Budaya Aceh Memuliakan Tamu ( Peumulia Jamee)
Aceh adalah salah
satu Provinsi yang ada di Indonesia yang mempunyai adat istiadat dan budaya
yang sangat berbeda dari Provinsi lainnya. Aceh mempunyai budaya atau kebiasaan
yang tidak jauh dengan aturan islam. Dari berbagai adat atau budaya yang ada di
Aceh, salah satunya adalah budaya memuliakan tamu (peumulia jamee).
Pandangan islam tentang memuliakan tamu seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir
akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai
dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya ““Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari
akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari). Maka memuliakan tamu
bagi orang Aceh sangatlah penting dikarenakan dalam islam juga menyuruhkan umat
manusia untuk melakukan hal tersebut. Memuliakan tamu juga merupakan salah satu
untuk menyempurnakan iman dalam islam.
Pandangan orang Aceh dalam hal
memuliakan tamu adalah merupakan suatu kewajiban dikarenakan diharuskan dalam
islam, membuat tamu bahagia dan nyaman adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi
sipemulia tamu yang tidak mengharapkan balasan atau imbalan dalam bentuk apapun
dari para tamu. Cara memuliakan tamu di Aceh berbeda-beda dengan satu daerah
dan daerah lainnya.
Memuliakan tamu
adalah salah satu budaya yang sudah
melekat dalam jiwa masyarakat Aceh. Aplikasi budaya ini tidak hanya untuk
orang-orang tertentu saja, akan tetapi diterapkan untuk semua orang dari
berbagai kalangan, baik orang tersebut dari tokoh pejabat, para ustad, dan
masyarakat biasa. Memuliakan tamu bukan hanya disaat ada acara tertentu, akan
tetapi dihari-hari biasanya tanpa ada acara atau event tertentu, kebiasaan orang Aceh juga sangat memuliakan
tamu. Dalam memuliakan tamu ada berbagai macam persembahan untuk para tamu.
Jika tamu khusus atau tamu sudah diketahui kedatangannya maka bermacam-macam persembahan
berbeda dengan tamu dadakan atau tamu yang tidak diketahui kedatangannya,
meskipun orang yang bertamu tidak diketahui kedatangannya oleh pihak rumah,
akan tetapi dari pihak rumah ini juga sangat memuliakan tamunya, meskipun belum
siap atau persiapan apa saja tetapi orang rumah atau orang tempat ini berusaha
memberikan pelayanan yang sangat baik, contohnya menawari minum atau makan,
menawari tidur ditempat yang sedang bertamu itu. Dan berusaha memberikan
kenyamanan kepada tamu yang sangat luar biasa. Berbeda lagi dengan tamu yang
sudah diketahui kedatangannya, maka orang rumah atau orang tempat itu pasti mempersiapkan
berbagai hidangan atau persembahan yang bisa membuat tamu senang dan nyaman,
contoh tamu para undangan atau tamu khusus lainnya maka orang rumah atau orang
tempat pasti menyambutnya dengan meriah, mempersembahkan tarian khas Aceh,
memberikan makan, menyediakan tempat, dan melayani selayaknya raja, seperti
pepatah mengatakan “ tamu itu adalah raja” maka memuliakan tamu bagi orang aceh
adalah keharusan yang hamper menjadi kewajiban menurut orang aceh.
Keinginan orang
Aceh dalam memuliakan tamu sangatlah kuat, hal ini dapat dilihat dari kondisi
ekonomi sipemulia tamu. Beragam cara diupayakan untuk menyambut dan memuliakan
tamu semaksimal mungkin walaupun secara materi tidak semewah yang diharapkan.
Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi beban dan terus dilakukan dengan penuh
keikhlasan.
Keakraban dan rasa
kepedulian bagi sesama dalam hal memuliakan tamu yang sering dilihat adalah
saling menghormati dan menghargai sesama meskipun tidak saling mengenal,
contohnya dalam lingkungan bebas disaat ada orang lagi mendapatkan musibah atau
masalah dalam perjalanan maka orang setempat mau membantu dan peduli kepada
orang tersebut, berbagai macam tawaran bantuan yang diberikan untuk orang yang
sedang mendapatkan masalah.
Kearifan lokal masyarakat Aceh memuliakan tamu
(peumulia jamee) dalam penanganan pengungsi Imigran Rohingya di Provinsi Aceh
adalah salah satu contoh lainnya yang bisa dilihat oleh dunia. Pandangan orang
Aceh dalam memuliakan tamu tidak memandang kasta atau status sosial, kaya atau
miskin, berpendikan dan tidak berpendidikan, akan tetapi sama rata.
budaya “peumulia jamee” mampu memperkokoh dan
memupuk rasa persaudaraan baik sesama orang Aceh maupun bukan orang Aceh.
Dengan adanya sifat atau budaya peumulia jamee maka tamu-tamu dari luar daerah berkeinginan
untuk datang atau mengunjungi Aceh dikarena kenyaman dan keakraban yang
diberikan oleh orang Aceh.
Sifat memuliakan tamu sudah tertanam bagi semua
orang Aceh yang sudah turun menurun hingga sekarang meskipun caranya sudah agak
berbeda atau sudah tidak sekental dulunya lagi. Hal tersebut dikarenakan
pendidikan dan lingkungan yang sudah berbeda.

Post a Comment