Makalah Pengertian Iman
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Setiap orang yang ingin mendalami
agamanya secara mendalam perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama
yang dianutinya. Mempelajari teologi akan memberikan seseorang keyakinan
berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diumbang-ambingkan oleh
perubahan zaman. Ini adalah diantara cuplikan kata- kata pendahuluan Harun
Nasution di dalam bukunya “Teologi Islam”.
Teologi, adalah membahaskan ajaran
dasar dari sesuatu agama, dalam istilah Arab disebut Usul al Din yaitu
ajaran-ajaran dasar agama.
Teologi
Islam bukan hanya membahas soal ketuhanan saja, tetapi juga membahas soal
keimanan. Iman adalah masalah mendasar yang dibahas di dalam aliran pemikiran
Islam. Para mutakallimin telah memberikan batasan dan pengertian yang mempunyai
persamaan dan perbedaan mengenai iman.
Perbedaan dan persamaan konsep iman diantara mutakallimin akan lebih jelas
terdapat di dalam pendapat-pendapat lima aliran, yaitu:- Khawarij, Murjiah,
Mu’tazilah, Asy’ariah, dan Maturidiah. Persamaan dan perbedaan itu cukup
banyak, tetapi di dalam makalah ini hanya akan disentuh dalam hal-hal yang
berkaitan dengan sejarah ringkas timbulnya tentang konsep iman, kewajiban
beriman dan amal, serta bertambah dan berkurangnya iman.
2. Tujuan
Mengetahui
keimanan dalam agama islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Perngertian Iman
Pengertian
iman dari bahasa Arab yang artinya
percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan
dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan).
Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati
bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan
kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta
dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.
Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin
(orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas.
Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak
diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang
tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga
unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat
dipisahkan.
Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang
sangat mendasar bagi seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman
kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan
RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada
RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari
kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa :
136).
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila
kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang
sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman
kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.
2. Macam-macam / Tingkat
keimanan
Di dalam kitab tafsir
Ruhul Bayan disebutkan bahwa pengertian iman secara hakikat adalah sebagaimana
firman Allah dalam surat al-Hadid ayat 16 :
“ Belumkah
datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka
mengingat Allah dan kepada kebenaran yang Telah turun (kepada mereka), dan
janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab
kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka
menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik “.
Dari pengertian iman
secara syari’at dan hakikat ini, imam Ghazali membagi iman manusia kepada tiga
tingkatan:
·
Iman Taqlidi ( Imannya orang-orang awam ) yaitu imannya kebanyakan orang yang tidak
berilmu. Mereka beriman karena taklid semata. Sebagai perumpamaan iman tingkat
pertama ini, kalau kamu diberi tahu oleh orang yang sudah kamu uji kebenarannya
dan kamu mengenal dia belum pernah berdusta serta kamu tidak merasa ragu atas
ucapannya, maka hatimu akan puas dan tenang dengan berita orang tadi dengan
semata-mata hanya mendengar saja.
Ini adalah perumpamaan
imannya orang-orang awam yang taklid. Mereka beriman setelah mendengar dari ibu
bapak dan guru-guru mereka tentang adanya Allah dan Rasul-Nya dan kebenaran
para Rasul itu beserta apa-apa yang dibawanya. Dan seperti apa yang mereka
dengar itu, mereka menerimanya serta tidak terlintas di hati mereka adanya
kesalahan-kesalahan dari apa yang dikatakan oleh orang tua dan guru-guru
mereka, mereka merasa tenang dengannya, karena mereka berbaik sangka kepada
bapak, ibu dan guru-guru mereka, sebab orang tua tidak mungkin mengajarkan yang
salah kepada anak-anaknya, guru juga tidak mungkin mengajarkan yang salah
kepada murid-muridnya. Karena kita percaya kepada orang tua dan kepada guru,
maka kita pun beragama Islam.
·
Iman Istidlali (imannya orang-orang ahli Ilmu Kalam), yaitu dimana mereka beriman cukup
berdasarkan dalil aqli dan naqli, dan mereka merasa puas dengan itu. Iman
tingkat kedua ini tidak jauh berbeda derajatnya dengan iman tingkat pertama.
Sebagai contoh, apabila ada orang yang mengatakan kepadamu bahwa Zaid itu di
rumah, kemudian kamu mendengar suaranya, maka bertambahlah keyakinanmu, karena
suara itu menunjukkan adanya Zaid di rumah tersebut. Lalu hatinya menetapkan
bahwa suara orang tersebut adalah suara si Zaid.
Iman pada tingkat ini
adalah iman yang bercampur baur dengan dalil dan kesalahan pun juga mungkin
terjadi karena mungkin saja ada yang berusaha menirukan suara tadi, tetapi yang
mendengarkan tadi merasa yakin dengan apa yang telah di dengarnya, karena ia
tidak berprasangka buruk sama sekali dan ia tidak menduga ada maksud penipuan
dan peniruan. Jadi imannya orang-orang ahli ilmu kalam masih terdapat kesalahan
dan kekeliruan padanya.
·
Iman Tahqiqi / Arifi ( Imannya orang-orang ahli makrifat ) yaitu imannya para ahli makrifat dan
Hakikat. Mereka beriman kepada Allah dengan pembuktian melalui penyaksian
kepada Allah. Sebagai perumpamaan: Apabila kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu
akan melihat dan menyaksikan Zaid itu dengan pandangan mata kamu. Inilah
makrifat yang sebenarnya dan inilah yang dikatakan iman yang sebenarnya. Karena
mereka beriman dengan pembuktian melalui penyaksian mata hatinya, maka mustahil
mereka terperosok ke jurang kesalahan.
Dari ketiga tingkatan
iman ini dapatlah kita ketahui bahwa hanya orang-orang ahli makrifatlah atau
orang-orang ahli hakekatlah yang dikatakan benar-benar telah beriman kepada
Allah. Adapun imannya orang-orang awam dan imannya orang-orang ahli ilmu kalam
adalah beriman secara syari’at, namun secara hakikat mereka belum beriman
kepada Allah, disebabkan karena ketiadaan ilmu dan ketidaktahuan mereka. Jadi
hanya dengan mempelajari tarekatlah kita baru dapat lepas dari syirik khafi
(syirik yang tersembunyi) dan syirik yang jali (syirik yang nyata).
Firman Allah dalam
surat Az-Zumar ayat 22 :
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk
(menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang
yang membatu hatinya)? Maka Kecelakaan besarlah bagi mereka yang Telah membatu
hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata “.
Tingkatan Iman menurut Imam Al-Ghozali:
Ø
Imanul abidin: Imannya ahli ibadah, orang yang beribadah kepada Allah karena mengharap
surga dan takut neraka. Ibarat seorang pekerja yang mau bekerja karena
menginginkan upahnya dan tidak mau tahu tentang keadaan majikan, ia cinta
kepada majikan atau tidak cinta terhadap majikan yang penting upah. Atau
seperti seseorang yang mencintai kekasih karena kekayaannya, ia tidak cinta
kepada kekasihnya, yang ia cintai hanyalah kekayaanya. Tingkatan iman seperti
ini adalah tingkat iman yang masih rendah.
Ø
Imanun muhibbin: Imannya seorang yang beribadah karena rasa cinta kepada Allah. Ia rela
melakukan apapun demi sang kekasihnya. Ibaratnya seorang Pemuda rela melakukan
apa saja demi sang kekasihnya, tapi jika cintanya di tolak/mendapat cobaan maka
sudah tidak cinta lagi.
Ø
Imanun Mukhlisin: imannya seorang yang ikhlas, tapi keiklasanya masih di aku, aku sudah
beramal sekian banyak, sudah shodaqoh sekian banyak, dzikir sekian banyak, aku
bisa sholat rajin. Aku-aku inilah yang menyebabkan sumber kesombongan.
Ø
Imanul Arifin: Imannya seorang yang ikhlas/seorang yang arif dan bijaksana, dalam
beribadah tidak mengharapkan apa-apa, hanya mengharapkan Ridho dari Allah dan
di dalam ikhlas itu tidak merasa ikhlas, karena ikhlasnya billah (yang
menggerakkan Allah) “wamaa romaita idz romaita wa lakinnaallaha roma”
dan “laa haula wala kuata ila billah”. Ini adalah tingkatan Iman
yang sempurna istilahnya imanun Ma’rifat.
3.
Hal-hal yang merusak keimanan
Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya mengemukakan
bahwa tidak seperti Nabi dan Rosul yang imannya selalu naik, iman seseorang itu
kadang akan naik, kadang turun. Atau bahkan akan turun terus sehingga akhirnya
lenyap dan hatinya pun akan gersang tanpa memiliki iman. Padahal orang yang
seperti inilah yang akan menghuni neraka. Oleh karena itu, kita haruslah tetap
waspada dan hati-hati dalam menjaga iman, sehingga iman kita akan terhindar
dari hal-hal yang merusak.
Dalam Ensiklopedi ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits
disebutkan bahwa ada 6 macam perkara yang dapat merusak bahkan membatalkan iman
seseorang, yaitu:
1. Syirik
Orangnya disebut "Musyrik" yaitu
orang yang menyekutukan Allah, dan orang seperti ini tidak ada ampunannya dari
Allah SWT di hari kiamat kelak, firman Allah dalam Al-Quran :
Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik)
itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya Barangsiapa yang mempersekutukan Allah,
maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS : An-Nisa :48)
2. Nifaq
Orangnya disebut munafiq, yakni orang yang lisannya
mengaku beriman kepada Alloh tetapi hatinya tidak. Al-Qur'an dengan tegas
menyebutkan bahwa orang-orang munafiq akan ditempatkan di dasar neraka.
Diantara manusia ada yang mengatakan :"kami
beriman kepada Alloh dan hari kemudian" padahal mereka itu
sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman (QS : Al-Baqoroh : 8)
3. Sihir
Ini merupakan ilmu hitam yang bisa merusak iman dan
pada saat sekarang ini ilmu sihir masih merebak
dimana-mana, melalui dukun, orang pintar dll. sehingga banyak orang-orang yang tertipu
gara-gara ilmu ini. Untuk itu demi keutuhan iman kita, maka jauhi ilmu ini,
sebab jika iman kita rusak, maka ancamannya adalah neraka. Untuk itu kita
berlindung kepada Allah dari kejahatan tukang-tukang sihir.
Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang
menghembus pada buhul-buhul (QS : Al-Falaq : 4)
4. Meramal Nasib seseorang
Menebak-nebak nasib seseorang dapat merusak
iman, karena pada hakikatnya, segalanya hanya Allah lah yang menentukan nasib
seseorang. Sayangnya ramal-meramal masih sangat merebak, terutama mereka-mereka
yang senang berspekulasi. Ada yang menggunakan istilah astrologi, guratan
tangan, thiyarah (menerbangkan burung), fenomena alam, termasuk mereka yang
menganggap kemalangannya akibat dari kedatangan seseorang. Seperti dalam kisah
Nabi Sholeh AS yang diterangkan dalam Al-Quran sebagai berikut :
Mereka menjawab : "Kami mendapat nasib
yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang berseteru", Sholeh
berkata :"Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi
sebab), tetapi kamu kaum yang diuji. (QS An-Naml : 47)
4.
20 Sifat Wajib dan Mustahil bagi Allah (Beserta Dalil)
Sifat Allah merupakan sifat sempurna
yang hanya dimili oleh Allah SWT. sebagai seorang muslim yang baik sebaiknya
kita mengetahui Sifat Wajib maupun Sifat Mustahil yang dimiliki
Allah SWT agar ke iman nan kita kepada Allah semakin kuwat, berikut Sifat
Wajib dan Mustahil bagi Allah SWT yang perlu kita ketahui:
20 Sifat
Wajib Bagi Allah
·
Wujud
(Ada) - ﻭﺟﻮﺩ
Adanya
Allah itu bukan karena ada yang menciptakan nya, tetapi Allah itu ada dengan
zat-Nya sendiri.
-
Dalil
Aqli
Adanya semesta alam yang kita lihat cukup untuk dijadikan sebagai
alasan bahwa Allah itu ada, sebab tidak masuk akal seandainya ada sesuatu yang
dibuat tanpa ada yang membuatnya.
-
Dalil
Naqli
"Allahlah
menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam (waktu)
enam hari." (QS. AS sajdah:4)
·
Qidam
(Dahulu/Awal) - ﻗﺪﻡ
Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah sebagai Pencipta yang lebih
dulu Ada daripada semesta alam (yang Ia ciptakan).
-
Dalil
aqli
Qidam hakikatnya adalah menafikan bermulanya wujud Allah SWT.
Seandainya Allah tidak qodim, mesti Allah hadits, sebab tidak ada penengah
antara hadits dan qodim. Apabila Allah hadits maka mesti membutuhkan muhdits
(yang membuat nya) mislakan A, dan muhdits A mesti membutuhkan Muhdits yang
lain, misalnya B. Kemudian muhdits B mesti membutuhkan muhdits yang lain juga,
misalnya C. Begitulah seterusnya (tidak ada ujung), maka dikatakan tasalsul
(peristiwa berantau), dan apabila yang ujung membutuhkan kepada Allah maka
dikatan daur (peristiwa berputar). Setiap tasalsul dan daur adalah mustahil
menurut akal sehat. Maka setiap yang mengakibatkan tasalsul dan daur, yaitu
hudutsnya Allah adalah mustahil, maka Allah wajib dan pasti bersifat Qidam.
-
Dalil
Naqli
"Dialah
yang awal dan yang akhir Yang zhohir dan yang bathin." (QS. Al-Hadid:3)
·
Baqa’ (Kekal)
- ﺑﻘﺎﺀ
Allah merupakan suatu zat
yang Abadi dan Kekal Selamanya karena allah bersifat Baga' (Kekal).
-
Dalil
Aqli
Seandainya Allah tidak wajib
Baqa' (kekal), maka tidak akan disifati Qidam. Sedangkan Qidam tidak bisa
dihilangkan dari Allah berdasarkan dalil yang ada dalam sifat Qidam (dahulu).
-
Dalil
Naqli
"Tiap
sesuatu akan binasa (lenyap) kecuali Dzat-nya." (QS. Qoshos:88)
·
Mukhalafatuhu
Lilhawadith (berbeda dengan Ciptaannya) - ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ
Sifat ini menunjukkan bahwa
Allah SWT berbeda dengan yang ia ciptakan, tidak ada hal di dunia ini yang
menyerupainya.
-
Dalil
Aqli
Apabila Allah menyerupai
makhluknya, niscaya Allah dalah baru (Hadis), sedangkan Allah baru adalah
sebuah hal yang mustahil.
-
Dalil
Naqli
"Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Nya (Allah), dan
dia lah (Allah) yang maha mendengar lagi maha melihat." (QS. Asy-Syuro:11)
·
Qiyamuhu
Binafsihi (Berdiri Sendiri) - ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ
Artinya Bahwa Allah SWT itu berdiri dengan zat sendiri tanpa
membutuhkan bantuan yang lain. Maksudnya, keberadaan Allah SWT itu ada dengan
sendirinya tidak ada yang mengadakan atau menciptakan.Contohnya, Allah SWT
menciptakan alam semesta ini karena kehendak sendiri tanpa minta pertolongan
siapapun.
-
Dalil
Aqli
Seadainya Allah membutuhkan dzat, niscaya Allah adalah sifat, sebab
hanya sifatlah yang selalu membutuhkan dzat, sedangkan dzat selamanya tidak
membutuhkan dzat lain untuk berdirinya
Apabila Allah “Sifat” adalah mustahil, sebab apabila Allah “sifat”,
maka Allah tidak akan disifati dengan sifat Ma’ani dan Ma’nawiyah, sedangkan
sifat tersebut adalah termasuk sifat-sifat yang wajib bagi Allah berdasarkan
dalil-dalil tertentu. Berarti apabila Allah tidak disifati dengan sifat Ma’ani
dan Ma’nawiyah adalah salah (Bathil), dan batal pula sesuatu yang
mengakibatkannya, yaitu butuhnya Allah kepada dzat. Apabila batal butuhnya
Allah kepada dzat maka tetap Maha kaya (istighna)nya Allah dari dzat.
Seandainya Allah membutuhkan sang pencipta, niscaya Allah baru
(Hadts), sebab yang membutuhkan pencipta hanyalah yang baru sedangkan dzat
qodim tidak membutuhkannya. Dan mustahil Allah Hadits, karena segala sesuatu
yang hadits harus membutuhkan sang pencipta (mujid) yang kelanjutannya akan
mengakibatkan daur (peristiwa berputar) atau tasalul (peristiwa berantau).
-
Dalil
Naqli
"Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya (tidak memerlukan
sesuatu) dari alam semesta." (QS. Al Ankabut:6)
·
Wahdaniyyah
(Tunggal/Esa) - ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ
Artinya Bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa, baik itu Esa
zat-Nya, sifat-Nya, maupun perbuatannya. Esa zat-Nya maksudnya zat Allah
bukanlah hasil dari penjumlahan dan perkiraan atau penyatuan satu unsur dengan
unsur yang lain. Esa sifat-Nya artinya semua sifat-sifat kesempurnaan bagi
Allah SWT tidak sama dengan sifat-sifat pada mahluk yang diciptakan Nya. Esa
perbuatan-Nya berarti Allah SWT berbuat sesuatu tidak dicampuri oleh perbuatan
mahluk lain dan tanpa membutuhkan proses atau waktu. Allah SWT berbuat karena
kehendak-Nya sendiri tanpa ada yang bisa mencampurinya.
-
Dalil
Naqli
"Seandainya di langit dan dibumi ada tuhan-tuhan selain Allah,
niscaya langit dan bumi akan rusak." (QS. Al Anbiya:22)
·
Qudrat
(Berkuasa) - ﻗﺪﺭﺓ
Kekuasaan Allah SWT, atas
segala sesuatu itu mutlak, tidak ada batasnya dan tidak ada yang membatasi,
baik terhadap zat-Nya sendiri maupun terhadap makhluk-Nya. Berbeda dengan
kekuasaan manusia ada batasnya dan ada yang membatasi.
-
Dalil
Aqli
Jika Allah tidak
berkemampuan maka Allah lemah(‘Ajzun), dan apabila Allah lemah maka tidak akan
mampu menciptakan makhluk hidup maupun seluruh alam semesta ini.
-
Dalil
Naqli
"Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu." (QS.
Al-Baqarah:20)
·
Iradah
(berkehendak) - ﺇﺭﺍﺩﺓ
Allah SWT telah menciptakan alam semesta beserta isinya atas
kehendak-Nya sendiri, tanpa ada campur tangan dari pihak lain, Apapun yang
Allah SWT kehendakin pasti akan terjadi.
-
Dalil
Aqli
Seandainya allah tidak bersifat berkehendak niscaya bersifat terpaksa
(karohah), dan allah bersifat terpaksa adalah mustahil karena tidak akan
disifati qudrot, akan tetapi tidak disifatinya Allah dengan sifat qudrot adalah
hal yang mustahil, sebab hal itu akan berakibat lemahnya Alla, sedangkan
lemahnya Allah merupakan hal yang mustahi, karena tidak akan mampu membuat
sesuatu sedikitpun.
-
Dalil
Naqli
"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia
kehendaki." (QS. Hud:107)
·
Ilmu
(Mengetahui) - ﻋﻠﻢ
Allah SWT memiliki pengetahuan dan kepandaian akan segala hal,
artinya ilmu Allah tidak terbatas dan tidak pula dibatasi. Allah SWT mengetahui
segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang tampak maupun yang gaib.
Bahkan, apa yang dirahasiakan didalam hati manusia sekali pun.
-
Dalil
Aqli
Seandainya Allah tak berilmu niscaya tidak akan berkehendak,
sedangkan allah tidak berkehendak adalah mustahil, karena tidak akan disifati
qudrot, akan tetapi Allah tidak disifati dengan qudrot adalah mustahil, sebab
akan berakibat lemahnya Allah. Sedangkan lemahnya Allah adalah hal yang
mustahil, karena tidak akan mampu membuat sesuatu sedikitpun.
-
Dalil
Naqli
"Dan dia (Allah) maha mengetahui segala sesuatu." (QS.Al
Hadid:3 & QS.Al Baqaroh:29)
·
Hayat
(Hidup) - ﺣﻴﺎﺓ
Artinya Hidupnya Allah tidak ada yang menghidupkannya melainkan
hidup dengan zat-Nya sendiri karena Allah Maha Sempurna, berbeda dengan makhluk
yang diciptakan-Nya. Contohnya: Kambing ada yang menghidupkan. Selain itu,
mereka juga mebutuhkan makanan, minum dan lainnya. Akan tetapi, hidupnya Allah
SWT tidak membutuhkan semua itu. Allah SWT hidup selama-lamanya, tidak
mengalami kematian.
-
Dalil
Aqli
Seandainya Allah tidak hidup maka tidak akan disifati Qudrot, akan
tetapi Allah tidak disifati dengan Qudrot merupakan hal mustahil, sebab akan
berakibat lemahnya Allah, sedangkan lemahnya Allah adalah hal yang mustahil,
karena tidak akan mampu membuat sesuatu barang sedikitpun.
-
Dalil
Naqli
"Dan
bertakwalah kepada Allah yang hidup yang tidak mati." (QS. Al-Furqon:58)
·
Sama’
(Mendengar) - ﺳﻤﻊ
Allah SWT dapat mendengar semua suara yang ada di alam semesta.
Tidak ada suara yang terlepas dari pendengaran Allah SWT walaupun suara itu
sangat pelan. Pendengaran Allah SWT berbeda dengan pendengaran Ciptaan-Nya
karena Ia tidak terhalang oleh suatu apapun, sedangkan pendengaran Ciptaan-Nya
dibatasi oleh ruang dan waktu.
”Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS.
Al Maidah:76)
·
Basar (
Melihat ) - ﺑﺼﺮ
Allah SWT melihat segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.
penglihatan Allah bersifat mutlak, artinya tidak dibatasi oleh jarak dan tidak
dapat dihalangi oleh penghalang (misal: dinding). Segala sesuatu yang ada di
alam semesta ini, sekecil apapun, tampak atau tidak tampak, pasti semuanya akan
terlihat oleh Allah SWT.
”Dan
Allah maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah: 265)
·
Kalam
(Berbicara / Berfirman) - ﻛﻼ ﻡ
Allah SWT bersifat kalam artinya Allah berfirman dalam kitab-Nya
yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Pembicaraan Allah SWT tentu
tidak sama dengan pembicaraan manusia karena Allah SWT tidak berorgan (panca
indra), seperti lidah dan mulut yang dimiliki oleh manusia. Allah SWT berbicara
tanpa menggunkan alat bantu yang berbentuk apapun sebab sifat kalam Allah
sangat sempurna. Sebagai bukti bahwa adanya wahyu Allah SWT berupa al qur’an
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kitab-kitab Allah yang diturunkan
kepada para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW.
"Dan Allah berkata kepada Musa dengan satu perkataan yang
jelas.” (QS. AnNisa’:164)
·
Kaunuhu
Qadirun - ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ
Yaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan
Mentiadakan.
“Sesungguhnya
Alllah berkuasa atas segala sesuatu.“ (QS. Al Baqarah:20).
·
Kaunuhu
Muridun - ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ
Yaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan
tiap-tiap sesuatu, Ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia
kehendaki." (QS.
Hud:107)
·
Kaunuhu
‘Alimun - ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ
Yaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu,
mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, Allah pun
dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.
“Dan Alllah Maha Mengetahui sesuatu.“ (QS. An Nisa’:176)
·
Kaunuhu
Hayyun - ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ
Yaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup, Allah adalah Dzat Yang
Hidup, Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.
"Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak
mati." (QS. Al Furqon:58)
·
Kaunuhu
Sami’un - ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ
Yaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar, Allah selalu mendengar
pembicaraan manusia, permintaan atau doa hambaNya.
“Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.“ (QS. Al Baqoroh:256)
·
Kaunuhu
Basirun - ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ
Yaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang
Maujudat ( Benda yang ada ).Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena
itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.
“Dan
Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.“ (QS. Al Hujurat :18)
·
Kaunuhu
Mutakallimun - ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ
Yaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata, Allah tidak bisu, Ia
berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al Quran. Bila Al-Quran telah kita
jadikan pedoman hidup, maka kita telah patuh dan tunduk terhadap Allah SWT.
Sifat-Sifat
Mustahil bagi Allah
Sifat Mustahil
Bagi Allah artinya Sifat Yang Tidak Mungkin ada pada Allah Swt. Sifat Mustahil
Allah merupakan Lawan Kata/Kebalikan dari Sifat Wajib Allah Berikut dibawah ini
adalah 20 sifat-sifat mustahil bagi Allah SWT:
1.
‘Adam
- ﻋﺪﻡ artinya tiada (bisa mati)
2.
Huduth
- ﺣﺪﻭﺙ artinya baharu (bisa di
perbaharui)
3.
Fana’
- ﻓﻨﺎﺀ artinya binasa (tidak kekal
/ bisa mati)
4.
Mumathalatuhu
Lilhawadith - ﻣﻤﺎﺛﻠﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ artinya menyerupai akan
makhlukNya.
5.
Qiyamuhu
Bighayrih - ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻐﻴﺮﻩ artinya berdiri dengan yang
lain (ada kerjasama)
6.
Ta’addud
- ﺗﻌﺪﺩ artinya berbilang – bilang /
banyak (lebih dari satu).
7.
‘Ajz
- ﻋﺟﺰ artinya lemah (tidak kuat).
8.
Karahah
- ﻛﺮﺍﻫﻪ artinya terpaksa (bisa di
paksa) / Tertegah (tidak bisa menentukan).
9.
Jahlun
- ﺟﻬﻞ artinya jahil (bodoh).
10. Maut - ﺍﻟﻤﻮﺕ artinya mati (bisa mati).
11. Syamam - ﺍﻟﺻمم artinya tuli
12. ‘Umyu - ﺍﻟﻌﻤﻲ artinya buta.
13. Bukmu - ﺍﻟﺑﻜﻢ artinya bisu.
14. Kaunuhu ‘Ajizan - ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﺟﺰﺍ artinya Keadaannya yang
Lemah.
15. Kaunuhu Karihan - ﻛﻮﻧﻪ مكرها artinya Keadaannya yang
Terpaksa.
16. Kaunuhu Jahilan - ﻛﻮﻧﻪ ﺟﺎﻫﻼ artinya Keadaannya yang
Bodoh.
17. Kaunuhu Mayyitan - ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻴﺘﺎ artinya Keadaannya yang
Mati.
18. Kaunuhu Asam - ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺻﻢ artinya Keadaanya yang Tuli.
19. Kaunuhu A’ma - ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻋﻤﻰ artinya Keadaannya yang
Buta.
20. Kaunuhu Abkam - ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺑﻜﻢ artinya Keadaannya yang
Bisu.
5.
Nama-nama
Malaikat dan tugasnya
Pengertian Malaikat
Malaikat adalah ciptaan Allah yang ghaib, yang tidak
mempunyai nafsu dan pikiran, tidak berbapak dan tidak beribu, juga tidak
beranak. Malaikat hanya mengerjakan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.
Malaikat ada banyak banget, tapi yang wajib diimani hanya ada sepuluh. Keimanan
kepada malaikat masuk ke dalam rukun Iman yang kedua, maka setiap orang islam
yang mengaku muslim harus mengimani keberadaan malaikat.
Nama-Nama
10 Malaikat dan Tugasnya
1.
Malaikat
Jibril yang menyampaikan wahyu Allah kepada nabi dan rasul.
2.
Malaikat
Mikail yang bertugas memberi rizki / rejeki pada manusia.
3.
Malaikat
Israfil yang memiliki tanggung jawab meniup terompet sangkakala di waktu hari
kiamat.
4.
Malaikat
Izrail yang bertanggungjawab mencabut nyawa.
5.
Malikat
Munkar yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan
manusia di alam kubur.
6.
Malaikat
Nakir yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan
manusia di alam kubur bersama Malaikat Munkar.
7.
Malaikat
Raqib / Rokib yang memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala amal baik
manusia ketika hidup.
8.
Malaikat
Atid / Atit yang memiliki tanggungjawab untuk mencatat segala perbuatan buruk /
jahat manusia ketika hidup.
9.
Malaikat
Malik yang memiliki tugas untuk menjaga pintu neraka.
10. Malaikat Ridwan yang berwenang untuk menjaga pintu
sorga / surga
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Berdasar penjabaran
yang telah disampaikan, bahwa keimanan manusia telah Allah tulisakan dalam
Al-Quran dan telah disebutkan pula As-Sunnah. Tingkat keimanan seseorang
berbeda-beda. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa keimanan seorang dapat
berubah menjadi lebih baik melalui beberapa tingkat, mulai dari dasar hingga
tingkatan yang lebih tinggi. Namun karena keimanan seseorang dari hati,
terkadang iman ini dapat naik ataupun turun. Tetapi, apabila masing-masing dari
kita dapat beristiqomah insyallah iman kita akan tetap terjaga.
2.
Saran
Penulis menyadari
bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan terutama mengenai tata
bahasa dan juga refrensi. Maka, penulis berharap apabila terdapat kesalahan
mohon dimaklumi dan dimaafkan karena keterbatasan penulis. Juga kritik ataupun
saran, sangat diharapkan agar di kemudian hari dapat menghasilkan makalah
maupun karya tulis yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.artikelsiana.com/2014/12/pengertian-iman-dalam-islam.html

Post a Comment