Makalah Resiko Sumber Daya Manusia
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada allah subhanawata”ala atas
terselesaikanya makalah yang berjudul, Resiko Sumber Daya Manusia”. Makalah ini
diajukan guna memenuhi tugas dari Dosen matakuliahManajemen Resiko.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Banda
Aceh, 12 April 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumberdaya manusia (SDM) merupakan aset terpenting dalam perusahaan
atau organisasi, terutama bagi perusahaan penyedia jasa. Semakin tinggi
komponen jasa yang ditawarkan perusahaan, semakin tinggi nilai dan peran SDM.
Perusahaan jasa sangat bergantung pada kualitas, kompetensi, dan profesionalisme
SDM perusahaan yang bersangkutan. Brand nama yang diusung perusahaan jasa
sangat ditentukan oleh kondisi kinerja mereka. Oleh karenanya, peran SDM perlu
dikelola dengan sentuhan manajemen resiko SDM.
Risiko yang ditimbulkan SDM perlu dikelola agar tidak menimbulkan
kerugian, baik finansial maupun reputasi, hal ini dilakukan untuk mengurangi
resiko merugikan nama perusahaan. Manajemen risiko merupakan salah satu cara
untuk mengatasi hal itu. Karena manajemen risiko merupakan proses pengukuran atau
penilaian serta memerlukan seni untuk mengembangkan strategi pengelolaannya,
misalnya risiko itu dipindahkan kepada pihak lain, mengurangi efek negatif dari
risiko, dan lain-lain. Pada model pendekatan tradisional, risiko yang
ditimbulkan oleh SDM hanya berkisar pada kematian, tuntutan hukum, dan upah).
Agar tidak menimbulkan risiko, maka SDM perlu dikelola secara profesional,
yaitu dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang ada dalam manajemen SDM.
1.2. Rumusan Masalah
a.
Pengertian
Resiko
b.
Definisi
Manajemen Resiko
c.
Resiko
Sumber Daya Manusia dan pekerja Inti
d.
Resiko
Keselamatan dan kesehatan Kerja
e.
Resiko
Kejahatan
f.
Cara
Penangana Resiko SDM
1.3. Tujuan
a.
Memahami resiko
lemahnya manajemen sumber daya manusia dan pekerjaan inti.
b.
Memahami
cara mengatasi Resiko kesehatan dan keselamatan kerja.
c.
Memahami
cara mengatasi Resiko kejahatan
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengetian resiko
Lebih jauh dari G. Siegel dan Jae K. Shim menjelaskan analisa
resiko disatukan dengan keputusan keuangan dan investasi. Sementara itu David
K. Eiteman. Athur I. Stonehil Dan Michael H. interest rate bases for asosiated
assets and liabilities.
Risiko menurut Sumarjino (2004:23) adalah titik imbas dari suatu
kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh seseorang atau suatu perusahaan. Risiko
biasanya terjadi apabila usaha yang kita jalankan telah melewati suatu
kesalahan yang fatal sehingga menyebabkan suatu risiko yang harus kita hadapi.
Risiko yang dimaksud adalah dampak yang akan terjadi apabila melakukan
suatu usaha. Bentuk risiko yang terjadi dapat berupa risiko yang
disengaja maupun risiko yang tidak disengaja. Risiko-risiko yang disebabkan
oleh manajemen akan berakibat pada buruknya aspek sumber daya manusia
dalam perusahaan.
Pengertian risiko menurut Anoraga :
a.
Risiko
adalah kemungkinan kerugian peluang, kerugian biasanya digunakan untuk
menunjukkan keadaan yang memiliki suatu keterbukaan terhadap kerugian atau
suatu kemungkinan kerugian.
b.
Risiko
adalah ketidak pastian, yaitu adanya risiko karena adanya kepastian
c.
Risiko
merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapakan, yaitu
penyimpangan relatif merupakan suatu pernyataan ketidak pastian secara
statistik.
d.
Risiko
adalah probabilitas sesuai hasil berbada dari hasil yang diharapkan yaitu bahwa
risiko bukan probabilitas dari suatu kejadian tunggal, tetapi beberapa hasil,
yang berbada dari yang diharapkan.
Menurut Darmawi risiko dapat dikatakan merupakan akibat (atau
penyimpangan realisasi sari rencana) yang mungkin terjadi secara tak
terduga.Manajemen risiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui menganalisis
serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk
memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih baik menurut Anoraga.
Risiko menurut Sadikin adalah tanggungan atau efek yang
ditimbulkan dalam suatu kegiatan yang bersifat personal yang timbul baik dengan
adanya pengaruh dari luar maupun dari dalam kegiatan tersebut. Beberapa
perusahaan menghadapi risiko-risiko strategis dalam hal kurangnya persiapan
untuk suksesi (pergantian pimpinan).
Perusahaan keluarga kadang-kadang sulituntuk menentukan
bagaimana mengendalikan perusahaan di masa depan karena sulit untuk
memilih siapa yang akan memimpin perusahaan. Pilihannya apakah pada
seorang anggota keluarga yang profesional tetapi masih berusia muda,
atau mereka yang sudah cukup dewasa tetapi amatir, atau
diserahkan kepada orang luar yang profesional dan matang usianya.
Menurut Basyaib (2007) risiko didefinisikan sebagai peluang
terjadinya hasil yang tidak diinginkan sehingga risiko hanya terkait dengan
situasi yang memungkinkan munculnya hasil negatif serta berkaitan dengan
kemampuan memperkirakan terjadinya hasil negatif tadi.
Manajemen risiko adalah sebuah disiplin pengelolaan yang
tujuannya adalah untuk memproteksi asset dan laba sebuah organisasi dengan
mengurangi potensi kerugian sebelum hal tersebut terjadi, dan pembiayaan
melalui asuransi atau cara lain atas kemungkinan rugi besar karena bencana
alam, keteledoran manusia, atau karena keputusan pengadilan (Wiliam T.
Thornhill dalam Robert Tampubolon, 2006). Manajemen risiko adalah suatu
pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman;
suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk penilaian risiko,
pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko
dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya.
Manajemen risiko adalah suatu sistem pengawasan risiko, dan
perlindungan harta benda, hak milik, dan keuntungan badan usaha atau perorangan
atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu risiko, dimana
ketidakpastian ini dihubungan dengan penghasilan perusahaan, arus keluar masuk
uang, dan harta benda yang telah ada atau yang dibutuhkan di masa datang
(Silalahi dalam Husein Umar, 2008)
2.2 Definisi Manajemen Resiko
a.
Manajemen
risiko adalah sebuah disiplin pengelolaan yang tujuannya adalah untuk
memproteksi asset dan laba sebuah organisasi dengan mengurangi potensi kerugian
sebelum hal tersebut terjadi, dan pembiayaan melalui asuransi atau cara lain
atas kemungkinan rugi besar karena bencana alam, keteledoran manusia, atau
karena keputusan pengadilan (Wiliam T. Thornhill dalam Robert Tampubolon,
2006).
b.
Manajemen
risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman;
suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk penilaian risiko,
pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko
dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya (wikipedia).
c.
Manajemen
risiko adalah suatu sistem pengawasan risiko, dan perlindungan harta
benda, hak milik, dan keuntungan badan usaha atau perorangan atas kemungkinan
timbulnya kerugian karena adanya suatu risiko, dimana ketidakpastian ini
dihubungan dengan penghasilan perusahaan, arus keluar masuk uang, dan harta
benda yang telah ada atau yang dibutuhkan di masa datang (Silalahi dalam Husein
Umar, 2008).
Manajemen adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana
suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang
aada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komperehensif dan
sistematis.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa resiko
adalah penyimpangan rencana yang telah di buat tanpa dibuat atau di duga
sebelumnya.
2.3 Manfaat Manajemen Risiko
Manfaat yang diperoleh dengan menerapkan manajemen resiko antara
lain (Mok et al., 1996):
a.
Berguna
untuk mengambil keputusan dalam menangani masalah-masalah yang rumit.
c.
Memberikan
pendapat dan intuisi dalam pembuatan keputusan yang dihasilkan dalam cara yang
benar.
d.
Memungkinkan
bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi resiko dan ketidakpastian dalam
keadaan yang nyata
e.
Memungkinkan
bagi para pembuat keputusan untuk memutuskan berapa banyak informasi yang
dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah.
f.
Meningkatkan
pendekatan sistematis dan logika untuk membuat keputusan.
g.
Menyediakan
pedoman untuk membantu perumusan masalah.
h.
Memungkinkan
analisa yang cermat dari pilihan-pilihan alternatif.
Menurut Darmawi, manfaat manajemen risiko yang diberikan terhadap
perusahaan dapat dibagi dalam 5 (lima) kategori utama yaitu:
a.
Manajemen
risiko mungkin dapat mencegah perusahaan dari kegagalan.
b.
Manajemen
risiko menunjang secara langsung peningkatan laba.
c.
Manajemen
risiko dapat memberikan laba secara tidak langsung.
d.
Adanya
ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya perlindungan
terhadap risiko murni, merupakan harta non material bagi perusahaan
e.
Manajemen
risiko melindungi perusahaan dari risiko murni, dan karena kreditur pelanggan
dan pemasok lebih menyukai perusahaan yang dilindungi maka secara tidak
langsung menolong meningkatkan public image.
Manajemen Sumberdaya Manusia adalah suatu perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan atas pengadaan, pengembangan,
kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja, dengan
maksud untuk mencapai tujuan organaisasi perusahaan secara terpadu (Umar,
Husein. 1997). Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Sumberdaya Manusia
adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif
dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat
Manajemen sumberdaya manusia menurut Griffin (2004) adalah rangkaian
aktivitas organisasi yang diarahkan untuk menarik, mengembangkan dan
mempertahankan tenaga kerja yang efektif.
2.3 Fungsi Manajemen Sumberdaya Manusia
Manajemen Sumberdaya Manusia terdiri dari dua fungsi, yaitu fungsi
manajemen dan fungsi operasional .
Fungsi Manajemen terdiri atas:
Fungsi Manajemen
|
Fungsi Operasional
|
1. Fungsi
Perencanaan
2. Fungsi
Pengorganisasian
3. Fungsi
Pengarahan
4. Fungsi
Pengkoordinasian
5. Fungsi
Pengontrolan/Pengawasan
|
1. Fungsi
Pengadaan
2. Fungsi
Pengembangan
3. Fungsi Pemberi
Kompensasi
4. Fungsi
Integrasi
5. Fungsi
Pemeliharaan
|
2.4 Peranan Sumberdaya Manusia
Menurut Arifin dan Fauzi (2007) peranan manajemen sumberdaya
manusia adalah mengatur dan menetapkan program kepegawaian yang meliputi
hal-hal sebagai berikut:
a.
Menetapkan
jumlah, kualitas dan penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan
perusahaan.
b.
Melakukan
rekurtmen karyawan, seleksi dan penempatan pegawai sesuai kualifikasi pegawai
yang dibutuhkan perusahaan.
c.
Menetapkan
program kesejahteraan, pengembangan, promosi dan pemutusan hubungan kerja.
d.
Membuat
perkiraan kebutuhan pegawai di masa yang akan datang.
e.
Memperkirakan
kondisi ekonomi pada umumnya dan perkembangan perusahaan pada khususnya.
f.
Senantiasa
memantau perkembangan undang-undang ketenagakerjaan dari waktu ke waktu
khususnya yang berkaitan dengan masalah gaji/upah atau kompensasi terhadap
pegawai.
g.
Memberikan
kesempatan karyawan dal hal pendidikan, latihan dan penilaian prestasi kerja
karyawan.
h.
Mengatur
mutasi karyawan.
i.
Mengatur
pensiun, pemutusan hubungan kerja beserta perhitungan pesangon yang menjadi hak
karyawan.
2.5 Resiko lemahnya sumberdaya manusia dan pekerja inti.
Resiko sumberdaya yang dikemukakan oleh tanjung, bahwa dalam
kegiatan suatu usaha apabila ada resiko sumberdaya yang dihadapi maka dapat
diwaspadai oleh perusahaan tersebut dengan pengendalian unit sumberdaya manusia
menurut fungsinya serta kaitannya dengan resiko atau pelanggaran tersebut
diberikan sehingga terjadi pemberian sanksi oleh pihak perusahaan dari
pelanggar.
Resiko
ketenaga kerjaan manajer hitt, et all ialah resiko kehilangan
pekerjaan, kehilangan konfensasi atau hilangnya reputasi manajerial. Menurut
Siagian (2001:25) imbalan nonfinansial bagi karyawan adalah untuk memuaskan
kebutuhan psikologis dan status karyawan. Termasuk dalam hal ini adalah
kendaran dinas pribadi, pengemudi, tempat parker khusus di pelataran parker,
makan siang atas biaya perusahaan dan sekertaris pribadi.
Menurut Umar beberapa perusahaan sangat bergantung kepada pegawai
utama atau para pekerja senior atau anggota direksi. Jika para pekerja
inti/senior ingin pindah ke perusahaan pesaing maka jelas perusahaan dalam
resiko besar, seperti pemberian informasi, pencurian rencana strategis
perusahaan dan membujuk konsumen untuk pindah ke perusahaan pesaing. Berdasarkan
pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa resiko Sumberdaya manusia
adalah masalah yang ditimbulkan oleh tenaga kerja sehingga berdampak negative
terhadap perusahaan.
Kemungkinan kejadian risiko yang berkaitan dengan kondisi SDM
terdiri dari: kemungkinan rendahnya tingkat kesehatan, kemungkinan tingkat
kematian, dan pengaruh usia.
a.
Rendahnya
Tingkat Kesehatan
Rendahnya
tingkat kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sebagai contoh tingkat
kesehatan dipengaruhi oleh kondisi atau kebersihan kerja. Selain kondisi keja,
rendahnya tingkat kesehatan juga dipengaruhi oleh suasana kerja. Kondisi
kesehatan yang paling buruk adalah kalau karyawan sampai mengalami kecelakaan
sampai cacat. Semakin tinggi tingkat kecelakaan dan tingkat cacat, semakin
buruk pengelolaan SDM di perusahaan yang bersangkutan.Rendahnya tingkat
kesehatan juga bisa diindikasikan oleh akses ke pusat kesehatan. Oleh karena
itu, banyak perusahaan mengembangkan klinik untuk mempermudah karyawan untuk
mendapat perawatan. Harapannya, pengawasan dan penanggulangan masalah kesehatan
dapat dilakukan dengan cepat dan efisien.
b.
Tingkat
Kematian
Tingkat
kematian SDM tidak selalu dikaitkan dengan kondisi perusahaan tertentu. Tingkat
kematian terkait dengan tingkat kesehatan secara nasional.
c.
Pengaruh
Usia
Usia SDM antara
30 sampai 45 tahun dianggap sebagai usia paling
produktif. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan stamina dan fisik sangat
tergantung pada usia. Berbeda dengan pekerjaan yang menuntut mental, pemikiran,
dan pengalaman, justru semakin banyak usia semakin baik.
d.
Sistem
dan Sarana
Pemenuhan
kebutuhan berdampak pada dua hal: peningkatan motivasi dan peningkatan
kepuasan. Sistem dan sarana yang berhasil meningkatkan motivasi adalah sistem
dan sarana yang bisa meningkatkan produktivitas karyawan. Peningkatan kepuasan
menyebabkan karyawan tidak mengeluh, tidak keluar kerja, tidak mangkir, tetapi
tidak diimbangi dengan peningkatan kerja. Sistem dan sarana yang baik juga
perlu untuk mendukung kelancaran pekerjaan.
e.
Risiko
Kecurangan
Risiko
kecurangan menurut yang dipaparkan oleh Halim (2005) adalah unsur dari risiko
murni yang dapat ditimbulkan dalam setiap usaha. Halim mengemukakan dari kedua
macam risiko yang merupakan bagian dari risiko murni adalah merupakan dampak
dari suatu usaha yang harus mendapatkan perhatian lebih karena dalam menjaga
agar tidak terjadinya risiko tersebut adalah sangat riskan.
Banyak
perusahaan mengatakan kecurangan merupakan kejadian yang lumrah dan alamiah di
perusahaan selama mental orang-orang dalam perusahaan masih menganggap uang
adalah tujuan bekerja, selain lemahnya moral. Kecurangan dapat diketahui
dengan cepat tetapi dapat juga memakan waktu yang lama. Menurut Umar ada lima
indikator kecurangan, yaitu:
1.
Jumlah
barang secara fisik didalam gudang memperlihatkan jumlah yang berkurang
jika dibandingkan dengan yang ada di catatan atau
komputer.
2.
Ada
karyawan yang terlihat menjadi kaya mendadak, dimana dia beralasan misalnya
karena kekayaan itu didapat dari judi atau lotere.
3.
Karyawan
yang jarang libur walaupun pada hari-hari libur resmi dimana karyawan lain
tidak ada dikantor.
4.
Bukti-bukti
yang melibatkan pemasok, misalnya hanya pemasok tertentu saja yang dilibatkan
dalam suatu proyek.
5.
Bukti-bukti
yang melibatkan konsumen, misalnya catatan tentang pemberian kredit yang
disamarkan.
Berdasarkan
pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa risiko kecurangan
adalah faktor kesalahan yang sengaja dilakukan oleh orang dari diluar
maupun dari dalam perusahaan tersebut.
f.
Resiko
Pekerja inti
Resiko yang
yang timbul yang ada pada bagian ini adalah jika perusahaan atau organisasi,
melakukan penyewaan atau meminta bantuan kepada organisasi lain untuk melakukan
pekerjaan initinya adalah organisasi tersebut akam kehilangan ciri khas apa yang
di hasilkan oleh organisasinya karena pekerjaan nya terlalu banyak di lakukan
oleh organisasi dari luar.
2.6 Beberapa upaya dalam menangani risiko SDM
Menghadapi risiko SDM, tentu saja perusahaan harus melakukan
upaya-upaya yang efektif, upaya-upaya tersebut antara lain :
a.
Memiliki
tim manajemen yang kuat
b.
Menyiapkan
SDM untuk suksesi
c.
Melarang
para eksekutif bekerja rangkap
d.
Sistem
insentif/penghargaan dan punishment yang efektif
e.
Menyiapkan job
description, job specification, performance appraisal yang baik
f.
Komunikasi
yang efektif antara pimpinan dengan bawahan
g.
Pelayanan
kesehatan dan sistem keselamatan kerja yang memadai.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dalam manajemen suberdaya manusia terdapat berbagai resiko. Jika
tidak ditangani dengan baik akan berdmapak negative pada perusahaan dan akan
menghambat kinerja perusahaan dalam melakukan kegiatan usahanya. Resiko yang
timbul baik itu perusahaan besar ataupun kecil dalam sumber daya manusia akan
selalu ada. Maka dari itu perlu dilakukan pengawasan yang benar–benar
terkontrol agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, baik itu resiko yang
timbul dari pihak perusahaan maupun resiko yang timbul dari pihak luar yang tak
terduga. Dan semua itu harus diperhitungkan terlebih dahulu supaya jika suatu
saat resiko itu terjadi, maka diharapkan resiko yang terjadi tidak terlalu
berpengaruh kepada kinerja perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Johar dan A. Fauzi. 2007. Aplikasi Excel dalam Aspek
Kuantitatif Manajemen Sumberdaya Manusia. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.
Darmawi, Herman. 1990. Manajemen Risiko, Rajawali
Pers. Jakarta.
Sadikin, 2002. Pengantar Bisnis, Edisi 1,
PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Halim, M. (http://www.google.sdm) Risiko Usaha Mandiri.
Basyaib, Fachmi. 2007. Manajemen Risiko. Grasindo.
Jakarta.

Post a Comment