Makala Psikolinguistik
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Hakikat
Bahasa
Hakikat bahasa mengacu pada pembicaraan sistem/struktur atau Langue,
sedangkan fungsi bahasa menyangkut pula pembicaraan proses atau parole
(Saussure, 1993, Kleden, 1997:34).
Tarigan (1990:2-3) mengemukakan adanya delapan prinsip dasar hakikat
bahasa, yaitu (1) bahasa adalah suatu sistem, (2) bahasa adalah vokal, (3)
bahasa tersusun daripada lambang-lambang arbitrari, (4) setiap bahasa bersifat
unik, (5) bahasa dibangun daripada kebiasaan-kebiasaan, (6) bahasa ialah alat
komunikasi, (7) bahasa berhubungan erat dengan tempatnya berada, dan (8) bahasa
itu berubah-ubah.
Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak
teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan
bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut
untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu,
kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan
bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau
istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes,
sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan
tujuan tertentu. Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang
digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk
mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk
mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu,
dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Psikolinguistik
Psikolinguistik mempelajari faktor-faktor psikologis dan neurobiologis yang
memungkinkan manusia mendapatkan, menggunakan, dan memahami bahasa (wikipedia).
Selain itu, Garnham (1985:1) menyatakan bahwa psikolinguistik adalah kajian
tentang mekanisme- mekanisme mental yang menjadikan manusia menggunakan bahasa.
Psikolinguistik membahas
hubungan bahasa dengan otak dalam memproses dan mengkomunikasikan ujaran dan
dalam akuisisi bahasa Hal yang penting adalah bagaimana memproses dan
menghasilkan ujaran dan bagaimana akui sisi bahasa itu berlangsung. Proses
bahasa berlangsung adalah pekerjaan otak. Yang tidak dimengerti dan tidak diketahui
yang pasti ialah bagaimana proses pengolahan bahasa sehingga berwujud
satuan-satuan yang bermakna dan bagaimana proses pengolahan satuan ujaran yang
dikirim oleh pembicara sehingga dapat dimengerti pendengar. Yang pasti segala
sesuatu berada dalambatabatas kesadaran ( Hartley), Psikolinguistik secara
langsung berhubungan dengan proses kode dan mengkode seperti orang berkomukasi
(Carles Osgood dan Thomas Sabeok ), Psikolinguistik adalah gabungan melalui
psikologi dan linguistik. Bagaimana telaah atau studi pengetahuan bahasa,
bahasa dalam pemakaian , dan perubahan bahasa. Menurut Lado psikologi hanya
merupakan pendekatan. Pendekatan untuk menelaah pengetahuan bahasa, pemakaian
bahasa dan perubahan bahasa (Robert Lado ), Psikolinguistik adalah ilmu yang meneliti
bagaimana sebenarnya pembicara membentuk dan membangun suatu atau mengerti
kalimat tersebut. Hal ini mengacu pada domain kognitif, yakni
bagaimana bahasa berproses dalam otak kita. Bahasa yang diwujudkan dalam
kalimat dihasilkan oleh pebicara yang kemudian diusahakan untuk dimengerti oleh
pendengar. ( Emon Back ), Psikolinguistik merupakan telaah akuisisi bahasa dan
tingka laku linguistik terutama mekanisme psikologis yang bertujuan pada kedua
bahasa tersebut. Akuisisi bahasa bersangkut paut dengan proses pemerolehan
bahasa. Tingkah laku linguistik mengacu pada proses kompetensi dan performance
bahasa. Proses ini bahasa ini tetap dalam otak. Oleh karena itu mekanisme
psikologi sangat berperan ( Langacker ), Psikolinguistik dalam pengertian luas
membicarakan hubungan antara psean dengan sifat-sifat kemandirian manusia yang
menyeleksi dan nmenafsirkan pesan ( Diebolt ) dan Psikolinguistik adalah
hubungan antara kebutuhan kita untuk berekpresi dan berkomukasi dan benda-benda
yang ditawarkan kepada kita melalui bahasa yang kita pelajari sejak kecil dan
tahap-tahap selanjutnya ( Paul Fraisse )
2.2. Cabang
– Cabang Ilmu Psikolinguistik
Psikolinguistik telah menjadi bidang ilmu
yang sangat luas dan kompleks dan berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa
cabang ilmu psikolinguistik. Diantara cabang ilmu psikolinguistik adalah
sebagai berikut :
1.
Psikolinguistik Teoritis
2.
Psikolinguistik Perkembangan
3.
Psikolinguistik Sosial
4.
Psikolinguistik Pendidikan
5.
Psikolinguistik Neurology (
neuropsikolinguistik )
6.
Psikolinguistik Eksperimen
7.
Psikolinguistik Terapan
2.3 Tahap
Perkembangan Bahasa Anak
M. Schaerleakens (1977)
membagi fase-fase perkembangan bahasa anak dalam empat periode. Perbedaan
fase-fase ini berdasarkan pada ciri-ciri tertentu yang khas pada setiap
periode. Adapun tahap - tahap tersebut sebagai berikut :
1.
Tahap Prelingual (usia 0 – 1 tahun)
Disebut demikian karena
anak belum dapat mengucapkan ‘bahasa ucapan’ seperti yang diucapkan orang
dewasa, dalam arti belum mengikuti aturan-aturan bahasa yang berlaku. Pada
periode ini anak mempunyai bahasa sendiri, misalnya mengoceh sebagai ganti
komunikasi dengan orang lain. Contohnya baba,mama, tata, ayng mungkin merupakan
reaksi terhadap situasi tertentu atau orang tertentu sebagai awal suatu
simbolisasi karena kematangan proses mental pada usia 9-10 bulan.
2.
Tahap Lingual Dini (1 – 2,5 tahun)
Pada periode ini anak mulai mengucapkan perkataannya yang pertama, meskipun
belum lengkap. Misalnya: atia (sakit), agi (lagi), itut (ikut), atoh (jatuh).
Pada masa ini beberapa kombinasi huruf masih sukar diucapkan, juga beberapa
huruf masih sukar untuk diucapkan seperti r, s, k, j, dan t. pertambahan
kemahiran berbahasa pada periode ini sangat cepat dan dapat dibagi dalam tiga
periode, yaitu:
a) Periode kalimat satu kata (
holophrare)
b) Tahap kalimat dua kata
c) Kalimat
lebih dari dua kata
3.
Tahap Diferensiasi (usia 2,5 – 5 tahun)
Yang menyolok pada
periode ini adalah keterampilan anak dalam mengadakan diferensiasi dalam
penggunaan kata-kata dan kalimat-kalimat. Secara garis besar ciri umum
perkembangan bahasa pada periode ini adalah sebagai berikut:
Pada akhir periode
secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya hukum-hukum
tatabahasa yang pokok dari orang dewasa telah dikuasai. Perkembangan fonologi
boleh dikatakan telah berakhir. Mungkin masih ada kesukaran pengucapan konsonan
yang majemuk dan sedikit kompleks. Perbendaharaan kata sedikit demi sedikit
mulai berkembang. Kata benda dan karta kerja mulai lebih terdiferensiasi dalam
pemakaiannya, hal ini ditandai dengan penggunaan kata depan, kata gati dank at
kerja bantu. Fungsi bahasa untuk komunikasi benar-benar mulai berfungsi.
Persepsi anak dan pengalamannya tentang dunia luar mulai ingin dibaginya dengan
orang lain, dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, membri tahu dan
lain-lain. Mulai terjadi perkembangan di bidang morfologi, ditandai dengan
munculnya kata jamak, perubahan akhiran, perubahan kata karja, dan lain-lain.
4.
Tahap Perkembangan bahasa sesudah usia 5
tahun
Dalam periode ini ada anak dianggap telah menguasai struktur sintaksis
dalam bahasa pertamanya, sehingga ia dapat membuat kalimat lengkap. Jadi sudah
tidak terlalu banyak masalah. Menurut Piaget, pada periode ini perkembangan
anak di bidang kognisi masih berkembang terus sampai usia 14 tahun, sedangkan
peranan kognisi sanga t besar dalam penggunaan bahasa. Dengan masih terus
berkembangnya kognisi, dengan sendirinya perkembangan bahasa juga masih
berkembang.
2.4 Pemerolehan Bahasa Pertama
Bila kita mengamati perkembangan kemampuan berbahasa anak, kita akan
terkesan dengan pemerolehan bahasa anak yang berjenjang dan teratur. Padausia
satu tahun anak mulai mengucapkan kata-kata pertamanya yang terdiri dari
satukata yang kadang-kadang tidak jelas tetapi sesungguhnya bermakna banyak.
Contoh anak mengucapkan kata “makan” maknanya mungkin ingin makan, sudah
makan,lapar atau mungkin makanannya tidak enak, dsb. Pada perkembangan
berikutnya mungkin anak sudah dapat mengucapkan dua kata, contoh, “mama masak”,
yang maknanya dapat berarti: ibu masak, ibu telah masak, atau ibu akan masak
sesuatu. Demikian seterusnya hingga umur enam tahun anak telah siap menggunakan
bahasanya untuk belajar di sekolah dasar, sekaligus dengan bentuk-bentuk
tulisannya. Uraian di atas adalah contoh singkat bagaimana seorang anak
menguasai bahasa hingga enam tahun. Proses anak mulai mengenal komunikasi
dengan lingkungannya secara verbal itulah yang disebut dengan pemerolehan
bahasa anak. Jadi pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak pada awal
kehidupannya tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa
perolehan bahasa tersebut,bahasa anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi
daripada bentuk atau strukturbahasanya. Anak akan mengucapkan kata berikutnya
untuk keperluan komunikasinya dengan orang tua atau kerabat dekatnya.
Ada dua pandangan mengenai pemerolehan bahasa (McGraw dalam Krisanjaya,
1998). Pertama pemerolehan bahasa mempunyai permulaan mendadak atau tiba-tiba.
Kebebasan berbahasa dimulai sekitar satu tahun ketika anak-anak menggunakan
kata-kata lepas atau terpisah dari simbol pada kebahasaan untuk mencapai aneka
tujuan sosial mereka. Pandangan kedua menyatakan bahwa pemerolehan bahasa
memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dariprestasi-prestasi motorik,
sosial dan kemampuan kognitif pralinguistik.
Khusus mengenai hubungan perkembangan kognitif dengan perkembangan bahasa
anak dapat disimpulkan 2 hal. Pertama, jika seorang anak dapat menghasilkan
ucapan-ucapan yang berdasar pada tata bahasa yang teratur rapi tidaklah secara
otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai bahasayang bersangkutan
dengan baik. Kedua, penutur bahasa harus memperoleh kategori-kategori kognitif
yang mendasari berbagai makna ekspresif bahasa alamiah, seperti:waktu, ruang,
kausalitas dan sebagainya.
Lenneberg salah seorang ahli teori belajar bahasa yang sangat terkenal
(1969) mengatakan bahwa perkembangan bahasa bergantung pada pematangan
otaksecara biologis. Pematangan otak memungkinkan ide berkembang dan
selanjutnya memungkinkan pemerolehan bahasa anak berkembang. Terdapat banyak
bukti,manusia memiliki warisan biologis yang sudah ada sejak lahir
berupakesanggupannya untuk berkomunikasi dengan bahasa, khusus untuk manusia.
Bukti yang memperkuat pendapatnya itu, antara lain:
1.
Kemampuan berbahasa sangat erat
hubungannya dengan bagian-bagiananatomi dan fisiologi manusia, seperti bagian
otak tertentu yang mendasaribahasa. Tingkat perkembangan bahasa anak sama bagi
semua anak normal.
2.
Kelainan hanya sedikit berpengaruh
terhadap keterlambatan perkembanganbahasa anak.
3.
Bahasa tidak dapat diajarkan kepada
makhluk lain.
4.
Bahasa bersifat universal, setiap bahasa
dilandasi unsur fonologi, semantikdan sintaksis yang universal.
Lebih jauh Steinberg (1990) seorang ahli psikolinguistik, menjelaskan
perihal hubungan bahasa dan pikiran. Menurutnya sistem pikiran yang terdapat
pada anak-anakdibangun sedikit-demi sedikit apabila ada rangsangan lingkungan
sekitarnya sebagai masukan atau input. Input ini dapat berupa apa yang
didengar, dilihat dan apa yangdisentuh anak yang menggambarkan benda, peristiwa
dan keadaan sekitar anak yang mereka alami. Lama-kelamaan pikirannya akan
terbentuk dengan sempurna. Apabila pikiran telah terbentuk dengan sempurna dan
apabila masukan bahasa dialami secara serentak dengan benda, peristiwa, dan
keadaan maka barulah bahasa mulai dipelajari. Lama-kelamaan sistem bahasanya
lengkap dengan perbendaharaan kata dan tata bahasanya pun terbentuklah.
Sebagian dari sistem bahasanya adalah sistem pikirannya karena makna dan semantik
bahasa yang digunakan adalah ide yang merupakan bagian dari isi pikirannya
Sistem pikiran dan bahasa bergabung melalui makna danide.
Walaupun masih terdapat perbedaan tentang teori pemerolehan bahasa
anak,tetapi kita semua meyakini bahwa bahasa merupakan media yang dapat
dipergunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama dan
nilai-nilai lain yang hidupdi masyarakat.. Pemerolehan bahasa pertama erat
kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya erat hubungannya dengan
pembentukan identitas sosial. Apabila seorang anak menggunakan ujaran-ujaran
yang bentuknya benar atau gramatikal, belum berarti ia telah menguasai bahasa
pertama. Agar seorang anak dapat disebut menguasai bahasa pertama ada beberapa
unsur penting yang berkaitan dengan perkembangan kognitif anak, yaitu pemahaman
tentang waktu, ruang, modalitas,sebab akibat yang merupakan bagian penting
dalam perkembangan kognitif penguasaanbahasa ibu seorang anak.
Sejak bayi, anak telah berinteraksi di dalam lingkungan sosialnya. Jika
Anda memperhatikan seorang ibu, ayah atau keluarga yang memiliki seorang bayi,
padaumumnya mereka sudah sejak awal mengajak bicara pada bayi dan memperlakukan
bayi tersebut seolah-olah sudah dapat berbicara. Pola bicara mereka sudah dua
arah, orang tua berusaha menanggapi setiap reaksi bayi dan bertindak
seolah-olah reaksi bayi tersebut ada maknanya dan perlu ditanggapi. Melalui
bahasa khususnya bahasa pertama, seorang anak belajar untuk menjadi anggota
masyarakat. Dengan demikian bahasa ibu (bahasa pertama) menjadi salah satu
sarana bagi seorang anak untukmengungkapkan perasaan, keinginan, pendirian,
gagasan, harapan, dan sebagainya. Anak belajar pula bahwa ada bentuk-bentuk
yang tidak dapat diterima anggota masyarakatnya dan ia tahu bahwa tidak selalu
ia dapat mengungkapkan perasaannya secara gamblang.
Ujaran-ujaran yang dituturkan secara salah dari seorang anak masih dapat
dimaklumi, tetapi ia harus sudah mulai belajar bahwa ada norma budaya tertentu
yangharus diperhatikan, yang berubah sesuai kemajuan zaman. Ada ciri lain yang
khas dari seorang anak ketika sudah masuk sekolah dasar yaitu keinginan yang
kuat untukmenyatu dengan anggota masyarakat sekelilingnya, khususnya dengan
anak sebayanya. Kalau anak-anak sebayanya menggunakan kata-kata seperti: asyik,
oke,bo, mah, tea,bokap, nyokap dan sebagainya, maka dengan segera
istilah-istilah itu akandigunakannya juga.
2.5 Strategi Pemerolehan
Bahasa Pertama
Anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa pada umumnya menggunakan 4
strategi.
1. Strategi pertama adalah
meniru/imitasi. Berbagai penelitian menemukanberbagai jenis peniruan atau
imitasi, seperti : imitasi spontan, imitasi perolehan, imitasi segera, imitasi
lambat dan imitasi perluasan.
2. Strategi kedua dalam pemerolehan
bahasa adalah strategi produktivitas. Produktivitas berarti keefektifan dan
keefisienan dalam pemerolehan bahasa melalui sarana komunikasi linguistik dan
non linguistik (mimik, gerak, isyarat, suara dsb).
3. Strategi ketiga adalah strategi umpan
balik, yaitu umpan balik antara strategiproduksi ujaran (ucapan) dengan
responsi.
4. Strategi keempat adalah apa yang
disebut prinsip operasi. Dalam strategi inianak dikenalkan dengan pedoman,
“Gunakan beberapa prinsip operasi umum untukmemikirkan serta menggunakan
bahasa” hindarkan kekecualian, prinsip khusus : seperti kata: berajar menjadi
belajar).
2.6 Pemerolehan
Bahasa Kedua
Pemerolehan bahasa kedua dimaknai saat seseorang memperoleh sebuah bahasa
lain setelah terlebih dahulu ia menguasai sampai batas tertentu bahasa
pertamanya (bahasa ibu). Ada juga yang menyamakan istilah bahasa kedua sebagai
bahasa asing. Khusus bagi kondisi di Indonesia, istilah bahasa pertama atau
bahasa ibu, bahasa asli atau bahasa utama, berwujud dalam bahasa daerah
tertentu sedangkan bahasa kedua berwujud dalam bahasa Indonesia dan bahasa
asing. Tujuan pengajaran bahasa asing kadang-kadang berbeda dengan
pengajaran bahasa kedua.Bahasa kedua biasanya merupakan bahasa resmi di negara
tertentu, oleh karenanya bahasa kedua sangat diperlukan untuk kepentingan
politik, ekonomi dan pendidikan.
Terdapat perbedaan dalam proses belajar bahasa pertama dan bahasa kedua.
Proses belajar bahasa pertama memiliki ciri-ciri : belajar tidak disengaja,
berlangsung sejak lahir, lingkungan keluarga sangat menentukan ,
motivasi ada karena kebutuhan, banyak waktu untuk mencoba bahasa dan
banyak kesempatan untuk berkomunikasi.
Pada proses belajar bahasa kedua terdapat ciri-ciri:
1.
belajar bahasa disengaja, misalnya karena
menjadi salah satu mata pelajarandi sekolah
2.
berlangsung setelah pelajar berada di
sekolah
3.
lingkungan sekolah sangat menentukan
4.
motivasi pelajar untuk mempelajarinya
tidak sekuat mempelajari bahasapertama. Motivasi itu misalnya ingin memperoleh
nilai baik pada waktuulangan atau ujian.
5.
waktu belajar terbatas
6.
pelajar tidak mempunyai banyak waktu untuk
mempraktikan bahasa yangdipelajari.
7.
bahasa pertama mempengaruhi proses belajar
bahasa kedua.
8.
umur kritis mempelajari bahasa kedua
kadang-kadang telah lewat sehinggaproses belajar bahasa kedua berlangsung lama.
9.
disediakan alat bantu belajar
10.
ada orang yang mengorganisasikannya, yakni
guru dan sekolah.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Hakikat bahasa menurut pendapat Brown yang juga dikutip dari Tarigan
(1990:4), yaitu : bahasa adalah suatu sistem yang sistematik, barang kali juga
untuk sistem generatif, bahasa adalah seperangkat lambanglambang arbitrari,
lambang-lambang tersebut, terutama sekali bersifat vokal tetapi mungkin juga
bersifat visual, lambang-lambang itu mengandung makna konvensional, bahasa
dipergunakan sebagai alat komunikasi, bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat
bahasa atau budaya, bahasa pada hakikatnya bersifat kemanusiaan, walaupun
mungkin tidak terbatas pada manusia sahaja, bahasa diperoleh semua orang/bangsa
dengan cara yang hampir/banyak persamaan dan bahasa dan belajar bahasamempunyai
ciri kesejagatan.
Asal Usul bahasa pada spesies manusia adalah suatu topik yang didiskusikan
secara luas. Walaupun begitu, tidak ada konsensus mengenai asal awal atau waktu
awalnya. Bukti empiris sangat terbatas, dan banyak ilmuwan terus menganggap
semua topik secara keseluruhan tidak cocok untuk dipelajari secara serius.
Psikolinguistik adalah ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya pembicara
membentuk dan membangun suatu atau mengerti kalimat tersebut. Hal
ini mengacu pada domain kognitif, yakni bagaimana bahasa berproses dalam otak
kita. Bahasa yang diwujudkan dalam kalimat dihasilkan oleh pebicara yang
kemudian diusahakan untuk dimengerti oleh pendengar.
DAFTAR PUSTAKA
Gunarwan, Asim. 1994. “Kesantunan
Negatif di Kalangan Dwibahasawan Indonesia-Jawa di Jakarta” dalam PELBA 7.
Jakarta: Unika Atmajaya Press.
Leech, Geoffrey.1983. Principles
of Pragmatics. London: Longman
Rohmadi, Muhammad.
2004. Pragmatik Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media
Tarigan, Henry Guntur. 1990. Kedudukan dan fungsi
bahas. Bandung: Angkasa
Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta:
Andi Offset
Dardjowdjojo, Soenjono, Psikolinguistik Pemahaman Bahasa
Manusia, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia, 2003.
Chaer, Abdul, 2009,
Psikolinguistik Kajian Teoritik, Jakarta; PT Rineka Cipta.
[Anonim, 2011a] http://bintangbangsaku.com/artikel/2009/11/perkembangan-bahasa- komunikasi.html (31 Oktober 2011)
[Anonim, 2011b] http://sakri-clearesta.blogspot.com/2009/05/perkembangan-bahasa- anak.html (31 Oktober
2011)

Post a Comment