ANGINA PECTORIS
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
DEFINISI
Angina pectoris adalah nyeri hebat yang berasal dari jantung
dan terjadi sebagai respon terhadap supalai oksigen yang tidak adequate ke
sel-sel miokardium. Nyeri angina dapat menyebar ke lengan kiri, ke punggung, ke
rahang, atau ke daerah abdomen (Corwin, 2009)
Angina pectoris ialah suatu sindrom klinis di mana pasien
mendapat serangan dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau terasa berat di
dada yang seringkali menjalar ke lengan kiri. Sakit dada tersebut biasanya
timbul pada waktu pasien melakukan suatu aktivitas dan segera hilang bila
pasien menghentikan aktivitasnya (Mansjoer dkk, 2007)
Angina pectoris adalah suatu syndrome yang ditandai dengan
rasa tidak enak yang berulang di dada dan daerah lain sekitarnya yang berkaitan
yang disebabkan oleh ischemia miokard tetapi tidak sampai terjadi nekrosis.
Rasa tidak enak tersebut sering kali digambarkan sebagai rasa tertekan, rasa
terjerat, rasa kemeng, rasa penuh, rasa terbakar,
rasa bengkak dan rasa seperti
sakit gigi. Rasa tidak enak tersebut biasanya berkisar 1 – 15 menit di daerah
retrosternal, tetapi dapat juga menjalar ke rahang, leher, bahu, punggung dan
lengan kiri. Walaupun jarang, kadang-kadang juga menjalar ke lengan kanan.
Kadang-kadang keluhannya dapat berupa cepat capai, sesak nafas pada saat
aktivitas, yang disebabkan oleh gangguan fungsi akibat ischemia
miokard. Penyakit angina pektoris ini juga disebut sebagai penyakit kejang
jantung. Penyakit ini timbul karena adanya penyempitan pembuluh koroner pada
jantung yang mengakibatkan jantung kehabisan tenaga pada saat kegiatan jantung
dipacu secara terus-menerus karena aktifitas fisik atau mental.
B.
ETIOLOGI
Angina pektoris dapat terjadi bila otot jantung memerlukan
asupan oksigen yang lebih pada waktu tertentu, misalnya pada saat bekerja,
makan, atau saat sedang mengalami stress. Jika pada jantung mengalami
penambahan beban kerja, tetapi supplai oksigen yang diterima sedikit, maka akan
menyebabkan rasa sakit pada jantung. Oksigen sangatlah diperlukan oleh sel
miokard untuk dapat mempertahankan fungsinya. Oksigen yang didapat dari proses
koroner untuk sel miokard ini, telah terpakai sebanyak 70 - 80 %, sehingga
wajar bila aliran koroner menjadi meningkat. Aliran darah koroner terutama
terjadi sewaktu diastole pada saat otot ventrikel dalam keadaan istirahat.
Faktor-
faktor yang mempengaruhi pemakaian oksigen pada jantung, adalah
1. Denyut Jantung
Apabila
denyut jantung bertambah cepat, maka kebutuhan oksigen tiap menitnya akan
bertambah.
2. Kontraktilitas
Dengan
bekerja, maka akan banyak mengeluarkan katekolamin (adrenalin dan nor
adrenalin) sehingga dapat meningkatkan kontraksi pada jantung.
3. Tekanan Sistolik Ventrikel Kiri
Makin
tinggi tekanan, maka akan semakin banyak pemakaian oksigen.
4. Ukuran Jantung
Jantung
yang besar, akan memerlukan oksigen yang banyak.
Faktor-faktor
penyebab lainnya, antara lain adalah :
1. Aterosklerosis
2. Denyut jantung yang terlalu cepat
3. Anemia berat
4. Kelainan pada katup jantung,
terutama aortic stenosis yang disebabkan oleh sedikitnya aliran darah ke katup
jantung.
5. Penebalan pada di dinding otot
jantung - hipertropi- dimana dapat terjadi pada penderita tekanan darah tinggi
sepanjang tahun
6. Spasme arteri koroner
C.
TANDANDAN GEJALA
Keluhan
nyeri dada sebelah kiri menjalar ke lengan kiri, bahu kiri, punggung kiri,
leher dan epigastrium. Nyeri seperti diremas, ditusuk, pasa, seperti ditindih
benda berat. Nyeri tak respon terhadap dapat disertai perassan mual, muntah,
sesak napas, pusing, keringat dingin, berdebar-debar, sinkope, pasien tampak
ketakutan.
Pemeriksaan dapat
normal, dapat ditemui suara gallop. Krepitasi basal merupakan tanda bendungan
paru. Takhikardi, kulit pucat, dingin, dan hipotensi ditemukan pada kasus yang
berat.
1.
Penderita mengeluh nyeri dada yang beragam bentuk dan lokasinya.
2.
Nyeri berawal sebagai rasa terhimpit, rasa terjepit atau rasa
terbakar yang menyebar ke lengan kiri bagian dalam dan kadang sampai ke pundak,
bahu dan leher kiri, bahkan dapat sampai ke kelingking kiri.
3.
Perasaan ini dapat pula menyebar ke pinggang, tenggorokan rahang
gigi dan ada juga yang sampaikan ke lengan kanan.
4.
Rasa tidak enak dapat juga dirasakan di ulu hati, tetapi jarang
terasa di daerah apeks kordis.
5.
Rasa nyeri dapat disertai beberapan atau salah satu gejala
berikut ini : berkeringat
dingin, mual dan muntah, rasa lemas, berdebar dan rasa akan pingsan (fainting).
dingin, mual dan muntah, rasa lemas, berdebar dan rasa akan pingsan (fainting).
6.
Biasanya angina timbul saat melakukan kegiatan fisik (angina
stabil).
7.
Serangan ini akan hilang bila penderita menghentikan kegiatan
fisik tersebut
dan beristirahat.
dan beristirahat.
8.
Serangan berlangsung hanya beberapa menit (1 – 5 menit) tetapi
bisa sampai lebih dari 20 menit.
9.
Nyeri angina sifatnya konstan. Bila terjadi perubahan misalnya
lama serangan bertambah, nyeri lebih hebat, ambang timbulnya seranganmenurun
atau serangan datang saat bangun tidur, maka gangguan ini perlu diwaspadai.
Perubahan ini mungkin merupakan tanda prainfark (angina tidak stabil).
10. Suatu bentuk ubahan
(variant) yang disebut angina Prinzmetal biasanya timbul saat penderita sedang
istirahat.
11. Angina dikatakan
bertambah berat apabila serangan berikutnya terjadi sesudah kerja fisik yang
lebih ringan, misalnya sesudah makan. Ini tergolong juga angina tidak stabil.
12. Pemeriksaan fisik
diluar serangan umumnya tidak menunjukkan kelainan yang berarti. Pada waktu
serangan, denyut jantung bertambah, tekanan darah meningkat dan di daerah
prekordium pukulan jantung terasa keras.
13. Pada auskultasi, suara
jantung terdengar jauh, bising sistolik terdengar pada pertengahan atau akhir
sistol dan terdengar bunyi keempat.
14. Biasanya didapatkan
faktor risiko: hipertensi, obesitas atau diabetes melitus
D.
PATOFISIOLOGI
Sakit dada pada angina pektoris
disebabkan karena timbulnya iskemia miokard atau karena suplai darah dan
oksigen ke miokard berkurang. Aliran darah berkurang karena penyempitan
pembuluh darah koroner (arteri koronaria). Penyempitan terjadi karena proses
ateroskleosis atau spasme pembuluh koroner atau kombinasi proses aterosklerosis
dan spasme.
Aterosklerosis dimulai ketika
kolesterol berlemak tertimbun di intima arteri besar. Timbunan ini, dinamakan
ateroma atau plak akan mengganggu absorbsi nutrient oleh sel-sel endotel yang
menyusun lapisan dinding dalam pembuluh darah dan menyumbat aliran darah karena
timbunan ini menonjol ke lumen pembuluh darah. Endotel pembuluh darah yang
terkena akan mengalami nekrotik dan menjadi jaringan parut, selanjutnya lumen
menjadi semakin sempit dan aliran darah terhambat. Pada lumen yang menyempit
dan berdinding kasar, akan cenderung terjadi pembentukan bekuan darah. Hal ini
menjelaskan bagaimana terjadinya koagulasi intravaskuler, diikuti oleh penyakit
tromboemboli, yang merupakan komplikasi tersering aterosklerosis.
Pada mulanya, suplai darah tersebut
walaupun berkurang masih cukup untuk memenuhi kebutuhan miokard pada waktu
istirahat, tetapi tidak cukup bila kebutuhan oksigen miokard meningkat seperti
pada waktu pasien melakukan aktivitaas fisik yang cukup berat. Pada saat beban
kerja suatu jaringan meningkat, kebutuhan oksigennya juga meningkat. Apabila
kebutuhan oksigen meningkat pada jantung yang sehat, arteri-arteri koroner akan
berdilatasi dan mengalirkan lebih banyak darah dan oksigen ke otot jantung.
Akan tetapi apabila arteri koroner mengalami kekakuan atau menyempit akibat
aterosklerosis dan tidak dapatberdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan
kebutuhan oksigen, dan terjadi iskemia(kekurangan suplai darah) miokardium dan
sel-sel miokardium mulai menggunakan glikolisis anaerob untuk memenuhi
kebutuhan energinya. Proses pembentukan energy ini sangat tidak efisien dan
menyebabkan pembentukan asam laktat. Asam laktat menurunkan pH miokardium dan
menyebabkan nyeri ang berkaitan dengan angina pectoris. Apabila kebutuhan
energy sel-sel jantung berkurang, suplai oksigen oksigen menjadi adekut dan
sel-sel otot kembali keproses fosforilasi oksidatif untuk membentuk energy.
Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan menghilangnya penimbunan asam
laktat, nyeri angina pectoris mereda.
E.
MANIFESTASI
KLINIS
1.
Angina
pectoris stabil.
i.
Muncul
ketika melakukan aktifitas berat
ii.
Biasanya
dapat diperkirakan dan rasa nyeri yang muncul biasanya sama dengan rasa nyeri
yang datang sebelumnya
iii.
Hilang
dalam waktu yang pendek sekitar 5 menit atau kurang
iv.
Hilang
dengan segera ketika anda beristirahat atau menggunakan pengobatan terhadap
angina
v.
Rasa
sakitnya dapat menyebar ke lengan, punggung atau area lain
vi.
Dapat
dipicu oleh tekanan mental atau stres.
2.
Angina
pectoris tidak stabil.
a. Angina yang baru pertama kali atau
angina stabil dengan karakteristik frekuensi berat dan lamanya meningkat.
b. Timbul waktu istirahat/kerja ringan.
c. Tidak dapat diperkirakan
d. Biasanya lebih parah dan hilang
dalam waktu yang lebih lama
e. Dapat tidak akan hilang saat
beristirahat ataupun pengobatan angina
f. EKG: Deviasi segment ST depresi atau
elevasi.
3.
Angina variant.
a. Angina yang terjadi spontan umumnya
waktu istirahat dan pada waktu aktifitas ringan. Biasanya terjadi karena spasme
arteri koroner
b. EKG deviasi segment ST depresi atau
elevasi yang timbul pada waktu serangan yang kemudian normal setelah serangan
selesai.
F.
DATA
PENUNJANG
Setiap penderita dengan gejala yang
mengarah pada angina harus dilakukan EKG 12 lead. Namun hasil EKG akan normal
pada 50 % dari penderita dengan angina pectoris. Depresi atau elevasi segmen ST
menguatkan kemungkinan adanya angina dan menunjukkan suatu ischemia pada beban
kerja yang rendah.
Foto thoraks pada penderita angina
pectoris biasanya normal. Foto thoraks lebih sering menunjukkan kelainan pada
penderita dengan riwayat infark miokard atau penderita dengan nyeri dada yang
bukan berasal dari jantung. Manfaat pemeriksaan foto thorak secara rutin pada
penderita angina masih dipertanyakan.
Uji latih beban dengan monitor EKG
merupakan prosedur yang sudah baku. Dari segi biaya, tes ini merupakan termurah
bila dibandingkan dengan tes echo. Untuk mendapatkan informasi yang optimal,
protocol harus disesuaikan untuk masing-masing penderita agar dapat mencapai
setidaknya 6 menit. Selama EKG, frekwensi, tekanan darah harus dimonitor dengan
baik dan direkam pada tiap tingkatan dan juga pada saat abnormallitas segmen
ST. metode yang dipakai pada uji beban yaitu dengan menggunakan treadmill dan
sepeda statis.
Interpretasi EKG uji latih beban
yang paling penting adalah adanya depresi dan elevasi segmen ST lebih dari 1
mm. Biasanya uji latih beban dihentikan bila mencapai 85% dari denyut jantung
maksimal berdasarkan umur, namun perlu diperhatikan adanya variabilitas yang
besar dari denyut jantung maksimal pada tiap individu. Indikasi absolute untuk
menghentikan uji beban adalah penurunan tekanan darah sistolik lebih dari 10
mmHg dari tekanan darah awal meskipun beban latihan naik jika diikuti tanda
ischemia yang lain : angina sedang sampai berat , ataxia yang meningkat,
kesadaran menurun, tanda-tanda penurunan perfusi seperti sianosis.
Pada penderita yang tidak bisa di
diagnosa dengan uji latih beban berdasarkan EKG, maka dilakukan uji latih beban
dengan pencitraan. Isotop yang biasa digunakan adalah thalium-210.
Tes uji latih ekokardiografi
dianalisa berdasarkan penilaian penebalan miokard pada saat uji latih
dibandingkan dengan saat istirahat. Gambaran ekokardiografi yang mendukung
adanya ischemia miokard adalah: penurunan gerakan dinding pada 1 atau lebih
segmen ventrikel kiri, berkurangnya ketebalan dinding saat sistol atau lebih
segmen pada saat uji latih beban, hiperkinesia kompensasi pada segmen dinding
yang berkaitan atau yang tidak ischemia.
Tindakan untuk angiografi koroner
diagnostic secara langsung pada penderita dengan nyeri dada yang diduga karena
ischemia miokard, dapat dilakukan jika ada kontra indikasi untuk test non
invasive.
Untuk pemeriksaan Laboratorium Yang
sering dilakukan adalah pemeriksaan enzim; CPK, SGOT atau LDH. Enzim
tersebut akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada angina
kadarnya masih normal. Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol
LDH dan LDL. Trigliserida perlu dilakukan untuk menemukan faktor resiko
seperti hyperlipidemia dan pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk
menemukan diabetes mellitus yang juga merupakan factor resiko bagi pasien
angina pectoris.
G.
KOMPLIKASI
1. Stable Angina Pectoris
Kebutuhan metabolik otot jantung dan energi tak dapat
dipenuhi karena terdapat stenosis menetap arteri koroner yang disebabkan oleh
proses aterosklerosis. Keluhan nyeri dada timbul bila melakukan suatu
pekerjaan. sesuai dengan berat ringannya pencetus dibagi atas beberapa
tingkatan :
a.
Selalu
timbul sesudah latihan berat.
b.
Timbul
sesudah latihan sedang ( jalan cepat 1/2 km)
c.
Timbul
waktu latihan ringan (jalan 100 m)
d.
Angina
timbul jika gerak badan ringan (jalan biasa)
Diagnosa
1.
Pemeriksaan
EKG
2.
Uji
latihan fisik (Exercise stress testing dengan atau tanpa pemeriksaan
radionuclide)
3.
Angiografi
koroner.
Terapi
1.
Menghilangkan
faktor pemberat
2.
Mengurangi
faktor resiko
3.
Sewaktu
serangan dapat dipakai
-
Penghambat
Beta
-
Antagonis
kalsium
-
Kombinasi
2. Unstable
Angina Pectoris
Disebabkam primer oleh kontraksi otot polos pembuluh koroner
sehingga mengakibatkan iskemia miokard. patogenesis spasme tersebut hingga kini
belum diketahui, kemungkinan tonus alphaadrenergik yang berlebihan (Histamin,
Katekolamin, Prostagglandin). Selain dari spame pembuluh koroner juga disebut
peranan dari agregasi trobosit. penderita ini mengalami nyeri dada terutama
waktu istirahat, sehingga terbangun pada waktu menjelang subuh. Manifestasi
paling sering dari spasme pembuluh koroner ialah variant (prinzmental).
Elektrokardiografi tanpa serangan nyeri dada biasanya normal
saja. Pada waktu serangan didapati segmen ST elevasi. Jangan dilakukan uji
latihan fisik pada penderita ini oleh karena dapat mencetuskan aritmia yang
berbahaya. Dengan cara pemeriksaan teknik nuklir kita dapat melihat adanya
iskemia saja ataupun sudah terjadi infark.
Terapi
1.
Inhibitor
trombosit: Pasien angina yang tidak stabil efektif terhadap aspirin selama
fase akut maupun kronis
2.
Antikoagulan: Heparin
dapat mencegah miokard infark dan mengurangi iskemia dan depresi ST segmen.
3.
Anti
trombotik: preparat yang paling banyak digunakan adalah aspirin dimana
dengan pemberian aspirin angka kematian dapat diturunkan sampai 25%. Disamping
itu aspirin dapat juga mencegah re-infark
4.
Nitrogliserin: hasilnya
masih kontroversi akan tetapi dapat diberikan intravena pada angina yang tidak
stabil disepakati untuk mencegah timbulnya angina
5.
Beta
blocker: Mengurangi kecepatan jantung, kontraksi miokard dan kebutuhan
oksigen oleh miokard. Efektif untuk mengurangi nyeri dada. Sebaiknya diberikan
intravenous dilanjutkan dengan beta blocker sampai dengan denyut jantung 60
x/menit
6.
Kalsium
Antagonis: Efektif sebagai vasodilatasi. Dalam hal ini yang banyak
digunakan adalah diltiazim juga menyebabkan pengurangan denyut jantung dan
verampamil. Tidak mengurangi infark akan tetapi dapat mengurangi serangan
angina. Yang banyak digaunakan adalah nifedipine, nikardipin yang biasa
dikombinasikan dengan beta blocker.
7.
Percutanous
Transluminal coronary angioplasty (PTCA) atau coronary by Pass Graff Surgery
(CBGS)
3. Infark miokard acut (IMA)
Gambaran Klinis:
Kebanyakan pasien dengan infark miokard akut mencari
pengobatan karena rasa sakit didada. Namun demikian ,gambaran klinis bisa
bervariasi dari pasien yang datang untuk melakukan pemeriksaan rutin, sampai
pada pasien yang merasa nyeri di substernal yang hebat dan secara cepat
berkembang menjadi syok dan eadem pulmonal, dan ada pula pasien yang baru saja
tampak sehat lalu tiba-tiba meninggal.
Serangan infark miokard biasanya akut, dengan rasa sakit
seperti angina,tetapi tidak seperti angina yang biasa, maka disini terdapat
rasa penekanan yang luar biasa pada dada atau perasaan akan datangnya kematian.
Bila pasien sebelumnya pernah mendapat serangan angina ,maka ia tabu bahwa
sesuatu yang berbeda dari serangan angina sebelumnya sedang berlangsung. Juga,
kebalikan dengan angina yang biasa, infark miokard akut terjadi sewaktu pasien
dalam keadaan istirahat ,sering pada jam-jam awal dipagi hari. Nitrogliserin
tidaklah mengurangkan rasa sakitnya yang bisa kemudian menghilang berkurang dan
bisa pula bertahan berjam-jam malahan berhari-hari. Nausea dan vomitus
merupakan penyerta rasa sakit tsb dan bisa hebat, terlebih-lebih apabila
diberikan martin untuk rasa sakitnya.
Bila diperiksa, pasien sering memperlihatkan wajah pucat
bagai abu dengan berkeringat , kulit yang dingin .walaupun bila tanda-tanda
klinis dari syok tidak dijumpai. Nadi biasanya cepat, kecuali bila ada
blok/hambatan AV yang komplit atau inkomplit. Dalam beberapa jam, kondisi
klinis pasien mulai membaik, tetapi demam sering berkembang. Suhu meninggi
untuk beberapa hari, sampai 102 derajat Fahrenheid atau lebih tinggi, dan
kemudian perlahan-lahan turun ,kembali normal pada akhir dari minggu pertama.
Pengobatan:
Sasaran pengobatan IMA pertama adalah menghilangkan rasa
sakit dan cemas. Kedua mencegah dan mengobati sedini mungkin komplikasi
(30-40%) yang serius seperti payah jantung, aritmia, thrombo-embolisme,
pericarditis, ruptur m. papillaris, aneurisma ventrikel, infark ventrikel
kanan, iskemia berulang dan kematian mendadak. Untuk sakit diberikan sulfas
morphin 2,5-10 mg IV.
Pethidin kurang efektif dibandingkan Morphin dan dapat
menyebabkan sinus tachycardia. Obat ini banyak dipakai pada infark inferior
dengan sakit dada dan sinus bradycardia. Dosis 25-50 mg dapat diulang sesudah
2-4 jam dengan perlahan-lahan .
Pada sakit dada dengan lMA terutama infark anterior dengan
sinus tachycardia dan tekanan darah sistolik di atas 100 - 100 mm Hg B-Blocker
dapat dipakai. Dosis kecil B-Blocker mulai dengan 1/2 - 5 mg Inderal. IV.
Dikatakan bahwa pemberian B-Blocker dalam 5 jam pertama bila tidak ada kontra
indikasi dapat mengurangi luasnya infark. Nitrat baik sublingual maupun
transdermal dapat dipakai bila sakit dada pada hari-hari pertama.
Nifedipin, C-antagonist yang sering dipakai bila diduga
penyebabnya adalah spasme koroner, khusus angina sesudah hari ke-2 dan sebelum
pulang. Istirahat, pemberian 02, diet kalori rendah dan mudah
dicernakan dan pasang infus untuk siap gawat.
Kalau normal untuk rehabilitasi biasa tetapi kalau abnormal
agar diperiksa arteriogram koroner untuk mengetahui tepat keadaan pembuluh
darah koronernya agar dapat ditentukan sikap yang optimal.
Pembatasan perluasan Infark:
Seperti telah diterangkan bahwa perfusi miokard dan
kebutuhan metabolik tidak boleh dirugikan oleh pengobatan. Keadaan yang mungkin
memperluas infark harus dicegah atau langsung diperbaiki seperti: Tachykardia,
Hipertensi , Hipotensi, Aritmia dan Hipoxemia.
Menghadapi
keadaan tersebut diperlukan strategi pengobatan yaitu :
1.
Upaya
menurunkan kebutuhan 02 miokard dengan cara :
a. Beta Blocker
b. Menurunkan afterload penderita
dengan hipertensi
c. Membantu sirkulasi dengan ABC
2.
Mengurangi
iskemia miokard dengan memperbaiki perfusi atau aliran kolateral ditingkat kan
sehingga persediaan 02 miokard meningkat. .
a. Pengobatan dengan thrombolitik
streptokinase, Tissue plasminogen activator (Actylase) .
b. Calcium antagonist
c. Peningkatan perfusi koroner dengan
ABC
Streptokinase intra vena memberi thrombolyse dalam 50% para
penderita bila diberikan dalam waktu 6 jam sesudah timbul gejala infark. Dosis
: 250.000 U dalam 10 Menit, diikuti dengan infus dengan dosis antara 850.000
sampai 1.700.000 U selama 1 jam. Sebaiknya diberikan Hydrocortison IV-l00 mg
sebelum streptokinase diberikan. Heparin diberikan 2 jam sesudah streptokinase
infus berakhir.
H.
PENATALAKSANAAN
Ada dua tujuan utama penatalaksanaan
angina pectoris :Mencegah terjadinya infark miokard dan nekrosis, dengan
demikian meningkatkan kuantitas hidup.
Mengurangi symptom dan frekwensi
serta beratnya ischemia, dengan demikian meningkatkan kualitas hidup.
Prinsip penatalaksanaan angina
pectoris adalah: meningkatkan pemberian oksigen (dengan meningkatkan aliran
darah koroner) dan menurunkan kebutuhan oksigen (dengan mengurangi kerja
jantung).
1. Terapi Farmakologis untuk anti
angina dan anti ischemia
a.
Penyekat
Beta
Obat ini merupakan terapi utama pada
angina. Penyekat beta dapat menurunkan kebutuhan oksigen miokard dengan cara
menurunkan frekwensi denyut jantung, kontraktilitas, tekanan di arteri dan
peregangan pada dinding ventrikel kiri. Efek samping biasanya muncul
bradikardi dan timbul blok atrioventrikuler. Obat penyekat beta antara lain:
atenolol, metoprolol, propranolol, nadolol.
b.
Nitrat
dan Nitrit
Merupakan vasodilator endothelium
yang sangat bermanfaat untuk mengurangi symptom angina pectoris, disamping juga
mempunyai efek antitrombotik dan antiplatelet. Nitrat menurunkan kebutuhan
oksigen miokard melalui pengurangan preload sehingga terjadi pengurangan volume
ventrikel dan tekanan arterial. Salah satu masalah penggunaan nitrat jangka
panjang adalah terjadinya toleransi terhadap nitrat. Untuk mencegah terjadinya
toleransi dianjurkan memakai nitrat dengan periode bebas nitrat yang cukup
yaitu 8 – 12 jam. Obat golongan nitrat dan nitrit adalah : amil nitrit, ISDN,
isosorbid mononitrat, nitrogliserin.
c.
Kalsium
Antagonis
Obat ini bekerja dengan cara
menghambat masuknya kalsium melalui saluran kalsium, yang akan menyebabkan
relaksasi otot polos pembulu darah sehingga terjadi vasodilatasi pada pembuluh
darah epikardial dan sistemik. Kalsium antagonis juga menurunkan kabutuhan
oksigen miokard dengan cara menurunkan resistensi vaskuler sistemik. Golongan obat
kalsium antagonis adalah amlodipin, bepridil, diltiazem, felodipin, isradipin,
nikardipin, nifedipin, nimodipin, verapamil.
d.
Terapi
Farmakologis untuk mencegah Infark miokard akut
-
Terapi
antiplatelet,
obatnya adalah aspirin diberikan pada penderita PJK baik akut atau kronik,
kecuali ada kontra indikasi, maka penderita dapat diberikan tiiclopidin atau
clopidogrel.
-
Terapi
Antitrombolitik,
obatnya adalah heparin dan warfarin. Penggunaan antitrombolitik dosis rendah
akan menurunkan resiko terjadinya ischemia pada penderita dengan factor resiko
.
-
Terapi
penurunan kolesterol,
simvastatin akan menurunkan LDL (low density lipoprotein) sehingga memperbaiki
fungsi endotel pada daerah atheroskelerosis maka aliran darah di arteria
koronaria lebih baik.
2.
Revaskularisasi
Miokard
Angina pectoris dapat menetap sampai bertahun-tahun dalam
bentuk serangan ringan yang stabil. Namun bila menjadi tidak stabil maka
dianggap serius, episode nyeri dada menjadi lebih sering dan berat, terjadi
tanpa penyebab yang jelas. Bila gejala tidak dapat dikontrol dengan terapi
farmakologis yang memadai, maka tindakan invasive seperti PTCA (angioplasty
coroner transluminal percutan) harus dipikirkan untuk memperbaiki sirkulasi
koronaria.
3.
Terapi
Non Farmakologis
Ada berbagai cara lain yang diperlukan untuk menurunkan
kebutuhan oksigen jantung antara lain : pasien harus berhenti merokok, karena
merokok mengakibatkan takikardia dan naiknya tekanan darah, sehingga memaksa
jantung bekerja keras. Orang obesitas dianjurkan menurunkan berat badan untuk mengurangi
kerja jantung. Mengurangi stress untuk menurunkan kadar adrenalin yang dapat
menimbulkan vasokontriksi pembulu darah. Pengontrolan gula darah. Penggunaan
kontra sepsi dan kepribadian seperti sangat kompetitif, agresif atau ambisius.
BAB
II
PENGKAJIAN
1.
Pengkajian
Untuk pengkajian tentang
informasi mereka yang mengalami serangan jantung atau nyeri angina maka
pertanyaan yang sesuai mencakup:
a.
Kapan terjadi serangan?
b.
Bagaimana pasien menggambarkan nyerinya?
c.
Apakah awitan nyeri mendadak atau bertahap?
d.
Berapa menit nyeri berlangsung?
e.
Bagaimana nyeri berkurang?
2.
Diagnosa yang muncul berdasarkan teoritis:
a.
Nyeri berhubungan dengan iskemia miokardium
b.
Ansietas berhubunhan dengan rasa takut akan kematian
c.
Kurang pengetahuan tentang sifat dasar penyakit dan metode untuk
menghindari komplikasi
d.
Potensial terjadi ketidakpatuhan terhadap aturan terapeutik
berhubungan tidak mau menerima perubahan pola hidup yang sesuai.
e.
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah
jantung
3.
Intervensi keperawatan
a.
Pencegahan nyeri
b.
Mengurangi kecemasan
c.
Penyuluhan pasien dan pendekatan asuhan dirumah
4.
Evaluasi
Hasil yang diharapkan adalah:
a. Bebas dari nyeri
b.
Menunjukkan penurunan kecemasan
1)
Memahami penyakit dan tujuan perawatannya
2)
Mematuhi semua aturan medis
3)
Mengetahui kapan harus meminta bantuan medis
4)
Menghindari tinggal sendiri saat terjadi episode nyeri
c.
Memahami cara mencegah komplikasi dan menunjukkan tanda-tanda
bebas dari komplikasi
1) Mejelaskan proses
terjadinya angina
2) Menjelaskan alas an
tindakan pencegahan komplikasi
3) EKG dan kadar enzim
jantung normal
4) Bebas dari tanda dan
gejala infark miokard akut
d.
Memahami program perawatan diri
1) Menunjukkan pemahaman
mengenai terapi farmakologi
2) Kebiasaan sehari-hari
merupakan penyesuaian gaya hidup.
BAB III
TINJAUAN KASUS
A.
Kasus
pemicu
Bpk.
W usia 53 tahun, agama islam, suku bangsa melayu, pekerjaan PNS. Alamat tinggal
jln. Tarmidzi Kadir No. 16 Thehok Jambi, masuk RS Tanggal 18 juni 2013, ruang
jantung, kelas II. Klien masuk rumah sakit karena keluhan nyeri dada yang
menjalar ke leher dan bahu disertai dengan sesak nafas. Keluhan ini terjadi
saat klien membantu tetangganya mengangkat barang-barang karena pindah rumah.
Saat pengkajian klien mengeluh nyeri dadanya masih menjalar ke leher dan bahu.
Leher juga masih terasa seperti terjepit dan terbakar. Nyeri berlangsung selama
± 30 menit sekali dengan duraswsi ± selama 5 menit dengan skala nyeri 6. Klien
mengeluh pada saat nyeri dada nafasnya juga terasa sesak. Dari hasil
pemeriksaan fisik diperoleh TD: 140/100 mmHg, N: 96x/M, RR: 30x/M, S: 36.50C,
mukosa bibir klien tampak kering dan pucat. Kafilarevil 4 detik, ekstremitas
bawah klien teraba dingin dank lien tampak banyak berkeringat. Klien juga
mengeluh mual namun tidak sampai muntah. Klien mempunyai riwayat merokok sejak
sebelum menikah ± sejak berusia 18 tahun yang disertai dengan kebiasaan minum
kopi pada pagi hari. Klien mengeluh nyeri dada ini dirasakannya sejak 5 tahun
yang lalu, yang mana nyeri sering timbul setelah klien melakukan pekerjaan yang
berat. Klien sebelumnya tidak pernah dirawat di rumah sakit. Hanya beberapa
kali periksa dengan dokter di puskesmas, selebihnya klien membeli obat di
warung. Dari keterangan keluarga klien diperoleh bahwa keluarga klien (Bapak
dan dua orang saudara klien) mempunyai riwayat penyakit hipertensi. Namun
keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit yang sama seperti klien
ataupun penyakit jantung lainnya. Dari hasil pemeriksaan laboratorium di dapat
Hb: 12gr%, Leukosit 10.000 ml3.
B.
Asuhan Keperawatan
- Pengkajian
- Identitas Klien
1) Nama
Klien : Tn. W
2)
Usia
: 53 Th
3)
Agama
: Islam
4)
Alamat
: jln. Tarmidzi Kadir No. 16 Thehok
Jambi
- Alasan Masuk Rumah
Sakit : karena keluhan nyeri dada yang menjalar keleher dan
bahu disertai sesak nafas.
- Keluhan utama saat
pengkajian : nyeri dada yang menjalar ke leher dan bahu
- Riwayat Kesehatan saat ini :
P : nyeri dada yang
menjalar ke leher dan bahu disertai sesak
nafas.
Q : seperti terjepit dan
terbakar
R : Bagian dada yang
menjalar ke leher dan bahu
S : Skala nyeri 8
T : ± 5 Menit
- Riwayat Kesehatan masa lalu :
1)
Penyakit yang pernah diderita : hipertensi
2)
Pernah dirawat : tidak pernah
Bila ya, kapan dan di
mana : tidak ada
3)
Pernah dioperasi : tidak
Bila ya, waktu di
operasi : tidak ada
Tempat operasi : tidak
ada
Jenis tindakan operasi :
tidak ada
4)
Alergi terhadap obat, makan dll : tidak ada
Bila ya, sebutkan :
tidak ada
5)
Imunisasi : tidak ada
6)
Kebiasaan merokok, alkohol, dan obat-obatan : ya
- Riwayat Kesehatan Keluarga : keluarga
klien (bapak dan dua saudara klien) mempunyai riwayat penyakit hipertensi.
g.
Pemeriksaan Fisik
:
1.
Tanda-tanda
vital
1) TD :
140/100 mmHg
2)
N : 96 x/M
3)
RR : 30 x/M
4)
S : 36,50C
5)
Mukosa bibir klien tampak kering dan pucat
6)
Kafilarevil 4 detik
7)
Ekstremitas bawah klien teraba dingin
8)
Klien tampak berkeringat
2. Keadaan umum :
Penampilan
: Tampak pucat
Posisi saat dikaji
: Berbaring
Postur tubuh
: Normal
Ekspresi wajah
: Tampak pucat
Bahasa tubuh
: Tidak dikaji
3.
Sistem integument
Warna kulit
: Normal
Warna rambut
: Beruban
Kuku
: Panjang
Turgor kulit
: Elastis
Tekstur kulit
: Bersisik
4.
Kepala
Bentuk
: Bulat
Kesimetrisan
:
Normal
Nervus V & VII
: Normal
Keadaan rambut
: Beruban (agak kusam)
Kondisi kulit kepala
: Kotor
5.
Mata
Persebaran alis
: Simetris
Warna alis
: Hitam Keputih-putihan
Sklera
: Normal
Konjungtiva
: Normal
Iris
: Normal
Kornea
: Normal
Pupil
: Normal
Alat bantu penglihatan
: Tidak ada
6.
Telinga :
Daun telinga
: Bersih
Kesimetrisan
: Simetris
Lubang telinga
: Bersih
Membran timpani
: Tidak dikaji
Status pendengaran
:
Normal
7.
Hidung dan penciuman :
Ukuran dan bentuk
:
Normal
Patensi jalan napas
:
Banyak Lendir
Nervus olfactory
: Normal
Status penciuman
: Sensitif
8.
Mulut dan orofaring :
Bibir
: Kering
Gigi
: Karies
Bunyi napas
: Tidak ada
Gusi
: Merah
Nervus VII & IX
: Normal
Lidah
: Bersih
Nervus XIII
: Normal
Mukosa
: Tampak Kering
Palatum
: Bersih
9. Thoraks dan paru-paru :
Pernafasan
: Terganggu (Tidak normal)
Thorax posterior
: Simetris
Auskultasi paru
: Normal
10. Jantung dan
pembuluh darah :
Tekanan darah
: Hipertensi
Nadi karotis
: Terasa kuat
Nadi apical
: Tidak Normal
Nadi perifer
: Tidak normal
11. Abdomen :
Bentuk
: Normal
Kulit
: Normal
Bunyi peristaltic
: Tidak ada
12. Sistem
muskuloskeletal :
Punggung
: Simetris
Tulang vertebra
: Normal
Sendi
: Terasa Nyeri
Pergerakan
: Terbatas
Ekstremitas atas
: Terganggu
Ekstremitas bawah
: Teraba dingin
13. Catatan khusus
a. Apakah pasien mengerti tentang penyakitnya :
Tidak
b.
Keharmonisan hubungan keluarga : Baik
c. Orang yang paling dekat : Istri dan anak
h. Pemeriksaan Laboratorium : -
1. Hb : 12gr%
2. Leukosit : 10.000 ml3
Program terapi
a.
Obat-obatan : Nitrogliserin, Penyekat β-adrenergik
b.
Diet : Tinggi Kalium Tinggi Protein
c.
Fisioterapi
2. Analisa Data
Nama Klien : Tn. W
Usia
: 53 Thn
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
Problem
|
|
1
|
DS: - Klien mengatakan nyeri dada yang
menjalar ke leher dan bahu
- klien mengatakan sesak nafas
DO: - TD : 140/100 mmHg
N : 96 x/M
S : 36,50C
Mukosa bibir klien
tampak kering dan pucat
|
peningkatan afterload
|
Penurunan curah jantung
|
|
2
|
DS : Klien mengeluh nyeri dada
yang menjalar keleher dan bahu yang berlangsung
selama lebih kurang setiap 30 menit sekali dengan
durasi
selama 15 menit.
DO : - Mukosa bibir klien tampak
kering dan pucat
Klien tampak banyak
Berkeringat.
|
Iskemia jaringan
sekunder terhadap sumbatan arteri koroner
|
Nyeri (akut)
|
|
3
|
DS : Klien
mengeluh nyeri dan sesak ketika beraktivitas
DO : Klien tampak pucat dan lemah.
Klien tampak sesak nafas ketika beraktivitas
|
Ketidakseimbangan suplai oksigen miokard dan
kebutuhan
|
Intoleransi aktifitas
|
|
4
|
DS : klien mengatakan
sering membeli obat di warung sedangkan klien memiliki riwayat penyakit
hipertensi
Klien sering bertanya tentang penyakitnya
DO: klien tampak
sering bertanya tentang penyakitnya
Klien tampak gelisah
dan bingung
|
Kesalahan interpretasi
|
Kurangnya pengetahuan
|
1. Pengkajian Primer
Pengkajian dilakukan secara cepat dan
sistemik,antara lain :
a.
Airway
- Lidah
jatuh kebelakang
-
Benda asing/ darah pada rongga mulut
-
Adanya sekret
b. Breathing
- pasien sesak nafas dan cepat letih
-
Pernafasan Kusmaul
c. Circulation
- TD
meningkat
-
Nadi kuat
-
Disritmia
-
Adanya peningkatan JVP
-
Capillary refill > 2 detik
-
Akral dingin
d. Disability :
pemeriksaan neurologis è GCS menurun
A : Allert : sadar penuh,
respon bagus
V : Voice Respon : kesadaran
menurun, berespon thd suara
P : Pain
Respons : kesadaran
menurun, tdk berespon thd suara, berespon thd rangsangan
nyeri
U : Unresponsive : kesadaran
menurun, tdk berespon thd suara, tdk bersespon thd nyeri
- Pengkajian Sekunder
Pemeriksaan
sekunder dilakukan setelah memberikan pertolongan atau penenganan pada
pemeriksaan primer.
Pemeriksaan
sekunder meliputi :
- AMPLE : alergi,
medication, past illness, last meal, event
- Pemeriksaan seluruh tubuh : Head
to toe
- Pemeriksaan
penunjang : lebih detail, evaluasi ulang
- Anamnese
Diagnosa
angina pectoris terutama didapatkan dari anamnese mengenai riwayat penyakit,
karena diagnosa pada angina sering kali berdasarkan adanya keluhan sakit dada
yang mempunyai ciri khas sebagai berikut :
- Letak
Seringkali
pasien merasakan adanya sakit dada di daerah sternum atau di bawah sternum
(substernal), atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang menjalar ke lengan kiri,
ke punggung, rahang atau leher. Sakit dada juga dapat timbul di tempat lain
seperti di daerah epigartrium, gigi dan bahu
- Kualitas
sakit dada
Pada
angina, sakit dada biasanya seperti tertekan benda berat (pressure like),
diperas (squeezing), terasa panas (burning), kadang-kadang hanya perasaan tidak
enak di dada (chest discomfort) karena pasien tidak dapat menjelaskan sakit
dada tersebut dengan baik, lebih-lebih bila pendidikan pasien rendah.
- Hubungan
dengan aktivitas
Sakit dada
pada angina pektoris biasanya timbul pada waktu melakukan aktivitas, misalnya
sedang berjalan cepat, tergesa-gesa, atau sedang menaiki tangga. Aktivitas
ringan seperti mandi, menggosok gigi, makan terlalu kenyang atau emosi juga
dapat menimbulkan angina pektoris. Sakit dada tersebut segera hilang bila
pasien menghentikan aktivitasnya. Serangan angina pektoris dapat timbul pada
waktu istirahat atau pada waktu tidur malam.
- Lamanya
serangan sakit dada
Serangan sakit dada biasanya
berlangsung 1 sampai 5 menit, walaupun perasaan tidak enak di dada masih dapat
dirasakan setelah sakit dada hilang. Bila sakit dada berlangsung lebih dari 20
menit, kemungkinan pasien mendapat serangan infark miokard akut dan bukan
disebabkan angina pektoris biasa.
Pada pasien angina pektoris, dapat
pula timbul keluhan lain seperti sesak napas, perasaan lelah, kadang-kadang
sakit dada disertai keringat dingin.
Angina
dikatakan atipikal bila hanya memenuhi 2 dari 3 kreteria diatas. Nyeri dada
dikatakan bukan berasal dari jantung bila tidak memenuhi atau hanya memenuhi 1
dari tiga kreteria tersebut.
Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
a.
Nyeri akut b.d. Iskemia miokardium
b.
Penurunan curah jantung b.d.
Gangguan kontraksi
c.
Cemas b.d. Rasa takut akan kematian
d.
Kurang pengetahuan tentang penyakit
b.d. Keterbatasan pengetahuan penyakitnya, tindakan yang dilakukan, obat
obatan yang diberikan, komplikasi yang mungkin muncul dan perubahan gaya hidup.
- RENCANA
KEPERAWATAN
|
No
|
DIAGNOSA
|
TUJUAN
(NOC)
|
INTERVENSI (NIC)
|
|
1
|
Nyeri akut b.d. Iskemia miokardium
|
|
|
|
|
|
|
|
|
NO
|
DIAGNOSA
|
TUJUAN
(NOC)
|
INTERVENSI
(NIC)
|
|
1
|
Nyeri akut b.d. Iskemia miokardium
|
NOC:
ü Tingkat nyeri
ü Nyeri terkontrol
ü Tingkat kenyamanan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam,
klien dapat :
1. Mengontrol
nyeri, dengan indikator :
§ Mengenal
faktor-faktor penyebab
§ Mengenal onset nyeri
§ Tindakan pertolongan
non farmakologi
§ Menggunakan analgetik
§ Melaporkan gejala-gejala nyeri kepada tim
kesehatan.
§ Nyeri terkontrol
2. Menunjukkan tingkat nyeri, dengan
indikator:
§ Melaporkan nyeri
§ Frekuensi nyeri
§ Lamanya episode nyeri
§ Ekspresi nyeri; wajah
§ Perubahan respirasi
rate
§ Perubahan tekanan
|
Manajemen
nyeri :
1. Lakukan
pegkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan ontro presipitasi.
2. Observasi reaksi
nonverbal dari ketidaknyamanan.
3. Gunakan
teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien
sebelumnya.
4. Kontrol
ontro lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan.
5. Kurangi
ontro presipitasi nyeri.
6. Pilih
dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis)..
7. Ajarkan
teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi nyeri..
8. Berikan
analgetik untuk mengurangi nyeri.
9. Evaluasi
tindakan pengurang nyeri/ontrol nyeri.
10. Kolaborasi
dengan dokter bila ada komplain tentang pemberian analgetik tidak berhasil.
11. Monitor
penerimaan klien tentang manajemen nyeri.
Administrasi
analgetik :.
1. Cek
program pemberian analogetik; jenis, dosis, dan frekuensi.
2. Cek
riwayat alergi..
3. Tentukan
analgetik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal.
4. Monitor
TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik.
5. Berikan
analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul.
6. Evaluasi
efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping.
|
|
darah
§ Kehilangan nafsu
makan
.
|
|||
|
2
|
Penurunan curah jantung b.d.
Gangguan kontraksi
|
NOC :
· Cardiac
Pump effectiveness
· Circulation
Status
· Vital
Sign Status
Kriteria
Hasil:
· Tanda
Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi, respirasi)
· Dapat
mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan
· Tidak
ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites
· Tidak
ada penurunan kesadaran
|
Cardiac
Care
§ Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas,lokasi,
durasi)
§ Catat adanya
disritmia jantung
§ Catat adanya tanda dan gejala penurunan
cardiac putput
§ Monitor status
kardiovaskuler
§ Monitor status
pernafasan yang menandakan gagal jantung
§ Monitor abdomen sebagai indicator
penurunan perfusi
§ Monitor balance
cairan
§ Monitor adanya
perubahan tekanan darah
§ Monitor respon pasien terhadap efek
pengobatan antiaritmia
§ Atur periode latihan dan istirahat untuk
menghindari kelelahan
§ Monitor toleransi
aktivitas pasien
§ Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu
dan ortopneu
§ Anjurkan untuk
menurunkan stress
Vital
Sign Monitoring
§ Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
§ Catat adanya
fluktuasi tekanan darah
§ Monitor VS saat pasien berbaring, duduk,
atau berdiri
§ Auskultasi TD pada kedua lengan dan
bandingkan
§ Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan setelah aktivitas
§ Monitor kualitas dari
nadi
§ Monitor adanya pulsus
paradoksus dan pulsus alterans
§ Monitor jumlah dan
irama jantung dan monitor bunyi jantung
§ Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
§ Monitor suara paru,
pola pernapasan abnormal
§ Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
§ Monitor sianosis
perifer
§ Monitor adanya
cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
§ Identifikasi penyebab dari perubahan vital
sign
|
|
3
|
Cemas b.d. Rasa takut akan
kematian
|
NOC :
v Anxiety control
v Coping
Kriteria
Hasil :
v Klien mampu mengidentifikasi dan
mengungkapkan gejala cemas
v Mengidentifikasi, mengungkapkan dan
menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas
v Vital sign dalam
batas normal
v Postur tubuh,
ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya
kecemasan
|
NIC :
Anxiety
Reduction (penurunan kecemasan)
· Gunakan
pendekatan yang menenangkan
· Nyatakan
dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
· Jelaskan
semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
· Temani
pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
· Berikan
informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
· Dorong
keluarga untuk menemani anak
· Lakukan
back / neck rub
· Dengarkan
dengan penuh perhatian
· Identifikasi
tingkat kecemasan
· Bantu
pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
· Dorong
pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
· Instruksikan
pasien menggunakan teknik relaksasi
· Barikan
obat untuk mengurangi kecemasan
|
|
4
|
Kurang pengetahuan tentang
penyakit b/d keterbatasan pengetahuan penyakitnya, tindakan yang
dilakukan, obat obatan yang diberikan, komplikasi yang mungkin muncul dan
perubahan gaya hidup.
|
NOC :
v Kowlwdge : disease
process
v Kowledge : health
Behavior
Kriteria
Hasil :
v Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman
tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
v Pasien dan keluarga mampu melaksanakan
prosedur yang dijelaskan secara benar
v Pasien dan keluarga mampu menjelaskan
kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.
|
NIC :
Teaching
: disease Process
1. Berikan
penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang
spesifik
2. Jelaskan
patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi
dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
3. Gambarkan
tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
4. Gambarkan
proses penyakit, dengan cara yang tepat
5. Identifikasi
kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
6. Sediakan
informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
7. Hindari
harapan yang kosong
8. Sediakan bagi
keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat
9. Diskusikan
perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di
masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
10. Diskusikan
pilihan terapi atau penanganan
11. Dukung pasien untuk mengeksplorasi
atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan sumber atau
dukungan, dengan cara yang tepat
13. Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal, dengan cara yang tepat
14. Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat
|
DAFTAR
PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan
Medical-Bedah Vol 2. Jakarta : EGC
Carpenito, L.J.
2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada
Praktik Klinis, edisi 6. Jakarta:EGC
Corwin, EJ. 2009. Buku Saku
Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta: EGC
Finarga. 2010. Angina. Dimuat
dalam http://finarga.blogspot.com/ (diakses
pada 11 Maret 2012)
Johnson,
M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification
(NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Judith M. Wilkinson. 2005. Prentice
Hall Nursing Diagnosis Handbook with NIC Interventions and NOC Outcome. New
Jersey : Horrisonburg.
Mansjoer, A
dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta:
Media Aesculapius
Rab, T. 2008. Agenda Gawat
Darurat (Critical Care). Bandung: Penerbit PT Alumni
Santosa, Budi. 2007. Panduan
Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika


Post a Comment