berperadaban maju.
3. Istilah
madani menurut Munawir (1997) sebenarnya berasal dari bahasa Arab,madaniy. Kata madaniy berakar
dari kata kerja madana yang berarti mendiami, tinggal, atau
membangun. Kemudian berubah istilah menjadimadaniy yang artinya
beradab, orang kota, orang sipil, dan yang bersifat sipil atau perdata. Dengan
demikian, istilah madaniy dalam bahasa Arabnya mempunyai
banyak arti. Konsep masyarakat madani menurut Madjid (1997) kerapkali dipandang
telah berjasa dalam menghadapi rancangan kekuasaan otoriter dan menentang
pemerintahan yang sewenang-wenang di Amerika Latin, Eropa Selatan, dan Eropa
Timur.
4. Hall
(1998) mengemukakan bahwa masyarakat madani identik dengan civil
society, artinya suatu ide, angan-angan, bayangan, cita-cita suatu komunitas
yang dapat terjewantahkan dalam kehidupan sosial. Pada masyarakat madani pelaku
social akan bepegang teguh pada peradaban dan kemanusiaan.
Intinya, berdasarkan
pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat madani pada
prinsipnya memiliki multimakna atau bermakna ganda yaitu: demokratis,
menjunjung tinggi etika dan moralitas, transparansi,
toleransi, berpotensi, aspiratif, bermotivasi, berpartisipasi,
konsistensi, memiliki perbandingan, komparasi, mampu berkoordinasi,
simplifikasi, sinkronisasi, integrasi, mengakui emansipasi, dan hak asasi,
sederhana, namun yang paling dominan adalah masyarakat yang demokratis.
Dengan mengetahui makna madani, maka istilah masyarakat madani secara mudah
dapat difahami sebagai masyarakat yang beradab, masyarakat sipil, dan
masyarakat yang tinggal di suatu kota atau berfaham masyarakat kota yang
pluralistik.
B.
Budaya Demokrasi Menuju Masyarakat Madani
Bangsa yang berkomitmen
hidup dalam sistem politik demokrasi perlu terus- menerus mengembangkan budaya
demokrasi. Budaya demokrasi adalah pola-pola sikap dan orientasi politik yang
bersumber pada nilai-nilai dasar demokrasi.
Di
negara demokrasi penting dibangun civil society. Civil
Society merupakan lahan tempat tumbuh kembangnya demokrasi. Sebab, tidak
ada demokrasi tanpa civil society.
Istilah civil Society atau lebih dikenal dengan nama masyarakat madani, di Indonesia menjadi perhatian kalangan pada tahun 1990-an, pada masa-masa akhir pemerintahan Orde Baru. Sebab pada masa itu muncul keinginan untuk mengakhiri pemerintahan Orde Baru yang otoriter dan membangun sistem politik baru yang lebih demokratis.
Istilah civil Society atau lebih dikenal dengan nama masyarakat madani, di Indonesia menjadi perhatian kalangan pada tahun 1990-an, pada masa-masa akhir pemerintahan Orde Baru. Sebab pada masa itu muncul keinginan untuk mengakhiri pemerintahan Orde Baru yang otoriter dan membangun sistem politik baru yang lebih demokratis.
Sejak
berdiri sebagai negara baru, Indonesia berkeinginan mendirikan sistem politik
demokrasi. Semua konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia menyatakan
(secara eksplisit ataupun implisit) bahwa negara Indonesia
adalah negara demokrasi. Namun demikian, upaya untuk mewujudkan negara demokrasi
itu mengalami pasang surut.
Pasang
surut demokrasi di Indonesia setidaknya bisa dipilah menjadi empat masa,
sebagai berikut :
·
Demokrasi
liberal/parlementer (17 Agustus 1950- 5 Juli 1959)
·
Demokrasi terpimpin ( 5
Juli 1959 – 1965 )
·
Demokrasi Orde
Baru (1966- 1998 )
·
Demokrasi ala Reformasi
( 1998 – sekarang )
Civil
society atau lebih akrab dengan sebutan masyarakat madani adalah masyarakat
yang mampu mengisi ruang publik, sehingga dapat
menjadi bumper kekuasaan negara yang berlebihan. Dalam pemikiran
reformasi ini masyarakat madani merupakan tujuan pemerintah
demokrasi.Masyarakat madani merupakan jaringan berbagai organisasi
kemasyarakatan. Ciri masyarakat madani adalah
· lahir
atas prakarsa warga masyarakat sendiri, bukan penguasa negara
· keanggotaannya
bersifat sukarela atau atas dasar kesadaran masing-masing anggota
· mencukupi
kebutuhannya sendiri (swadaya), paling tidak untuk sebagian, sehingga tidak
tergantung pada bantuan pemerintah
mandiri
terhadap kekuasaan negara, sehingga bisa mengawasi kekuasaan negara
· tunduk
pada aturan hukum yang berlaku dan nilai-nilai bersama.
Untuk
menuju masyarakat madani perlu proses demokrasi
(demokratisasi). Demokratisasi merupakan proses pendemokrasian segenap
rakyat untuk berpartisipasi dalam pemerintahan melalui wakil-wakilnya atau berbagai
bidang kegiatan (masyarakat/negara) secara langsung atau tidak langsung dengan
mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi warga
negara.
Prasyarat
untuk menuju masyarakat madani setelah tumbuh dan berkembangnya demokratisasi
yaitu:
· Kualitas
sumber daya manusia yang tinggi, hal ini tercermin dari kemampuan
profesionalitasnya untuk memenuhi kebutuhan pembanguna dan penguasaan iptek
· Kemampuan
memenuhi kebutuhan pokok sendiri (swasembada), hal ini dimaksudkan agar masyarakat
mampu mengatasi ketergantungan agar tidak menimbulkan kerawanan terutama di
bidang politik
· Semakin
mantap mengandalkan sumber-sumber pembiayaan dalam negeri (berbasis kerakyatan)
, ketergantungan kepada sumber pembiayaan (hutang luar negeri ) semakin
kecil atau tidak sama sekali.
· Memiliki
kemampuan ekonomi, sistem politik, sosial budaya dan Hankam yang dinamis,
tangguh dan berwawasan global
Banyak
kendala yang dihadapi bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani dari
berbagai aspek kehidupan;
· aspek
agama, mengubah sikap dan perilaku manusia ke arah kehidupan yang religius.
· aspek
politik, masih rendahnya keteladanan elit politik dalam perilaku politiknya
· aspek
sosial budaya, kuatnya pengaruh budaya asing
· aspek
hukum, masih rendahnya keteladanan aparat penegak hukum.
Upaya
untuk mengatasi bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani
·
Mengoptimalkan fungsi
sarana ibadah sebagai sarana meningkatkan keimanan dan ketagwaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa
·
Mengoptimalkan peranan
keluarga sebagai sarana akses penanaman nilai-nilai kepribadian sejak dini,
karenajati diri anak mulai terbentuk
·
Membudayakan kehidupan
politik yang berdasarkan hukum yang berlaku
·
Meningkatkan kesadaran
warga masyarakat, aparat negara dan elit politik pentingnya keteladanan
·
Meningkatkan
kemandirian dan swasembada ekonomi rakyat
·
Meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam memajukan ekonomi dengan cara memberdayakan
ekonomi rakyat yang bertumpu pada ekonomi kerakyatan
·
Meningkatkan kehidupan
berbangsa dan bernegara yang bersih dari KKN
·
Menegakan keadilan dan
menjamin HAM.
Penanaman
nilai-nilai budaya demokrasi perlu ditanamkan sejak dini. Nilai-nilai demokrasi
itu antara lain : kebebasan, persamaan,solidaritas, kerja sama,
keberagaman.tolerensi, kejujuran, penalaran, keberadaban, kemanfaatan, dan
konsensus
Kebebasan adalah
keleluasaan untuk membuat pilihan atas berbagai alternatif yang tersedia,
berikut keleluasaan untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat penuh tanggung
jawab tanpa adanya tekanan dari pihak lain.
Persamaan,
pandangan bahwa manusia memiliki persamaan hak dan kewajiban dalam negara.
Dalam hal ini memiliki makna tidak ada pengistimewaan perlakuan terhadap sesama
warga negara.
Solidaritas,
kesediaan atas dasar kesukarelaan untuk memperhatikan kepentingan pihak lain
dan bekerjasama dengan pihak lain.
Kerja
sama adalah kesediaan untuk menyumbangkan kemampuan terbaik yang dimiliki
serta saling membantu dalam mengatasi berbagai masalah demi terwujudnya
kebaikan bersama.
Keberagaman,
adalah kesediaan untuk menghargai keberbedaaan atau kebhinekaan yang ada dalam
kehidupan bersama (ras, agama, suku, budaya, keyakinan politik, golongan )
Tolerensi,
kesediaan untuk menenggang (menahan diri, bersikap sabar, membiarkan, berhati
lapang) terhadap pihak lain yang memiliki sikap hidup berbeda atau bahkan
bertentangan dengan sikap yang dianut sendiri
Kejujuran,
kesediaan menyatakan kebenaran terutama dalam berrelasi dengan pihak lain dalam
kehidupan bersama
Penalaran, kesediaan
untuk mengedepankan rasional terhadap berbagai hal yang terkait dengan
kehidupan bersama
Keberadaban,
kesediaaan untuk mengutamakan kesantunan sebagai bentuk nyata penghormatan
terhadap pihak lain dalam kehidupan bersama
Kemanfaatan,
kesediaan untuk senantiasa mempertimbangkan manfaat konkret bagi kehidupan
bersama
Konsensus,
kesediaan untuk selalu mencari titik temu di antara pandangan yang berbeda guna
nencari solusi untuk kebaikan bersama
C.
Manfaat Masyarakat Madani
Manfaat yang
diperoleh dengan terwujudnya masyarakat madani ialah terciptanya masyarakat
Indonesia yang demokratis sebagai salah satu tuntutan reformasi di dalam negeri
dan tekanan-tekanan politik dan ekonomi dari luar negeri. Di samping
itu, melalui masyarakat madani akan mendorong munculnya inovasi-inovasi
baru di bidang pendidikan. Selanjutnya, dengan terwujudnya masyarakat madani,
maka persoalan-persoalan besar bangsa Indonesia seperti: konflik-konflik suku,
agama, ras, etnik, golongan, kesenjangan sosial, kemiskinan, kebodohan,
ketidakadilan pembagian "kue bangsa" antara pusat dan daerah, saling
curiga serta ketidakharmonisan pergaulan antarwarga dan lain-lain yang selama
Orde Baru lebih banyak ditutup-tutupi, direkayasa dan dicarikan kambing
hitamnya itu diharapkan dapat diselesaikan secara arif,
terbuka, tuntas, dan melegakan semua pihak, suatu prakondisi untuk dapat
mewujudkan kesejahteraan lahir batin bagi seluruh rakyat. Dengan demikian,
kekhawatiran akan terjadinya disintegrasi bangsa dapat dicegah.
Guna
mewujudkan masyarakat madani dibutuhkan motivasi yang tinggi dan partisipasi
nyata dari individu sebagai anggota masyarakat. Hal ini intinya menyatakan
bahwa untuk mewujudkan masyarakat madani diperlukan proses dan waktu serta
dituntut komitmen masing-masing warganya untuk mereformasi diri secara total
dan selalu konsisten dan penuh kearifan dalam menyikapi konflik yang tak
terelakan. Tuntutan terhadap aspek ini sama pentingnya dengan kebutuhan akan
toleransi sebagai instrumen dasar lahirnya sebuah konsensus atau kompromi.
D.
Masyarakat Madani di Indonesia
Indonesia
memiliki tradisi kuat civil society (masyarakat madani) bahkan jauh sebelum
negara bangsa berdiri, masyarakat sipil telah berkembang pesat yang diwakili
oleh kiprah beragam organisasi sosial keagamaan dan pergerakan nasional dalam
dalam perjuangan merebut kemerdekaan, selain berperan sebagai organisasi
perjuangan penegakan HAM dan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial, organisasi
berbasis islam, seperti Serikat Islam (SI), Hahdlatul Ulama (NU) dan
Muhammadiyah, telah menunjukan kiprahnya sebagai komponen civil society yang
penting dalam sejarah perkembangan masyarakat sipil di Indonesia.
Terdapat
beberapa strategi yang ditawarkan kalangan ahli tentang bagaimana seharusnya
bangunan masyarakat madani bisa terwujud di Indonesia :
1. Pandangan
integrasi nasional dan politik. Pandangan ini menyatakan bahwa sistem demokrasi
tidak munkin berlangsung dalam kenyataan hidup sehari-hari dalam masyarakat
yang belum memiliki kesadaran dalam hidup berbangsa dan bernegara.
2. Pandangan
reformasi sistem politk demokrasi, yakni pandangan yang menekankan bahwa untuk
membangun demokrasi tidak usah terlalu bergantung pada pembangunan ekonomi,
dalam tataran ini, pembangunan institusi politik yang demokratis lebih
diutamakan oleh negara dibanding pembangunan ekonomi.
3. Paradigma
membangun masyarakat madani sebagai basis utama pembangunan demokrasi,
pandangan ini merupakan paradigma alternatif di antara dua pandangan yang
pertama yang dianggap gagal dalam pengembangan demokrasi, berbeda dengan dua
pandangan pertama, pandangan ini lebih menekankan proses pendidikan dan
penyadaran politik warga negara, khususnya kalangan kelas menengah.
Bersandar
pada tiga paradigma diatas, pengembangan demokrasi dan masyarakat madani
selayaknya tidak hanya bergantung pada salah satu pandangan tersebut,
sebaliknya untuk mewujudkan masyarakat madani yang seimbang dengan kekuatan
negara dibutuhkan gabungan strategi dan paradigma, setidaknya tiga paradigma
ini dapat dijadikan acuan dalam pengembangan demokrasi di masa transisi
sekarang melalui cara :
1. Memperluas
golongan menengah melalui pemberian kesempatan bagi kelas menengah untuk
berkembang menjadi kelompok masyarakat madani yang mandiri secara politik dan
ekonomi, dengan pandangan ini, negara harus menempatkan diri sebagai regulator
dan fasilitator bagi pengembangan ekonomi nasional, tantangan pasar bebas dan
demokrasi global mengharuskan negara mengurangi perannya sebagai aktor dominan
dalam proses pengembangan masyarakat madani yang tangguh.
2. Mereformasi
sistem politik demokratis melalui pemberdayaan lembaga-lembaga demokrasi yang
ada berjalan sesuai prinsip-prinsip demokrasi, sikap pemerintah untuk tidak
mencampuri atau mempengaruhi putusan hukum yang dilakukan oleh lembaga
yudikatif merupakan salah satu komponen penting dari pembangunan kemandirian
lembaga demokrasi.
3. Penyelenggaraan
pendidikan politik (pendidikan demokrasi) bagi warga negara secara keseluruhan.
Pendidikan politik yang dimaksud adalah pendidikan demokrasi yang dilakukan
secara terus-menerus melalui keterlibatan semua unsur masyarakat melalu prinsip
pendidikan demokratis, yakni pendidikan dari, oleh dan untuk warga negara.
Kondisi
Indonesia yang dilanda euforia demokrasi, semangat otonomi daerah dan derasnya
globalisasi membutuhkan masyarakat yang mempunyai kemauan dan kemampuan hidup
bersama dalam sikap saling menghargai, toleransi, dalam kemajemukan yang tidak
saling mengeksklusifkan terhadap berbagai suku, agama, bahasa, dan
adat yang berbeda. Kepedulian, kesantunan, dan setiakawan merupakan sikap
yang sekaligus menjadi prasarana yang diperlukan bangsa Indonesia.
Pengembangan
masyarakat madani di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari pengalaman sejarah
bangsa Indonesia sendiri. Kebudayaan, adat istiadat, pandangan hidup, kebisaan,
rasa sepenanggungan, cita-cita dan hasrat bersama sebagai warga dan sebagai
bangsa, tidak mungkin lepas dari lingkungan serta sejarahnya. Keunggulan bangsa
Indonesia, adalah berhasilnya proses akulturasi dan inkulturasi yang kritis dan
konstruktif. Pada saat ini, ada pertimbangan lain mengapa pengembangan
masyarakat madani secara khusus kita beri perhatian.
Untuk
membangun masyarakat madani di Indonesia, ada enam faktor harus
diperhatikan, yaitu:
1. Adanya
perbaikan di sektor ekonomi, dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat,
dan dapat mendukung kegiatan pemerintahan.
2. Tumbuhnya
intelektualitas dalam rangka membangun manusia yang memiliki komitmen untuk
independen.
3. Terjadinya
pergeseran budaya dari masyarakat yang berbudaya paternalistik menjadi budaya
yang lebih modern dan lebih independen.
4. Berkembangnya pluralisme dalam
kehidupan yang beragam.
5. Adanya partisipasi aktif dalam
menciptakan tata pamong yang baik.
6. Adanya keimanan dan ketakwaan kepada
Tuhan yang melandasi moral kehidupan.
Contoh Kasus:
Bila
masyarakat Indonesia tidak demokratis, maka Indonesia akan mendapat
tekanan-tekanan politik dari kaum reformis di dalam negeri. Di lain pihak, dari
luar negeri, Indonesia akan mendapat tekanan-tekanan politik dan ekonomi dari
PBB, Bank Dunia, IMF, dan negara-negara penganut faham demokratis. Sementara
ini, ekonomi kita masih sangat bergantung pada pinjaman Bank Dunia dan IMF.
Jika Bank Dunia dan IMF tidak memberikan bantuannya, maka ekonomi kita akan
semakin terpuruk di mata internasional. Jika ekonomi kita semakin terpuruk,
maka kerusuhan sosial akan semakin meningkat yang pada gilirannya membahayakan
stabilitas nasional dan dikhawatirkan akan terjadi disintegrasi bangsa. Di
samping itu, mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang khas sebagai unity dan diversity, maka
karakteristik masyarakat madani cocok diterapkan di Indonesia sehingga
persatuan dan kesatuan, toleransi umat beragama, persaudaraan, saling mengasihi
sesama umat, dan persamaan hak akan menjadi lebih terjamin. Secara ringkas
dapat dikatakan bahwa ciri utama masyarakat madani Indonesia adalah demokrasi
yang menjunjung tingi nilai-nilai kemanusiaan, masyarakat yang mempunyai faham
keagamaan yang berbeda-beda, penuh toleransi, menegakkan hukum dan peraturan
yang berlaku secara konsisten dan berbudaya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masyarakat
madani bermakna ganda yaitu suatu tatanan masyarakat yang menekankan pada
nilai-nilai: demokrasi, transparansi, toleransi, potensi, aspirasi, motivasi,
partisipasi, konsistensi, komparasi, koordinasi, simplifikasi, sinkronisasi,
integrasi, emansipasi, dan hak asasi. Namun, yang paling dominan adalah
masyarakat yang demokratis. Masyarakat madani merupakan sistem sosial yang
subur berdasarkan prinsip-prinsip moral yang menjamin kesimbangan antara
kebebasan individu dengan kestabila masyarakat, inisiatif ari individu dan
masyarakat akan berupa pemikiran, seni, pelaksanaan pemerintah yang berdasarkan
undang-undang dan bukan nafsu atau keinginan individu.
Masyarakat
madani memiliki karakteristik Free public sphere (ruang publik yang
bebas), Demokratisasi, Toleransi, Pluralisme, Keadilan sosial (social justice),
Partisipasi sosial, Supremasi hukum.
Perwujudan
masyarakat madani ditandai dengan karakteristik masyarakat madani, diantaranya
wilayah publik yang bebas, demokrasi, toleransi, kemajemukan dan keadilan sosial.
Strategi membangun masyarakat madani di indonesia dapat dilakukan dengan
integrasi nasional dan politik, reformasi sistem politik demokrasi,
pendidikan demokratisasi dan penyadaran politik.
A.
Saran
Kami
selaku penyusun sangat menyadari masih jauh dari sempurna dan tentunya banyak
sekali kekurangan dalam pembutan makalah ini.Hal ini disebabkan karena masih
terbatasnya kemampuan kami.
Oleh
karena itu, Kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun.Kami juga mengharapkan makalah ini sangat
bermanfaat untuk kami khususnya bagi pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
Azizi, A Qodri Abdillah. 2000.
Masyarakat madani Antara Cita dan Fakta: Kajian Historis-Normatif. Dalam Ismail
SM dan Abdullah Mukti, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Daliman, A. 1999. Reorientasi
Pendidikan Sejarah melalui Pendekatan Budaya Menuju Transformasi Masyarakat
Madani dan Integrasi Bangsa,Cakrawala Pendidikan. Edisi Khusus Mei
Th. XVIII No. 2.
Ismail SM. 2000. Signifikansi Peran
Pesantren dalam Pengembangan Masyarakat madani. Dalam Ismail SM dan Abdullah
Mukti, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Madjis, N. 1977. Dinamika Budaya
Pesisir dan Pedalaman: Menumbuhkan Masyarakat Madani, dalam HMI dan
KAHMI Menyongsong Perubahan Menghadapi Pergantian Zaman. Jakarta:
Majelis Nasional KAHMI.
Marzuki. 1999. Membangun Masyarakat
Madani melalui Pendidikan Islam Sebuah Refleksi Pendidikan Nasional, Cakrawala
Pendidikan. Edisi Khusus Mei Th. XVIII No. 2.
Rahardjo, D. 1997. Relevansi Iptek
Profetik dalam Pembangunan Masyarakat Madani, Academika, Vol.
01, Th. XV, halaman 17-24.
Suwardi, 1999. Demokratisasi
Pendidikan dalam Pengajaran Pragmatik Sastra Sebagai Wahana Penciptaan
"Masyarakat Madani" Cakrawala Pendidikan, Edisi
Khusus Mei. Th. XVIII, No. 2.
Klik Download Now untuk mendownload versi docx




