Makalah Konflik
BAB I
PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
Konflik
merupakan kondisi yang terjadi ketika dua pihak atau lebih mengaggap ada
perbedaan posisi yang tidak selaras, tidak cukup sumber dan tindakan salah satu
pihak menghalangi, atau mencampuri dalam beberapahal membuat tujuan pihak lain
kurang berhasil. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbeidaan,
diantaranya cici fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan
lain sebagainya.
2.
RUMUSAN
MASALAH
a.
Apa defenisi dari konflik itu?
b.
Bagaimana konflik dalam konflik
keluarga?
c.
Bagaimana konflik orang tua-anak?
d.
Bagaimana
pengelolaan konflik?
e.
Apa beda
konflik dan persaingan?
f.
Apa saja
tipe-tipe konflik?
3.
TUJUAN
a.
Mengetahui defenisi konflik?
b.
Mengetahui
karakteristik konflik dalam keluarga itu?
c.
Mengetahui
konflik orang tua-anak?
d.
Mengetahui
pengelolaan konflik itu?
e.
Mengetahui beda
konflik dan persaingan itu?
f.
Mengetahui tipe-tipe
konflik itu?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Defenisi
Konflik
Secara
bahasa konflik identic dengan percocokan, perselisihan, dan pertengkaran.
Adapun dalam bahasa inggris conflict sebagai noun berarti a serious
disagreement or argument, sedangkan sebagai verb berarti be incompatible or
clash. Walaupun demikian, sebagai kajian menunjukkan bahwa keberadaan konflik
tidak selalu berakibat buruk. Selain dapat akibat buruk, konflik juga dapat
menumbuhkan hal-hal positif.
Konflik
juga dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pertentangan alamiah yang dihasilkan
oleh individu atau kelompok yang berbeda etnik ( suku bangsa, ras, agama,
golongan), karena diantara mereka memilikiperbedaan dalam sika, kepercayaan,
nilai atau kebutuhan. Sringkali konflik itu di mulai dengan hubungan
pertentangan antara dua atau lebih etnik ( individu atau kelompok ) yang
memiliki, atau merasa memiliki,
sasaran-sasaran tertentu namun diliputi pemikiran, perasaan atau
perbuatan yang tidak sejalan. Bentuk pertentangan alamiah di hasilkan oleh
individu atau kelompok etnik, baik intraetnik maupun antaretnik, yang memiliki
perbedaan dalalam sikap, kepercayaan, nilai-nilai atau kebutuhan.
Konflik
dapat didefenisikan sebagai peristiwa social yang mengandung penentangan atau
ketidaksetujuan.
Dalam perspektif materialisme
dialektik terdapat kekuatan dari perkembangan individu dan social yang dapat mendorong
terjadinya konflik dalam proses material dialam dan masyarakat. Materialisme
dialektik berpandangan bahwa segala sesuatu digubah dengan memiliki sisi yang
berlawanan, sehingga ada dinamika dari saling berhubungannya segala sesuatu dan
membuat perubahan menjadi bersifat universal. Berfikir dialektik berarti selalu
melihat sudut pandang yang berlawanan dan delalu berupaya menyintesiskan antara
tesis dan antitetis. Didunia ini terdapat kategori-kategori beroposisi yang
terpisah satu sama lain (mutually exclusive) sekaligus bersama-sama membentuk
keseluruhan, hidup-mati, baik-buruk.
Konflik mencerminkan adanya suatu
ketidakcocokan (incompati billity), baik ketidakcocokan karena berlawanan
maupun karena perbedaan. Selain berpangkal pada ketimpangan alokasi sumber daya
ekonomi dan kekuasaan, konflik juga dapat bersumber pada perbedaan nilai dan
identitas. Kesalahan persepsi dan kesalahan komunikasi turut berperan dalam
proses evolusi ketidakcocokan dalam hubungan. Oleh karena itu, konflik berjalan kearah yang positif atau
negative bergantung pada ada atau tidaknya proses yang mengarah pada saling
pengertian. Namun adakala nya suatu konflik terjadi sekadar untuk menyalurkan
naluri agresif, untuk berjuang atau melawan tanpa tahu atas dasar apa. Yang
biasanya ini menyulitkan proses negoisasi
Dalam perspekti fFreud, konflik
terjadi karena adanya ketidakcocokan antara hasrat individu tuntutan masyarakat
dan aturan, sehingga menimbulkan kecemasan dan prtahanan diri terhadap
kecemasan. Erikson kemudian menjelaskan bahwa konflik terjadi dalam tiga level.
·
Level pertama,
konflik yang terjadi ketika kepribadian anak atau individu berhadapan dengan
tuntutan orang tua atau masyarakat.
·
Level kedua,
adalah konflik yang terjadi didalam diri individu, Misalnya antara percaya dan
tidak percaya.
·
Level ketiga,
adalah konflik yang terjadi dalam menentukan cara beradaptasi.
Thomas (1992) mendefenisikan konflik
sebagai proses yang bermula saat salah satu pihak menganggap pihak lain
menggagalkan atau berupaya menggagalkan kepentingannya. Adapun McCollum (2009)
mendefenisikan konflik sebagai prilaku seseorang dalam rangka beroposisi dengan
pikiran, perasaan dan tindakan orang lain. Dengan demikian, secara garis besar
konflik dapat didefenisikan sebagai peristiwa social yang mencakuppenentengan
(oposisi) atau ketidaksetujuan. Dunn dan Slomkowski menunjukkan empat area
pengertian sosial yang dapat berkembang karena konflik, yaitu dalam memahami
perasaan dan maksud orang lain., dalam memegangi norma dan konvensi yang
memandu prilaku, dalam memilih strategi berkomunikasi, dan dalam mengenali
berbagai perbedaan yang relavan dalam hubungan antar pribadi.
Konfllik mungkin akan menyebabkan
munculnya emosi negative seperti jengkel, marah, atau takut. Namun hasil akhir
dari keberadaan konflik, sangat bergantung pada strategi yang digunakan untuk
menanganinya. Dengan pengolahan yang baik, konflik justru dapat semakin
memperkukuh hubungan dan meningkatkan kepaduan dan rasa solidaritas. James
Schellenberg, sebagaimana dikutip oleh McCollum (2009), mengemukakan bahwa
konflik sepenuhnya merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat yang harus
dianggap penting, yaitu untuk merangsang pemikiran – pemikiran yang baru,
mempromosikan perubahan social, menegaskan hubungan dalam kelompok, membantu kita
membentuk perasaan tentang identitas pribadi, dan memahami berbagai hal yang
kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
B. Karakteristik
Konflik Dalam Keluarga
Keluarga merupakan salah satu unit
social yang berhubungan antar anggotanya terdapat saling ketergantungan yang
tinggi. Oleh karena itu, konflik dalam keluarga merupakan suatu keniscayaan.
Konflik didalam keluarga terjadi Karena adanya prilaku oposisi atau
ketidaksetujuan antara anggota keluarga. Prevalensi konflik dalam keluarga
berturut-turut adalah konflik sibling, konflik orang tua-anak, dan
konflik pasangan. Walaupun demikian, jenis
konflik yang lain juga dapat muncul, misalnya menantu-mertua, dengan
saudara ipar dan paman/bibi. Factor yang membedakan konflik didalam keluaga
dengan kelompok social yang lain adalah karakteristik didalam hubungan keluarga
yang menyangkut tuga aspek, yaitu intensitas, kompleksitas, dan durasi.
Benci tetapi rindu merupakan
ungkapan yang mewakili bagaimana pelik atau kompleksnya hubungan dalam
keluarga. Seorang istri yang sudah mengalami KDRT dan melaporkan suaminya ke
polisi, bahkan masih setia mengunjungi
suaminya di penjara dengan membawakannya makanan. Atau seorang anak yang tetap
memilih tinggal dengan orang tua yang melakukan kekerasan daripada tempat orang
lain. Hal ini dikarenakan ikatan emosi yang positif lebih besar daripada penderitaan yang muncul
karena konflik.
Hubungan
dalam keluarga merupakan hubungan yang bersifat kekal. Orang tua akan selalu
menjadi orang tua, demikian juga saudara. Tidak ada istilah mantan orang tua
atau mantan saudara. Oleh karena itu, dampak yang dirasakan dari konflik
keluarga sering kali bersifat jangka panjang. Bahkan seandainya konflik
dihentikan dengan mengaakhiri hubungan, misalnya berupa perceraian atau minggat
dari rumah, sisa-sisa dampak psikologis
dari konflik tetap membekas.
Oleh karena itu sifat konflik yang
normatif, artinya tidak bisa di elakan, maka vitalitas hubungan dalam keluarga
sangat bergantung pada resppons masing-masing terhadapa konflik. Frekuensi
konflik mencerminkan kualitas hubungan, artinya pada hubungan yang berkualitas,
frekuensi konflik lebih sedikit. Kualitas hubungan dapat memengaruhi cara
individu dalam membingkai persoalan konflik. Suatu topic konflik seperti
prilaku tidak mengerjakan tugas dapat berubah menjadi konflik yang mendalam,
apabila dibingkai sebagai karakteristik kepribadian, seperti sikap tidak
bertanggung jawab. Walaupun demikian, banyak keluaga yang sering mengalami
konflik, namun tetap dapat berfungsi dengan baik. Salah satu factor penting
yang tetap membuat keluarga berfungsi dengan baik adalah karena konflik
tersebut diselesaikan, tidak dibiarkan atau dianggap akan hilang seiring waktu.
Seperti diungkapkan Rueter dan Conger, keluarga yang memiliki interaksi hangat
menggunakan pemecahan masalah yang konstruktif, adapun keluarga dengan
interaksi bermusuhan menggunakan pemecahan masalah yang destruktif.
C. Konflik
Orang Tua-Anak
Secara naluriah orang tua akan
menganggap anaknya sebagai bagian paling penting dalam hidupnya. Dalam posisi
tersebut orang tua akan berusaha mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan anak.
Dengan perspektif yang demikian seharusnya konflik orang tua-anak tidak akan
terjadi, karena orang tua akan senantiasa berkorban untuk anaknya. Namun dalam
hubungan orang tua-anak ssering kali juga mengandung perspektif kekuasaan dan
kewenangan. Selain terdapat aspek ketanggapan dalam merespons kebutuhan anak,
juga terdapat aspek tuntutan yang mencerminkan harapan orang tua terhadap sikap
dan prilaku anak. Akhirnya hubungan orang tua-anak pun biasanya diwarnai dengan
berbagai perbedaan dan konflik. Sumber utama konflik pada umumnya adalah
ketidakcocokan antara perspektif anak dan perspektif orang tua.
1.
Konflik pada
Masa Kanak-kanak
Masa kehamilan masa yang peka dalam
menjaga keseimbangan antara upaya janin untuk sebesar mungkin mengambil baguan
dari tubuh ibu untuk perkembangan dirinya,dan upaya ibu untuk mempertahankan
sumber daya untuk dirinya dan janin-janin yang lain dikemudian hari. Gen-gen
janin akan terseleksi untuk meningkatkan perpindahan nutrisi menuju janin,
demikian juga gen-gen ibu akan terseleksi untuk membatasi perpindahan nutrisi
yang dapat melebihi dari derajat optimum. Upaya penyimpangan ini sering kali menimbulkan gejala-gejala
yang tidak menyenangkan bagi ibu, dan bahkan dapat menimbulkan komplikasi yang
serius.
Ketika bayi sudah lahir dan
mengalami perkembangan diluar tubuh ibu, salah satu konflik yang permulaan
muncul dalam hubungan orang tua-anak adalah konflik pada masa penyapihan (weading
conflict), biasanya setelah anaak berusia satu tahun. Proses
penyampihan mulai dialami anak oleh
karena kehamilan bayi berikutnya, atau karena anak dianggap sudah berada pada
usia yang cukup untuk mlai mengalami perpisahan sementara dengan ibunya.
Pada
perkembangan berikutnya,yang banyak mendapat perhatian dalam pengkajian konflik
orang tua-anak adalah ketika anak menginjak usia dua tahun ( toddler). Pada
masa tersebut anak mulai banyak mengalami perkembangan dalam keterampilan
bahasa dan motoric, dan mulai banyak mengalami masalah prilaku. Prilaku
eksternalisasi dan agresi merupakan masalah
Prilaku yang banyak mendapat perhatian
pada masa perkembangan ini. Berbagai kajian menyoroti tiga factor yang
menyebabkan munculnya masalah prilaku, yaitu:
·
Faktor internal
yang berupa gender, temperamen, dan proses regulasi diri
·
Faktor
sosialisasi, yang terjadi dalam interaksi dan relasinya dengan keluarga maupun
teman sebaya
·
Faktor
eksternal, yang berupa status social ekonomi dan struktur keluarga.
2.
Konflik pada
Masa Remaja
Pada
umumnya masa remaja dianggap sebagai masa yang paling sulit dalam tahap
perkembangan individu. Para psikolog selama ini memberi lebel masa remaja
sebagai masa storm and stress. Untuk menggambarkan masa yang penuh
gejolak dan tekanan. Istilah storm and stress mermula dari psikolog
permulaan Amerika, Stanley Hall, yang menganggap bahwa storm and stress merupakan
fenomena universal pada masa remaja dan bersifat normative. Fenomena tersebut
terjadi karena remaja mengalami proses evolusi menuju kedewasaan. Setelah
memasuki masa dewasa, ibarat badai akan berlalu dan langit menjadi crah
kembali. Pandangan Hall tersebut selaras dengan paham psikoanalitik yang
menganggap masa remaja merupakan masa pertarungan antara id, yaitu hasrat untuk
mencari kesenangan seksual dan super-ego, yaitu tuntutan untuk mematuhi norma
dan moral social. Pergolakan yang dialami pada masa remaja merupakan refleksi
dari konflik internal dan ketidakseimbangan psikis.
Konflik remaja dengan orang rua
merupakan salah satu hal yang banyak mengundang perhatian para peneliti. Area
yang menjadi perhatian para umumnya adalah frekuensi terjadinya konflik, topic
yang menjadi konflik dan cara yang digunakan untuk melakukan resolusi konflik.
Beberpa perhatian menunjukkanpola kurvalinier pada intensitas konflik orang
tua-anak, yaitu meningkat pada remaja awal, mencapai puncaknya pada remaja
tengah, dan menurun pada remaja akir. Sementara beberapa penelitian lain
mengungkapkan kecendrungan menurun seca linear dengan intensitas konflik lebih
tinggi terjadi pada remaja awal dan menurun pada remaja akhir.
Berdasaarkan berbagai kajian tentang
teori sosialisasi,Leon Kuczynski dan Neil Hildebrandt (1997) merumuskan empat
model tentang kepatuhan dan penentangan dalam interaksi orang tua dengan anak.
Model tersebut adalah:
·
Model patuh dan
tidak patuh pada perintah orang tua yang menggunakan perspektif teori control
eksternal
·
Model kepatuhan
dari dalam diri yang menggunakan perspektif teori internalisasi
·
Model akomodasi
atau negosiasi yang menggunakan perspektif teori relasional
·
Model yang
merupakan paduan antara control eksternal , control internal, dan akomodasi
yang menggunakan yang menggunakan perspektif teori konteksual. Keempat model
tersebut menunjukkan bahwa terdapat berbagai perubahan dan perkembangan dalam
memandang konflik orang tua dengan remaja.
Temuan
Lestari dan Asyanti (2009) mengenai konflik antara remaja dan orang tua di
Surakarta memiliki kesamaan dalam pemanfaat waktu luang, penggunaan telepon,
tugas pekerjaan rumah, cara berpakaian, pemilihan teman, dan pacaran. Akan
tetapi, ditemukan pula konflik dalam hal prestasi belajar, karena prestasi
remaja belum sesuai dengan harapan orang tua dan remaja dipandang kurang rajin
belajar. Masalah lain yang menjadi sumber konflik adalah keterlambatan remaja
pulang ke rumah.
D. Pengelolaan
Konflik
Oleh karena konflik merupakan aspek
normatif dalam suatu hubungan, maka keberadaan konflik tidak otomatis berdampak
negatif terhadap hubungan maupun individu yang terlibat dalam hubungan. Konflik
baru akan berdampak negatif bila tidak terkelola dengan baik. Konflik dalam
keluarga yang tidak terkelola dengan efektif akan menjadi gejala atau factor
yang menyumbang akibat yang negatif pada individu maupun keluarga secara
keseluruhan.
Dalam
pengasuhan orang tua menggunakan berbagai strategi ketika menyosialisasikan
anak dalam menghadapi situasi konflik nilai. Strategi tersebut bervariasi
tergantung pada konteks situasi yang dihadapi, atau potensi yang pelanggaran
yang diakibatkan jika anak bertindak tidak konsisten dengan nilai yang
ditanamkan. Menurut hasil penelitian Padilla-Walker dan Thompson, terdapat
empat strategi yang digunakan oleh orang tua ketika pesan yang menimbulkan
konflik, yaitu:
1)
Coconing,
yaitu melindungi anak dari pengaruhmasyarakat luas denganmembatasi akses anak
terhadap nila-nilai alternative, atau kemampuan untuk berprilaku yang
bertentangan dengan nilai-nilai orang tua.
2)
Pre-arming,
orang tua mengantisipasi konflik nilai dan menyiapkan anak untuk menghadapinya
guna melawan dunia yang lebih luas.
3)
Compromise,
memberikan kesempatan pada anak untuk terpapar konflik nilai, namun tetap
mempertahankan elemen nilai keluarga dan control sebagai orang tua.
4)
Deference,oran
tua mengalah demi kebutuhan anak dan membiarkan anak mengambil keputusan
sendiri, meskipun hal tersebut bertentangan dengan keluarga.
Secara garis besar konflik orang
tua-anak sesungguhnya dapat berfungsi sebagai media penanaman nilai. Dapat
dikatakandemikian karena dalam menangani konflik dengan anak, orang tua
berkesempatan mengungkapakan harap-harapanya atau menyampaikan pesan-pesan
moral. Fungsi ini dapat berlangsung dan berhasil mendorong anak
menginternalisasikan nilai yang disampaikan apabila konflik dikelola secara
konsruktif.
E. Membedakan
Konflik dan Persaingan
Terkadang orang tidak dapat
membedakan konflik dengan kompotisi, dank arena itu kita perlu mengetahui
perbedaan antara keduanya. Banyak komunitas atau organisasi formal dalm
masyarakat dibangun berdasarkan tradisi persaingan, misalnya persaingan untunk
mendapatkan pekerjaan, untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik, untuk
memproleh fasilitasdan lainnya. Konflik dan kompotisi mempunyai akar yang sama,
dimana setiap individu atau kelompok selalu berjuang mencapai tujuan yang
dicita-citakan. Perbedaan terutama
terletak pada bentuk interferensi atau gangguan untuk mencapai tujuan.
F. Konteks
dan Sumber Konflik
Potensi konflik terjadi manakala
terjadi kontak antar manusia. Sebagai individu yang terorganisasi dalam
kelompok, individu ingin mencari jalan untuk memenuhi tujuannya. Peluang untuk
memenuhi tujuan itu hanya melalui pilihan bersaing secara sehat untuk
mendapatkan apa yang dibutuhkan, atau terpaksa terlibat dalam konflik dengan
pihak lain. Berarti, dalam setiap masyarakat, selalu ada peluang sangat besar
bagi terjadinya kompotisi dan konflik.
Ada
dua hal umum yang patut diprhatikan dalam membahas sumber atau sebab konflik,
yaitu:
v Kontek
tejadinya konflik
v Sumber-sumber
konflik
G.
Tipe-tipe
Konflik
Konflik memang terjadi dalam setiap
proses dari peristiwa hubungan antar manusia itu dapat terjadi dimana dan kapan
saja, mulai level antarpribadi sampai antarbangsa
Berikut
adalah tipe-tipe konflik:
1.
Konflik
Sederhana
o
Konflik personal
versus diri sendiri, adalah konflik yang terjadi Karena apa yang dipikirkan
atau yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan
o
Konflik personal
versus personal, adalah konflik antar personal yang bersumber dari perbedaan
karakter masing-masing personal.
o
Konflik personal
versus masyarakat, adalah konflik yang terjadi antara individu dan masyarakat
yang bersumber dari perbedaan keyakinan suatu kelompok atau keyakinan masya
rakat atau perbedaan hukum.
o
Konflik persona
versus alam, adalah konflik yang terjadi antara keberadaan personal dan tekanan
alam.
2.
Konflik dalam
Organisasi
Terdiri dari :
o
Konflik tugas (
task conflict ).
o
Konflik
antarpersonal ( interpersonal conflict ).
o
Konflik
procedural ( procedural conflict )
3.
Konflik
berdasarkan sifat
Dari segi dinamika, konflik
perproses dari:
o
Adanya keyakinan
bahwa setiap konflik mempunyai struktur tertentu, dan struktur itu umumnya
bersifat laten yang umumnya mempunyai karakteristik, sifat atau modus operandi
yang relative hamper sama dan berulang-ulang.
o
Akibatnya,
konfliklaten berubah menjadi konflik yang nyata ( manifest ).
o
Kadang-kadang
sifat konflik itu tidak laten juga tidak manifest, malainkan datang sebagai
sebuah peristiwa yang luar biasa karena tidak ada catatan modus operandi
sebelunya.
4.
Konflik
Berdasarkan Jenis Peristiwa dan Proses
Tipe konflik sebagai jenis
peristiwa:
o
Konflik biasa,
konflik yang terjadi hanya terjadi kesalah pahaman.
o
Konflik luar
biasa, konflik yang tidak berstruktur karena sebelumnya kita tidak mempunyai
catatan modus operandi.
o
Konflik
zero-sum ( game ), satu pihak menang dan satu pihak kalah ( win-lose ).
o
Konflik merusak,
konflik yang dari proses sampai hasilnya merusak sistem relasi social.
o
konflik yang
dapat dapat dipecahkan, karena dapat dipecahkan melalui keputusan bersama.
Tipe konflik sebagai
proses:
o
konflik yang
sedang terjadi.
o
Konflik dengan sifat
khusus.
o
Konflik non-zero
sum
o
Konflik
produktif.
o
Konflik yang
dapat dikelola.
5.
Konflik
Berdasarkan Faktor Pendorong
Tipe konflik berdasarkan :
o
Konflik
Internal, disebut konflik batin karena orang tidak mampu menghadapi tantangan.
o
Konflik eksternal,
kebalikan dari konflik internal.
o
Konflik
realisti, konflik yang nyata
o
Konflik tidak
realistis, artinya tidak jelas atau tidak nyata.
6.
Konflik
berdasarkan jenis ancaman
7.
konflik
berdasarkan apa, kapan, dimana konflik itu terjadi
8.
Konflik
berdasarkan cara memandang peristiwa atau isu
9.
Konflik
berdasarkan level permintaan.
H.
Faktor-faktor penyebab
terjadinya konflik
ü Perbedaan
individu yang meliputi perbedaanpendirian dan perasaan
ü Perbedaan
latang belakang kebudayaan sehingga mebentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
ü Perbedaan
kepentingan antara individu atau kelompok.
ü Perubahan-perubahan
nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat
I. Dampak Konflik
Dampak positif
·
Mendorong untuk
kembali mengkoreksi diri.
·
Meningkatkan
prestasi
·
Mengembangkan
alternative yang baik.
Dampak
Negatif
·
Menghambat
kerjasama.
·
Apriori : selalu
berapriori terhadap “lawan”
·
Saling
menjatuhkan.
J. Strategi penyelesaian konflik
Ø Kompotisi
Ø Akomodasi
Ø Sharing
Ø Kolaborasi
Ø Penghindaran.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
1.
Konflik sebagai
peristiwa sosial yang mencakup penentangan ( oposisi )atau ketidaksetujuan.
2.
Konflik dalam
keluarga lebih sering tejadi dan bersifat mendalam bila dibandingkan dengan
konflik dalam konteks social lain.
3.
Pada umumnya,
sumber utama konflik orang tua-anak adalah ketidakcocokan
antara perspektif anak dan perspektif orang tua.
4.
Orang tua
menggunakan strategi tertentu dalam menghadapi konflik dengan anak, diantaranya
melindungi, mengantisipasi, berkompromi, dan mengalah.
5.
Konflik
antaretnik bersifat alamiah, juga merupakan gejala yang sangat tipikal dari
relasi antarmanusia ( human relationships )yang terjadai pada setiap
level, mulai dari level antar pribadi ( psikologis ) hingga level
global.
6.
Orang yang
terlibat dalam konflik antaretnik terdorong melakukan konflik, karena mereka
mempunyai satu ( bahkan satu-satunya ) minat atau nilai bersama yang
diperebutkan.
7.
Konflik etnik (
intraetnik maupun antaretnik ) umumnya berlaku antara etnik mayoritas dan
minoritas, meskipun disana-sini diwarnai oleh factor-faktor social maupun
kultural, seperti agama, pendidikan, pebdapatan, kesejahteraan, status social
ekonomi, dominasi budaya, dan lain.
8.
Konflik etnik
sering diiringi oleh kekerasan yang berlangsung dalam satuan ruang ( geografis
dan kultur ) serta periode tertentu.
9.
Umumnya mereka
yang terlibat konflik merasakan, bahkan yakin, bahwa mereka kurang puas karena
kebutuhan dasar mereka tidak dipenuhi.
DAFTAR
PUSTAKA
Sri
Lestari, 2012. Psikologi keluarga. Jakarta: kencana perdana media group
Robert
s. Feldam, pengantar psikologi. Jakarta: salemba humanika
Alo
Liliweri, 2005. Prasangka dan konflik. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta

Post a Comment