Makalah Konflik

Makalah Konflik


BAB I
PENDAHULUAN

1.             LATAR BELAKANG
Konflik merupakan kondisi yang terjadi ketika dua pihak atau lebih mengaggap ada perbedaan posisi yang tidak selaras, tidak cukup sumber dan tindakan salah satu pihak menghalangi, atau mencampuri dalam beberapahal membuat tujuan pihak lain kurang berhasil. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbeidaan, diantaranya cici fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan lain sebagainya.

2.             RUMUSAN MASALAH
a.         Apa defenisi dari konflik itu?
b.         Bagaimana konflik dalam konflik keluarga?
c.         Bagaimana konflik orang tua-anak?
d.        Bagaimana pengelolaan konflik?
e.         Apa beda konflik dan persaingan?
f.          Apa saja tipe-tipe konflik?

3.             TUJUAN
a.         Mengetahui defenisi konflik?
b.         Mengetahui karakteristik konflik dalam keluarga itu?
c.         Mengetahui konflik orang tua-anak?
d.        Mengetahui pengelolaan konflik itu?
e.         Mengetahui beda konflik dan persaingan itu?
f.          Mengetahui tipe-tipe konflik itu?

BAB II
PEMBAHASAN

A.                Defenisi Konflik
Secara bahasa konflik identic dengan percocokan, perselisihan, dan pertengkaran. Adapun dalam bahasa inggris conflict sebagai noun berarti a serious disagreement or argument, sedangkan sebagai verb berarti be incompatible or clash. Walaupun demikian, sebagai kajian menunjukkan bahwa keberadaan konflik tidak selalu berakibat buruk. Selain dapat akibat buruk, konflik juga dapat menumbuhkan hal-hal positif.
Konflik juga dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pertentangan alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok yang berbeda etnik ( suku bangsa, ras, agama, golongan), karena diantara mereka memilikiperbedaan dalam sika, kepercayaan, nilai atau kebutuhan. Sringkali konflik itu di mulai dengan hubungan pertentangan antara dua atau lebih etnik ( individu atau kelompok ) yang memiliki, atau merasa memiliki,  sasaran-sasaran tertentu namun diliputi pemikiran, perasaan atau perbuatan yang tidak sejalan. Bentuk pertentangan alamiah di hasilkan oleh individu atau kelompok etnik, baik intraetnik maupun antaretnik, yang memiliki perbedaan dalalam sikap, kepercayaan, nilai-nilai atau kebutuhan.
Konflik dapat didefenisikan sebagai peristiwa social yang mengandung penentangan atau ketidaksetujuan.
            Dalam perspektif materialisme dialektik terdapat kekuatan dari perkembangan individu dan social yang dapat mendorong terjadinya konflik dalam proses material dialam dan masyarakat. Materialisme dialektik berpandangan bahwa segala sesuatu digubah dengan memiliki sisi yang berlawanan, sehingga ada dinamika dari saling berhubungannya segala sesuatu dan membuat perubahan menjadi bersifat universal. Berfikir dialektik berarti selalu melihat sudut pandang yang berlawanan dan delalu berupaya menyintesiskan antara tesis dan antitetis. Didunia ini terdapat kategori-kategori beroposisi yang terpisah satu sama lain (mutually exclusive) sekaligus bersama-sama membentuk keseluruhan, hidup-mati, baik-buruk.
            Konflik mencerminkan adanya suatu ketidakcocokan (incompati billity), baik ketidakcocokan karena berlawanan maupun karena perbedaan. Selain berpangkal pada ketimpangan alokasi sumber daya ekonomi dan kekuasaan, konflik juga dapat bersumber pada perbedaan nilai dan identitas. Kesalahan persepsi dan kesalahan komunikasi turut berperan dalam proses evolusi ketidakcocokan dalam hubungan. Oleh karena itu,  konflik berjalan kearah yang positif atau negative bergantung pada ada atau tidaknya proses yang mengarah pada saling pengertian. Namun adakala nya suatu konflik terjadi sekadar untuk menyalurkan naluri agresif, untuk berjuang atau melawan tanpa tahu atas dasar apa. Yang biasanya ini menyulitkan proses negoisasi
            Dalam perspekti fFreud, konflik terjadi karena adanya ketidakcocokan antara hasrat individu tuntutan masyarakat dan aturan, sehingga menimbulkan kecemasan dan prtahanan diri terhadap kecemasan. Erikson kemudian menjelaskan bahwa konflik terjadi dalam tiga level.
·         Level pertama, konflik yang terjadi ketika kepribadian anak atau individu berhadapan dengan tuntutan orang tua atau masyarakat.
·         Level kedua, adalah konflik yang terjadi didalam diri individu, Misalnya antara percaya dan tidak percaya.
·         Level ketiga, adalah konflik yang terjadi dalam menentukan cara beradaptasi.
            Thomas (1992) mendefenisikan konflik sebagai proses yang bermula saat salah satu pihak menganggap pihak lain menggagalkan atau berupaya menggagalkan kepentingannya. Adapun McCollum (2009) mendefenisikan konflik sebagai prilaku seseorang dalam rangka beroposisi dengan pikiran, perasaan dan tindakan orang lain. Dengan demikian, secara garis besar konflik dapat didefenisikan sebagai peristiwa social yang mencakuppenentengan (oposisi) atau ketidaksetujuan. Dunn dan Slomkowski menunjukkan empat area pengertian sosial yang dapat berkembang karena konflik, yaitu dalam memahami perasaan dan maksud orang lain., dalam memegangi norma dan konvensi yang memandu prilaku, dalam memilih strategi berkomunikasi, dan dalam mengenali berbagai perbedaan yang relavan dalam hubungan antar pribadi.
            Konfllik mungkin akan menyebabkan munculnya emosi negative seperti jengkel, marah, atau takut. Namun hasil akhir dari keberadaan konflik, sangat bergantung pada strategi yang digunakan untuk menanganinya. Dengan pengolahan yang baik, konflik justru dapat semakin memperkukuh hubungan dan meningkatkan kepaduan dan rasa solidaritas. James Schellenberg, sebagaimana dikutip oleh McCollum (2009), mengemukakan bahwa konflik sepenuhnya merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat yang harus dianggap penting, yaitu untuk merangsang pemikiran – pemikiran yang baru, mempromosikan perubahan social, menegaskan hubungan dalam kelompok, membantu kita membentuk perasaan tentang identitas pribadi, dan memahami berbagai hal yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
B.        Karakteristik Konflik Dalam Keluarga
            Keluarga merupakan salah satu unit social yang berhubungan antar anggotanya terdapat saling ketergantungan yang tinggi. Oleh karena itu, konflik dalam keluarga merupakan suatu keniscayaan. Konflik didalam keluarga terjadi Karena adanya prilaku oposisi atau ketidaksetujuan antara anggota keluarga. Prevalensi konflik dalam keluarga berturut-turut adalah konflik sibling, konflik orang tua-anak, dan konflik pasangan. Walaupun demikian, jenis  konflik yang lain juga dapat muncul, misalnya menantu-mertua, dengan saudara ipar dan paman/bibi. Factor yang membedakan konflik didalam keluaga dengan kelompok social yang lain adalah karakteristik didalam hubungan keluarga yang menyangkut tuga aspek, yaitu intensitas, kompleksitas, dan durasi.
            Benci tetapi rindu merupakan ungkapan yang mewakili bagaimana pelik atau kompleksnya hubungan dalam keluarga. Seorang istri yang sudah mengalami KDRT dan melaporkan suaminya ke polisi,  bahkan masih setia mengunjungi suaminya di penjara dengan membawakannya makanan. Atau seorang anak yang tetap memilih tinggal dengan orang tua yang melakukan kekerasan daripada tempat orang lain. Hal ini dikarenakan ikatan emosi yang positif  lebih besar daripada penderitaan yang muncul karena konflik.
Hubungan dalam keluarga merupakan hubungan yang bersifat kekal. Orang tua akan selalu menjadi orang tua, demikian juga saudara. Tidak ada istilah mantan orang tua atau mantan saudara. Oleh karena itu, dampak yang dirasakan dari konflik keluarga sering kali bersifat jangka panjang. Bahkan seandainya konflik dihentikan dengan mengaakhiri hubungan, misalnya berupa perceraian atau minggat dari rumah, sisa-sisa  dampak psikologis dari konflik tetap membekas.
            Oleh karena itu sifat konflik yang normatif, artinya tidak bisa di elakan, maka vitalitas hubungan dalam keluarga sangat bergantung pada resppons masing-masing terhadapa konflik. Frekuensi konflik mencerminkan kualitas hubungan, artinya pada hubungan yang berkualitas, frekuensi konflik lebih sedikit. Kualitas hubungan dapat memengaruhi cara individu dalam membingkai persoalan konflik. Suatu topic konflik seperti prilaku tidak mengerjakan tugas dapat berubah menjadi konflik yang mendalam, apabila dibingkai sebagai karakteristik kepribadian, seperti sikap tidak bertanggung jawab. Walaupun demikian, banyak keluaga yang sering mengalami konflik, namun tetap dapat berfungsi dengan baik. Salah satu factor penting yang tetap membuat keluarga berfungsi dengan baik adalah karena konflik tersebut diselesaikan, tidak dibiarkan atau dianggap akan hilang seiring waktu. Seperti diungkapkan Rueter dan Conger, keluarga yang memiliki interaksi hangat menggunakan pemecahan masalah yang konstruktif, adapun keluarga dengan interaksi bermusuhan menggunakan pemecahan masalah yang destruktif.
C.        Konflik Orang Tua-Anak
            Secara naluriah orang tua akan menganggap anaknya sebagai bagian paling penting dalam hidupnya. Dalam posisi tersebut orang tua akan berusaha mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan anak. Dengan perspektif yang demikian seharusnya konflik orang tua-anak tidak akan terjadi, karena orang tua akan senantiasa berkorban untuk anaknya. Namun dalam hubungan orang tua-anak ssering kali juga mengandung perspektif kekuasaan dan kewenangan. Selain terdapat aspek ketanggapan dalam merespons kebutuhan anak, juga terdapat aspek tuntutan yang mencerminkan harapan orang tua terhadap sikap dan prilaku anak. Akhirnya hubungan orang tua-anak pun biasanya diwarnai dengan berbagai perbedaan dan konflik. Sumber utama konflik pada umumnya adalah ketidakcocokan antara perspektif anak dan perspektif orang tua.
1.      Konflik pada Masa Kanak-kanak
            Masa kehamilan masa yang peka dalam menjaga keseimbangan antara upaya janin untuk sebesar mungkin mengambil baguan dari tubuh ibu untuk perkembangan dirinya,dan upaya ibu untuk mempertahankan sumber daya untuk dirinya dan janin-janin yang lain dikemudian hari. Gen-gen janin akan terseleksi untuk meningkatkan perpindahan nutrisi menuju janin, demikian juga gen-gen ibu akan terseleksi untuk membatasi perpindahan nutrisi yang dapat melebihi dari derajat optimum. Upaya penyimpangan  ini sering kali menimbulkan gejala-gejala yang tidak menyenangkan bagi ibu, dan bahkan dapat menimbulkan komplikasi yang serius.
            Ketika bayi sudah lahir dan mengalami perkembangan diluar tubuh ibu, salah satu konflik yang permulaan muncul dalam hubungan orang tua-anak adalah konflik pada masa penyapihan (weading conflict), biasanya setelah anaak berusia satu tahun. Proses penyampihan mulai dialami anak  oleh karena kehamilan bayi berikutnya, atau karena anak dianggap sudah berada pada usia yang cukup untuk mlai mengalami perpisahan sementara  dengan ibunya.
Pada perkembangan berikutnya,yang banyak mendapat perhatian dalam pengkajian konflik orang tua-anak adalah ketika anak menginjak usia dua tahun ( toddler). Pada masa tersebut anak mulai banyak mengalami perkembangan dalam keterampilan bahasa dan motoric, dan mulai banyak mengalami masalah prilaku. Prilaku eksternalisasi dan agresi merupakan masalah
Prilaku yang banyak mendapat perhatian pada masa perkembangan ini. Berbagai kajian menyoroti tiga factor yang menyebabkan munculnya masalah prilaku, yaitu:
·         Faktor internal yang berupa gender, temperamen, dan proses regulasi diri
·         Faktor sosialisasi, yang terjadi dalam interaksi dan relasinya dengan keluarga maupun teman sebaya
·         Faktor eksternal, yang berupa status social ekonomi dan struktur keluarga.

2.      Konflik pada Masa Remaja
Pada umumnya masa remaja dianggap sebagai masa yang paling sulit dalam tahap perkembangan individu. Para psikolog selama ini memberi lebel masa remaja sebagai masa storm and stress. Untuk menggambarkan masa yang penuh gejolak dan tekanan. Istilah storm and stress mermula dari psikolog permulaan Amerika, Stanley Hall, yang menganggap bahwa storm and stress merupakan fenomena universal pada masa remaja dan bersifat normative. Fenomena tersebut terjadi karena remaja mengalami proses evolusi menuju kedewasaan. Setelah memasuki masa dewasa, ibarat badai akan berlalu dan langit menjadi crah kembali. Pandangan Hall tersebut selaras dengan paham psikoanalitik yang menganggap masa remaja merupakan masa pertarungan antara id, yaitu hasrat untuk mencari kesenangan seksual dan super-ego, yaitu tuntutan untuk mematuhi norma dan moral social. Pergolakan yang dialami pada masa remaja merupakan refleksi dari konflik internal dan ketidakseimbangan psikis.
            Konflik remaja dengan orang rua merupakan salah satu hal yang banyak mengundang perhatian para peneliti. Area yang menjadi perhatian para umumnya adalah frekuensi terjadinya konflik, topic yang menjadi konflik dan cara yang digunakan untuk melakukan resolusi konflik. Beberpa perhatian menunjukkanpola kurvalinier pada intensitas konflik orang tua-anak, yaitu meningkat pada remaja awal, mencapai puncaknya pada remaja tengah, dan menurun pada remaja akir. Sementara beberapa penelitian lain mengungkapkan kecendrungan menurun seca linear dengan intensitas konflik lebih tinggi terjadi pada remaja awal dan menurun pada remaja akhir.
            Berdasaarkan berbagai kajian tentang teori sosialisasi,Leon Kuczynski dan Neil Hildebrandt (1997) merumuskan empat model tentang kepatuhan dan penentangan dalam interaksi orang tua dengan anak. Model tersebut adalah:
·         Model patuh dan tidak patuh pada perintah orang tua yang menggunakan perspektif teori control eksternal
·         Model kepatuhan dari dalam diri yang menggunakan perspektif teori internalisasi
·         Model akomodasi atau negosiasi yang menggunakan perspektif teori relasional
·         Model yang merupakan paduan antara control eksternal , control internal, dan akomodasi yang menggunakan yang menggunakan perspektif teori konteksual. Keempat model tersebut menunjukkan bahwa terdapat berbagai perubahan dan perkembangan dalam memandang konflik orang tua dengan remaja.
Temuan Lestari dan Asyanti (2009) mengenai konflik antara remaja dan orang tua di Surakarta memiliki kesamaan dalam pemanfaat waktu luang, penggunaan telepon, tugas pekerjaan rumah, cara berpakaian, pemilihan teman, dan pacaran. Akan tetapi, ditemukan pula konflik dalam hal prestasi belajar, karena prestasi remaja belum sesuai dengan harapan orang tua dan remaja dipandang kurang rajin belajar. Masalah lain yang menjadi sumber konflik adalah keterlambatan remaja pulang ke rumah.
D.        Pengelolaan Konflik
            Oleh karena konflik merupakan aspek normatif dalam suatu hubungan, maka keberadaan konflik tidak otomatis berdampak negatif terhadap hubungan maupun individu yang terlibat dalam hubungan. Konflik baru akan berdampak negatif bila tidak terkelola dengan baik. Konflik dalam keluarga yang tidak terkelola dengan efektif akan menjadi gejala atau factor yang menyumbang akibat yang negatif pada individu maupun keluarga secara keseluruhan.
Dalam pengasuhan orang tua menggunakan berbagai strategi ketika menyosialisasikan anak dalam menghadapi situasi konflik nilai. Strategi tersebut bervariasi tergantung pada konteks situasi yang dihadapi, atau potensi yang pelanggaran yang diakibatkan jika anak bertindak tidak konsisten dengan nilai yang ditanamkan. Menurut hasil penelitian Padilla-Walker dan Thompson, terdapat empat strategi yang digunakan oleh orang tua ketika pesan yang menimbulkan konflik, yaitu:
1)      Coconing, yaitu melindungi anak dari pengaruhmasyarakat luas denganmembatasi akses anak terhadap nila-nilai alternative, atau kemampuan untuk berprilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai orang tua.
2)      Pre-arming, orang tua mengantisipasi konflik nilai dan menyiapkan anak untuk menghadapinya guna melawan dunia yang lebih luas.
3)      Compromise, memberikan kesempatan pada anak untuk terpapar konflik nilai, namun tetap mempertahankan elemen nilai keluarga dan control sebagai orang tua.
4)      Deference,oran tua mengalah demi kebutuhan anak dan membiarkan anak mengambil keputusan sendiri, meskipun hal tersebut bertentangan dengan keluarga.
            Secara garis besar konflik orang tua-anak sesungguhnya dapat berfungsi sebagai media penanaman nilai. Dapat dikatakandemikian karena dalam menangani konflik dengan anak, orang tua berkesempatan mengungkapakan harap-harapanya atau menyampaikan pesan-pesan moral. Fungsi ini dapat berlangsung dan berhasil mendorong anak menginternalisasikan nilai yang disampaikan apabila konflik dikelola secara konsruktif.

E.        Membedakan Konflik dan Persaingan
            Terkadang orang tidak dapat membedakan konflik dengan kompotisi, dank arena itu kita perlu mengetahui perbedaan antara keduanya. Banyak komunitas atau organisasi formal dalm masyarakat dibangun berdasarkan tradisi persaingan, misalnya persaingan untunk mendapatkan pekerjaan, untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik, untuk memproleh fasilitasdan lainnya. Konflik dan kompotisi mempunyai akar yang sama, dimana setiap individu atau kelompok selalu berjuang mencapai tujuan yang dicita-citakan. Perbedaan terutama  terletak pada bentuk interferensi atau gangguan untuk mencapai tujuan.
F.         Konteks dan Sumber Konflik
            Potensi konflik terjadi manakala terjadi kontak antar manusia. Sebagai individu yang terorganisasi dalam kelompok, individu ingin mencari jalan untuk memenuhi tujuannya. Peluang untuk memenuhi tujuan itu hanya melalui pilihan bersaing secara sehat untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan, atau terpaksa terlibat dalam konflik dengan pihak lain. Berarti, dalam setiap masyarakat, selalu ada peluang sangat besar bagi terjadinya kompotisi dan konflik.
Ada dua hal umum yang patut diprhatikan dalam membahas sumber atau sebab konflik, yaitu:
v  Kontek tejadinya konflik
v  Sumber-sumber konflik
G.        Tipe-tipe Konflik
            Konflik memang terjadi dalam setiap proses dari peristiwa hubungan antar manusia itu dapat terjadi dimana dan kapan saja, mulai level antarpribadi sampai antarbangsa
Berikut adalah tipe-tipe konflik:
1.      Konflik Sederhana
o   Konflik personal versus diri sendiri, adalah konflik yang terjadi Karena apa yang dipikirkan atau yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan
o   Konflik personal versus personal, adalah konflik antar personal yang bersumber dari perbedaan karakter masing-masing personal.
o   Konflik personal versus masyarakat, adalah konflik yang terjadi antara individu dan masyarakat yang bersumber dari perbedaan keyakinan suatu kelompok atau keyakinan masya rakat atau perbedaan hukum.
o   Konflik persona versus alam, adalah konflik yang terjadi antara keberadaan personal dan tekanan alam.

2.      Konflik dalam Organisasi
Terdiri dari :
o  Konflik tugas ( task conflict ).
o  Konflik antarpersonal ( interpersonal conflict ).
o  Konflik procedural ( procedural conflict )

3.      Konflik berdasarkan sifat
            Dari segi dinamika, konflik perproses dari:
o   Adanya keyakinan bahwa setiap konflik mempunyai struktur tertentu, dan struktur itu umumnya bersifat laten yang umumnya mempunyai karakteristik, sifat atau modus operandi yang relative hamper sama dan berulang-ulang.
o   Akibatnya, konfliklaten berubah menjadi konflik yang nyata ( manifest ).
o   Kadang-kadang sifat konflik itu tidak laten juga tidak manifest, malainkan datang sebagai sebuah peristiwa yang luar biasa karena tidak ada catatan modus operandi sebelunya.

4.      Konflik Berdasarkan Jenis Peristiwa dan Proses
            Tipe konflik sebagai jenis peristiwa:
o   Konflik biasa, konflik yang terjadi hanya terjadi kesalah pahaman.
o   Konflik luar biasa, konflik yang tidak berstruktur karena sebelumnya kita tidak mempunyai catatan modus operandi.
o   Konflik zero-sum ( game ), satu pihak menang dan satu pihak kalah ( win-lose ).
o   Konflik merusak, konflik yang dari proses sampai hasilnya merusak sistem relasi social.
o   konflik yang dapat dapat dipecahkan, karena dapat dipecahkan melalui keputusan bersama.
Tipe konflik sebagai proses:
o   konflik yang sedang terjadi.
o   Konflik dengan sifat khusus.
o   Konflik non-zero sum
o   Konflik produktif.
o   Konflik yang dapat dikelola.
5.      Konflik Berdasarkan Faktor Pendorong
            Tipe konflik berdasarkan :
o   Konflik Internal, disebut konflik batin karena orang tidak mampu menghadapi tantangan.
o   Konflik eksternal, kebalikan dari konflik internal.
o   Konflik realisti, konflik yang nyata
o   Konflik tidak realistis, artinya tidak jelas atau tidak nyata.

6.      Konflik berdasarkan jenis ancaman
7.      konflik berdasarkan apa, kapan, dimana konflik itu terjadi
8.      Konflik berdasarkan cara memandang peristiwa atau isu
9.      Konflik berdasarkan level permintaan.

H.    Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik
ü  Perbedaan individu yang meliputi perbedaanpendirian dan perasaan
ü  Perbedaan latang belakang kebudayaan sehingga mebentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
ü  Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
ü  Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat

I.       Dampak Konflik
Dampak positif
·         Mendorong untuk kembali mengkoreksi diri.
·         Meningkatkan prestasi
·         Mengembangkan alternative yang baik.

Dampak Negatif
·         Menghambat kerjasama.
·         Apriori : selalu berapriori terhadap “lawan”
·         Saling menjatuhkan.

J.      Strategi penyelesaian konflik
Ø  Kompotisi
Ø  Akomodasi
Ø  Sharing
Ø  Kolaborasi
Ø  Penghindaran.
                                                                                                           











BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1.      Konflik sebagai peristiwa sosial yang mencakup penentangan ( oposisi )atau ketidaksetujuan.
2.      Konflik dalam keluarga lebih sering tejadi dan bersifat mendalam bila dibandingkan dengan konflik dalam konteks social lain.
3.      Pada umumnya, sumber utama konflik orang tua-anak adalah ketidakcocokan antara perspektif anak dan perspektif orang tua.
4.      Orang tua menggunakan strategi tertentu dalam menghadapi konflik dengan anak, diantaranya melindungi, mengantisipasi, berkompromi, dan mengalah.
5.      Konflik antaretnik bersifat alamiah, juga merupakan gejala yang sangat tipikal dari relasi antarmanusia ( human relationships )yang terjadai pada setiap level, mulai dari level antar pribadi ( psikologis ) hingga level global.
6.      Orang yang terlibat dalam konflik antaretnik terdorong melakukan konflik, karena mereka mempunyai satu ( bahkan satu-satunya ) minat atau nilai bersama yang diperebutkan.
7.      Konflik etnik ( intraetnik maupun antaretnik ) umumnya berlaku antara etnik mayoritas dan minoritas, meskipun disana-sini diwarnai oleh factor-faktor social maupun kultural, seperti agama, pendidikan, pebdapatan, kesejahteraan, status social ekonomi, dominasi budaya, dan lain.
8.      Konflik etnik sering diiringi oleh kekerasan yang berlangsung dalam satuan ruang ( geografis dan kultur ) serta periode tertentu.
9.      Umumnya mereka yang terlibat konflik merasakan, bahkan yakin, bahwa mereka kurang puas karena kebutuhan dasar mereka tidak dipenuhi.

DAFTAR PUSTAKA

Sri Lestari, 2012. Psikologi keluarga. Jakarta: kencana perdana media group
Robert s. Feldam, pengantar psikologi. Jakarta: salemba humanika
Alo Liliweri, 2005. Prasangka dan konflik. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta
Label:

Post a Comment

[blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.