BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan dunia pendidikan yang menuntut
tercapainya hasil belajar maksimal terhadap peserta didik, membuat metode
pembelajaran semakin berkembang. Pada dasarnya metode pembelajaran yang ada
tidak tertinggal walaupun terjadi peralihan priode atau masa dalam pendidikan.
Perbedaan penggunaan media yang diplikasikan pada metode pembelajaran
tersebut,membuat metode tersebut sesuai atau tidak dengan perkembangan dan
kemajuan zaman.
Karakteristik setiap metode dalam proses
pembelajaran menuntut kemampuan tenaga pengajar untuk melakukan inovasi-inovasi
metode pembelajaran. Inovasi tersebut diharapkan mampu memenuhi metode
pembelajaran yang sesuai dengan siswa, selain itu tujuan yang diharapkan
tercapai secara efektif dan efisien. Pengembangan metode pembelajaran dan
ketercapaian dalam pengamplikasiannya harus memahami keberagaman, kondisi dan
lingkungan peserta didik.
Metode pembelajaran yang diaplikasikan harus
mampu menyentuh dan mengembangkan potensi peserta didik. Sebuah langkah
analisis terhadap perkembangan metode pembelajaran yang ada tentunya
sangat diperlukan agar tercapainya tujuan yang diharapkan. Analisis yang
dilakukan tidak hanya akan berpengaruh terhadap hasil akhir proses
pembelajaran, akan tetapi berpengaruh juga pada pengembangan
metode-metode yang akan diaplikasikan berikutnya. Berdasarkan uraian diatas,
dapat diketahui bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran tidaklah mudah,harus
ditunjang oleh penggunaan metode dan penyajian materi yang tepat sehingga mampu
meningkatkan minat peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran.
Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan mencoba
merumuskan permasalahan yang ada pada lingkup analisis metode pembelajaran
sehingga diketahui kekurangan dan kelebihan dalam setiap metode agar dapat
dikembangkan dan diselaraskan sesui dengan tujuan yang ingin dicapai.
1.2 Tujuan
Makalah analisis karakteristik belajar dan metode
pembelajaran ini bertujuan agar setiap mahasiswa diharapkan:
1.
Mampu mendefinisikan metode pembelajaran .
2.
Mampu Mengembangkan Metode pembelajaran
berdasarkan analisis dan karakteristik dari metode tersebut.
3.
Mampu mengaplikasikan Metode Pembelajaran
dengan baik dan benar sesuai dengan karakter pada setiap metode.
4.
Mampu Menganalisa Metode Pembelajaran pada
tingkat yang lebih tinggi.
1.3 Manfaat
Penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberi
manfaat kepada mahasiswa berupa:
1.
Mendapatkan pemahaman tentang berbagai definisi
metode pembelajaan.
2.
Memiliki kemampuan dalam mengembangkan metode pembelajaran
.
3.
Memiliki kemampuan mengaplikasikan metode
pembelajaran.
4.
Memiliki kemampuan menganalisis metode
pembelajaran
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh perubahan perilaku yang relatif dalam aspek kognitif,
afektif, maupun psikomotorik yang diperoleh melalui proses interaksi dengan
lingkungannya. Selain itu, menurut (Gagne) mendefinisikan belajar ialah
perubahan disposi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas.
Perubahan tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang
secara ilmiah.
Perubahan perilaku sebagai hasil belajar terjadi secara
sadar, bersifat kontinyu, relatif menetap, dan mempunyai tujuan terarah pada
suatu kemajuan. Belajar tidak hanya tentang pengetahuan saja, tetapi juga
tentang etika, menegndalikan diri, dan lain-lain. Dengan belajar
tersebut, diperoleh kepribadian-kepribadian yang sifatnya umum (akibat dari
lingkungan) baik kepribadian baik maupun buruk. Jadi, belajar berfungsi sebagai
jalan untuk berpengetahuan tinggi dan berkepribadian yang baik. Proses
belajar dipengaruhi oleh banyak sekali factor-faktor. Pendidik harus mengatur
factor-faktor tersebut supaya berpengaruh menguntungkan bagi belajrnya anak didik.
2.2 Definisi Dan
Konsep Belajar
Secara kuantitatif, belajar berarti kegiatan pengisian atau
pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Secara
institusional, belajar dipandang sebagai proses validasi atau pengabsahan
terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari.
Secara kualitatif, proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta
cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa.
Chaplin dalam bukunya Dictionary of Psychology membatasi
belajar dengan dua rumusan. Rumusan pertama belajar adalah perolehan perubahan
tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman.
Rumusan kedua belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat
adanya latihan khusus.
Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory
berpendapat belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme
disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme
tersebut.
Pakar psikologi belajar juga menambahkan bahwa pengalaman
hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan untuk diartikan
sebagai belajar. Mungkin inilah yang mendasari gagasan everyday learning yang
dipopulerkan oleh professor John B. Biggs.
Witting dalam bukunya Psychology of learning mendefinisikan
belajar adalah perubahan yang relative menetap yang terjadi dalam segala
macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Reber dalam kamus susunannya Dictionary of Psychology
mendefinisikan belajar dengan dua macam. Pertama, belajar adalah proses
memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar adalah perubahan kemampuan bereaksi yang
relative langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.
Dari keragaman definisi tersebut dapat kita ketahui bahwa
pada hakikatnya belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang terjadi
pada diri seseorang. Seseorang menjadi dewasa karena dia telah melewati sebuah
proses yang direncanakan maupun tidak direncanakan, ia belajar sesuatu dari
berbagai aspek kehidupan baik itu formal maupun nonformal.
2.3 Karakteristik Siswa Sekolah Dasar
Masa usia sekolah dasar sebagai mesa kanak-kanak akhir yang
berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua
belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan
perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya,
perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan
kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di
atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar
yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di
lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang
dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa
hendaknya diberi kesempatan untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung
baik secara individual maupun dalam kelompok. Karakteristiknya antara lain:
A. Senang bermain,
Maksudnya dalam usia yang masih dini anak cenderung untuk
ingin bermain danmenghabiskan waktunya hanya untuk bermain karena anak masih
polos yang dia tahuhanya bermain maka dari itu agar tidak megalami masa kecil
kurang bahagia anaktidak boleh dibatasi dalam bermain. Sebagai calon guru SD
kita harus mengetahuikarakter anak sehingga dalam penerapan metode atau model
pembelajaran bisa sesuaidan mencapai sasaran, misalnya model pembelajran yang
santai namun serius, bermainsambil belajar, serta dalam menyusun jadwal pelajaran
yang berat(IPA, matematikadll.) dengan diselingi pelajaran yang
ringan(keterampilan, olahraga dll.)
B. Senang bergerak,
Anak senang bergerak maksudnya dalam masa pertumbuhan fisik
dan mentalnya anakmenjadi hiperaktif lonjak kesana kesini bahkan seperti merasa
tidak capek merekatidak mau diam dan duduk saja menurut pengamatan para ahli
anak duduk tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, kita sebagai
calon guru hendaknyamerancang model pembelajaran yang memungkinkan anak
berpindah atau bergerak. Mungkin dengan permaianan, olahraga dan lain
sebagainya.
C. Senang bekerja dalam kelompok
Anak senang bekerja dalam kelompok maksudnya sebagai seorang
manusia,
anak-anak juga mempunyai insting sebagai makhluk social yang bersosialisasi denganorang lain terutama teman sebayanya, terkadang mereka membentuk suatu kelomppoktertentu untuk bermain. Dalam kelompok tersebut anak dapat belajar memenuhi aturanaturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga, belajar keadilan dan
demokrasi.
anak-anak juga mempunyai insting sebagai makhluk social yang bersosialisasi denganorang lain terutama teman sebayanya, terkadang mereka membentuk suatu kelomppoktertentu untuk bermain. Dalam kelompok tersebut anak dapat belajar memenuhi aturanaturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga, belajar keadilan dan
demokrasi.
Hal ini dapat membawa implikasi buat kita sebagai calon guru
agar
menetapkan metode atau model belajar kelompok agar anak mendapatkan pelajaran
seperti yang telah disebutkan di atas, guru dapat membuat suatu kelompok kecil
misalnya 3-4 anak agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan pendapat dan sifat dari anak-anak tersebut dan mengurangi pertengkaran antar anak dalam satu kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya bersama, disini anak harus bertukar pendapat anak menjadi lebih menghargai pendapat orang lain juga.
menetapkan metode atau model belajar kelompok agar anak mendapatkan pelajaran
seperti yang telah disebutkan di atas, guru dapat membuat suatu kelompok kecil
misalnya 3-4 anak agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan pendapat dan sifat dari anak-anak tersebut dan mengurangi pertengkaran antar anak dalam satu kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya bersama, disini anak harus bertukar pendapat anak menjadi lebih menghargai pendapat orang lain juga.
D. Senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki
tahap operasionalkonkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar
menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi dalam pemahaman
anak SD semua materiatau pengetahuan yang diperoleh harus dibuktikan dan
dilaksanakan sendiri agar mereka bisa paham dengan konsep awal yang diberikan.
Berdasarkan pengalaman ini, siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang,
waktu, fungsi-fungsi badan, pera jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Dengan demikian
kita sebagai calon guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan
anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan
lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung
keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angina, bahkan dengan
sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angina
saat itu bertiup.
E. Anak cengeng
Pada umur anak SD, anak masih cengeng dan manja. Mereka
selalu ingin
diperhatikan dan dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus
selalu dibimbing. Di sini sebagai calon guru SD maka kita harus membuat metode
pembelajaran tutorial atau metode bimbingan agar kita dapat selalu membmbing dan
mengarahkan anak, membentuk mental anak agar tidak cengeng.
diperhatikan dan dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus
selalu dibimbing. Di sini sebagai calon guru SD maka kita harus membuat metode
pembelajaran tutorial atau metode bimbingan agar kita dapat selalu membmbing dan
mengarahkan anak, membentuk mental anak agar tidak cengeng.
F. Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain
Pada pendidikan dasar yaitu SD, anak susah dalam memahami apa
yang diberikan guru, disini guru harus dapat membuat atau menggunakan metode
yang tepat misalnya dengan cara metode ekperimen agar anak dapat memahami
pelajaran yang diberikan dengan menemukan sendiri inti dari pelajaran yang
diberikan sedangkan dengan ceramah yang dimana guru Cuma berbicara didepan membuat
anak malah tidak memahami isi dari apa yang dibicarakan oleh gurunya.
G. Senang diperhatikan
Di dalam suatu interaksi social anak biasanya mencari
perhatian teman atau
gurunya mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan berbagai cara
dilakukan agar orang memperhatikannya. Di sini peran guru untuk mengarahkan
perasaan anak tersebut dengan menggunakan metode tanya jawab misalnya, anak yang ingin diperhikan akan berusaha menjawab atau bertantya dengan guru agar anak lain beserta guru memperhatikannya.
gurunya mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan berbagai cara
dilakukan agar orang memperhatikannya. Di sini peran guru untuk mengarahkan
perasaan anak tersebut dengan menggunakan metode tanya jawab misalnya, anak yang ingin diperhikan akan berusaha menjawab atau bertantya dengan guru agar anak lain beserta guru memperhatikannya.
H. Senang meniru
Dalam kehidupan sehari hari anak mencari suatu figur yang
sering dia lihat
dan dia temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan dikenakan orang
yang ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak yang terpengaruh
acara televisi dan menirukan adegan yang dilakukan disitu, misalkan acara smack
down yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan karena ada berita anak yang
melakukan gerakan dalam smack down pada temannya, yang akhirnya membuat temannya terluka. Namun sekarang acara televisi sudah dipilah-pilah utuk siapa acara itu ditonton sebagai calon guru kita hanya dapat mengarahkan orang tua agar selalu
mengawasi anaknya saat dirumah.
dan dia temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan dikenakan orang
yang ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak yang terpengaruh
acara televisi dan menirukan adegan yang dilakukan disitu, misalkan acara smack
down yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan karena ada berita anak yang
melakukan gerakan dalam smack down pada temannya, yang akhirnya membuat temannya terluka. Namun sekarang acara televisi sudah dipilah-pilah utuk siapa acara itu ditonton sebagai calon guru kita hanya dapat mengarahkan orang tua agar selalu
mengawasi anaknya saat dirumah.
Contoh lain yang biasanya ditiru adalah seorang guru yang
menjadi pusat perhatian dari anak didiknya. Kita sebagai calon guru harus
menjaga tindakan, sikap,
perkataan, penampilan yang bagus dan rapi agar dapat memberikan contoh yang baik
untuk anak didik kita.
perkataan, penampilan yang bagus dan rapi agar dapat memberikan contoh yang baik
untuk anak didik kita.
2.3
Karakteristik Perilaku Belajar
Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri
perubahan spesifik. Diantara ciri-ciri yang merupakan karakteristik perilaku
belajar adalah:
- Perubahan intensional adalah perubahan berkat pengalaman atau praktik atau latihan dengan sengaja dan disadari, dan bukan secara kebetulan.
- Perubahan positif adalah perubahan yang sesuai dengan yang diharapkan atau kriteria keberhasilan baik dipandang dari segi siswa maupun dari segi guru.
- Perubahan efektif adalah perubahan yang membawa pengaruh dan makna tertentu bagi pelajar.
2.3.1
Perwujudan Perilaku Belajar
Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya lebih
sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut:
a.
Kebiasaan
Setiap siswa yang mengalami proses
belajar, tentu kebiasaannya akan tampak berubah.
b.
Keterampilan
Keterampilan ialah kegiatan yang
berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam
kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olah raga, dsb.
c.
Pengamatan
Pengamatan artinya proses menerima,
menafsirkan, dan memberi arti rangsangan
yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga.
d.
Berpikir asosiatif dan daya ingat
Berpikir
asosiatif adalah berpikir dengan cara mengasosiakan sesuatu dengan lainnya.
e.
Berpikir rasional dan kritis
Berpikir
rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian
dengan pemecahan masalah.
f.
Sikap
Sikap
adalah pandangan atau kecenderungan mental.
g.
Inhibisi
Inhibisi
adalah upaya pengurangan atau pencegahan timbulnya respons tertentu karena
karena adanya proses respon lain yang sedang berlangsung.
h.
Apresiasi
Apresiasi
berarti suatu pertimbangan mengenai arti penting atau nilai sesuatu.
i.
Tingkah laku afektif
Tingkah
laku afektif adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan
seperti takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was, dsb.
2.3.2 Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Belajar
Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa
ada tiga macam:
A. Factor
internal
Factor
internal yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Factor ini meliputi
dua aspek:
1.
Aspek Psikologis
Banyak factor yang termasuk aspek
psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas belajar siswa. Namun,
di antara factor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih
esensial adalah tingkat kecerdasan/intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa,
minat siswa, motivasi siswa.
2.
Factor eksternal
Factor eksternal yakni kondisi
lingkungan di sekitar siswa. Factor ini juga terdapat dua macam.
B. Lingkungan
sosial
Lingkungan social sekolah seperti guru, staf, dan
teman-teman sekelasnya yang dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Lingkungan
masyarakat, tetangga, juga teman-teman bermain yang disekitar perkampungan
siswa tersebut juga mempengaruhi belajar siswa. Yang paling berpengaruh dalam
belajar siswa adalah lingkungan keluarga.
C. Lingkungan
nonsosial
Factor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah
gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya,
alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.
- Factor pendekatan belajar
Factor
pendekatan belajar yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan
metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi
pelajaran.
Factor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan
dan mempengaruhi satu sama lain.
2.4 Pengertian
Analisis Karakteristik Metode Pembelajaran
Analisis karakteristik metode pembelajaran
merupakan langkah antisipatif dalam menerapkan metode pembelajaran, hal ini
cukup beralasan karena untuk mencapai tujuan pembelajaran terhadap peserta
didik diperlukan metode yang tepat.
A.
Adapun definisinya berbeda-beda menurut para
ahli.
1.
Definisi Analisis
Secara etimologi menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia Analisis memmilki arti sebagai tindakan penyelidikan terhadap suatu
peristiwa (Tulisan, perbuatan atau tindakan) untuk mengetahui keadaan yang
sebenarnya (sebab-musabab atau duduk perkaranya). Dalam makna lain, analisa
atau analisis dikatakan sebagai kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah
kegiatan atau tindakan guna meneliti struktur kegiatan atau tindakan tersebut
secara mendalam. Berdasarkan definisi tersebut dapat dikatakan bahwa analisis
adalah suatu upaya merangkum sejumlah data besar data yang masih mentah menjadi
informasi yang dapat dipelajari dan diterjemahkan dengan cara yang singkat dan
penuh arti.
2.
Definisi Karakteristik
Secara etimologis, istilah karakteristik
diambil dari bahasa Inggris yakni characteristic, yang artinya mengandung sifat
khas. Karakteristik mengungkapkan sifat-sifat yang khas dari sesuatu. Dalam
kamus lengkap psikologi karya Chaplin, dijelaskan bahwa karakteristik merupakan
sinonim dari kata karakter, watak, dan sifat yang memiliki pengertian
diantaranya:
a.
Suatu kualitas atau sifat yang tetap terus-menerus
dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasikan seorang pribadi,
suatu objek, suatu kejadian.
b.
Intergrasi atau sintese dari sifat-sifat
individual dalam bentuk suatu untas atau kesatuan.
Jadi di antara pengertian-pengertian diatas sebagaimana
yang telah dikemukakan oleh Chaplin, dapat disimpulkan bahwa karakteristik itu
adalah suatu sifat yang khas, yang melekat pada seseorang atau suatu objek.
3.
Definisi Metode
Metode secara etimologi menurut Usman Basrudin
(2004) dalam Muhammad Siddik (2010) , metode dalam bahasa arab di kenal dengan
istilah thoriqoh yang berarti langkah-langkah atau strategi yang di persiapkan
untuk melakukan suatu pekerjaan metode dalam proses pembelajaran juga harus
menyesuaikan hal tersebut dimana kemampuan kita dalam menganalisis metode yang
dibutuhkan akan memberi pengaruh yang besar terhadap keberhasilan peserta didik
menggali dan mengembangkan potensi dirinya.
2.5
Macam-Macam Karakteristik
Kepribadian
Begitu banyak tipe kepribadian menurut para ilmuwan. Berikut
ini adalah tipe-tpe kepibadian menurut masing-masing para ahli agar kita lebih
memahami kepribadian peserta didik sehingga saat proses kegiatan belajar dan
mengajar berlangsung dengan maksimal. Menurut Eysenck 1964 (dalam Buchori 1982)
menyatakan tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:
- Kepribadian Ekstrovert: Dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan, aktif bicara, impulsif, menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.
- Kepribadian Introvert: Dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.
- Neurosis: Dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.
Pada periode anak sekolah, kepribadian anak belum terbentuk
sepenuhnya seperti orang dewasa. Kepribadian mereka masih dalam proses
pengembangan. Karakteristik atau kepribadian seseorang dapat berkembang secara
bertahap. Berikut ini adalah krakteristik perkembangan pada masa anak samapai
masa puber.
2.5.1 Krakteristik
perkembangan masa anak awal (2-6 tahun)
Masa anak awal berlangsung dari usia 2-6 tahun, yaitu
setelah anak meninggalkan masa bayi dan mulai mengikuti pendidikan formal di
SD. Tekanan dan harapan sosial untuk mengikuti pendidikan sekolah menyebabkan
perubahan perilaku, minat, dan nilai pada diri anak. Pada masa ini, anak sedang
dalam proses penegmbangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan.
Perilaku anak sulit diatur, bandel, keras kepala, dan sering membantah dan
melawan orang tua. Hal ini memang sangat menyulitkan para pendidik. Tak heran,
apabila para guru Playgroup sampai SD harus lebih bersabar dalam melangsungkan
pembelajaran atau mendidik siswa. Disiplin mulai bisa diterapkan pada anak
sehingga anak dapat mulai belajar hidup secara tertib. Dan sikap para pedidik
sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
2.5.2 Krakteristik
perkembangan masa anak akhir (6-12 tahun)
Karakteristik atau ciri-ciri periode masa anak akhir, sama
halnya dengan ciri-ciri periode masa anak awal dengan memperhatikan sebutan
atau label yang digunakan pendidik. Orang tua atau pendidik menyebut masa anak
akhir sebagai masa yang menyulitkan karena pada masa ini anak lebih banyak
dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tuanya. Kebanyakan anak
pada masa ini juga kurang memperhatikan dan tidak bertanggung jawab terhadap
pakaian dan benda-benda miliknya. Para pendidik memberi sebutan anak usia
sekolah dasar, karena pada rentang usia ini (6-12 tahun) anak bersekolah di
sekolah dasar. Di sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar
pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk keberhasilan
melanjutkan studi dan penyesuaian diri dalam kehidupannya kelak.
2.5.3 Krakteristik perkembangan masa puber (11/12 –
14/15 tahun)
Masa puber adalah suatu periode
tumpang tindih antara masa anak akhir dan masa remaja awal. Periode ini terbagi
atas tiga tahap, yaitu tahap: prapuber, puber, dan pascapuber. Tahap prapuber
bertumpang tindih dengan dua tahun terakhir masa anak akhir. Tahap puber
terjadi pada batas antara periode anak dan remaja, di mana ciri kematangan
seksual emakin jelas (haid dan mimpi basah). Tahap pascapuber bertumpang tindih
dengan dua tahun pertama masa remaja. Waktu masa puber relatif singkat (2-4
tahun) ini terjadi pertumbuhan dan perubahan yang sangat pesat dan mencolok
dalam proporsi tubuh, sehingga menimbulkan keraguan dan perasaan tidak aman
pada anak puber. Peubahan fisik dan sikap puber ini berakibat pula pada
menurunnya prestasi belajar, permasalahan yang terkait dengan penerimaan konsep
diri, serta persoalan dalam berhubungan dengan orang di sekitarnya. Orang
dewasa maupun pendidik perlu memahami sikap perilaku anak puber yang kadang
menaik diri, emosional, perilaku negative dan lai-lain, serta membantunya agar
anak dapat menerima peran seks dalam kehidupan bersosialisasi dengan orang atau
masyarakat di sekitarnya.
2.6
Pengaruh Kepribadian Terhadap
Peserta Didik
Memahami karakter seseorang memang sangat sulit, namun
sangat penting. Apalagi kita sebagai pendidik selalu bersama dengan peserta
didik yang sangat banyak dan masing-masing mempunyai karakter-karakter
tersendiri. Keadaan atau proses belajar dan mengajar tidak dapat berjalan
dengan baik apabila kita tidak saling mengenal dengan peserta didik. Saling
mengenal tidak harus dengan menghafal nama-nama dari peserta didik, tetapi
pendidik harus mengenal kepribadian dari murid-muridnya.
Berdasarkan karakter kepribadian yang telah tercantum di
atas bahwa setiap sifat yang baik pasti ada sifat yang jelek. Ada peserta didik
yang diajak berbicara selalu merespon, ada peserta didik yang periang, ada
sifat atau pribadi yang tertutup, ada peserta didik yang kurang menghargai
pendidikya dan mengaggap suatu hal biasa. Kita sebagai pedidik, kita harus
mengendalikan ego dan menambah kesabaran saat berinteraksi dengan peserta didik
untuk mengingatkan bahwa hal tersebut salah, benar, sopan dan lain-lain.
Belajar adalah kunci yang paling vital dalam setiap usaha
pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak ada pendidikan. Sebagai
suatu proses, belajar hamper selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai
disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan, misalnya psikologi
pendidikan dan psikologi belajar. Karena demikian pentingnya arti belajar, maka
bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi belajar pun diarahkan pada
tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan
manusia itu
.
2.7
Hambatan Perkembangan Usia Anak
Sekolah Dasar
Karakteristik peserta didik yang muncul dilihat dari empat
aspek penyebab hambatannya, yaitu:
A. Hambatan
Aspek Fisik
1)
Fisio (Fungsi)
a)
Fungsi Penglihatan
b)
Fungsi Pendengaran
c)
Fungsi Gerak;
·
Tremor,
·
Kelayuan/kekuatan
·
Keseimbangan
2) Fisik (Impairment/kerusakan)
a)
Kerusakan organ penglihatan
b)
Kerusakan organ pendengaran
c)
Kerusakan organ gerak
d)
Hambatan Aspek Sikap
B.
Attention Deficit Disorder (ADD)
ADD
diartikan sebagai hambatan pemusatan perhatian, karakteristik yang muncul
adalah mudah beralihnya perhatian dari objek satu ke objek yang lainnya,
karakteristik ini kadang-kadang dapat menarik diri karena tidak dapat
menyesuaikan dengan objek secara konsentrasi, tetapi ADHD adalah sebaliknya.
C. Attention
Deficit Hiperaktif Disorder (ADHD)
Gangguan pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (yang
selanjutnya akan disebut ADHD), adalah pola tetap tidak adanya konsentrasi
dan/atau hiperaktivitas dan impulsivitas yang lebih sering dan lebih parah dari
umumnya anak pada usia perkembangan tertentu. Biasanya gangguan yang
termasuk ke dalam eksternalisasi ini mulai tampak sejak bayi, kanak-kanak, atau
remaja, dan lebih banyak terjadi pada anak laki-laki.
D. Hambatan
Aspek Kecerdasan
Dilihat dari teori normalitas dengan
menggunakan kurva normal aspek kecerdasan dibagi menjadi tiga aspek, di bawah
normal, normal, dan di atas normal, yaitu:
1)
Kecepatan berpikir tinggi
2)
Slow Leaner
3)
Hambatan Perkembangan Kecerdasan
E. Hambatan Aspek Jender
Kesetaraan
Jender adalah kesamaan hak, kewajiban, dan tanggung jawab antara laki-laki dan
perempuan.
1) Laki-aki
Karakteristik yang muncul pada anak
laki-laki adalah fisiknya merasa lebih kuat, sikapnya keras, dan lain-lain.
2)
Perempuan
Karakteristik anak perempuan lebih
cenderung bersikap lembut dianggap lemah oleh laki-laki. Dari perbedaan
karakteristik di atas maka kegiatan di sekolah lebih cenderung di dominasi oleh
anak laki-laki.
2.8 Gaya Belajar
Pada Siswa di Sekolah Dasar
Sekolah dasar merupakan sarana pendidikan awal bagi siswa
kanak-kanak dalam memperoleh pendidikan di sekolah formal yang sebelumnya
memperoleh pendidikan dini di taman kanak-kanak atau pendidikan anak usia dini
(PAUD). Sekolah Dasar memberikan peranan penting dan mendasar dalam memberikan
pengetahuan pada anak yang sedang mengalami proses pertumbuhan, baik
pertumbuhan dari segi fisik, psikis maupun mental.
Saat ini sekolah dasar negeri maupun swasta memberikan
materi pendidikan kepada siswa dasar dengan cara yang berbeda. Ada yang
berbasis agar siswa itu aktif maupun agar siswa itu berkompetitif secara sehat.
Disamping pada tujuan pendidikan yang akan dicapai namun masih banyak sekolah
dasar yang masih menerapkan proses belajar secara konvensional atau
kontekstual, yaitu proses pembelajaran dua arah dengan cara guru hanya
menerangkan materi kemudian siswa mengisi soal yang tersedia di lembar kerja
siswa (LKS). Dengan metode ini proses pembelajaran dirasakan kurang efektif dan
proses penyerapan materi pada siswa kurang maksimal karena pola pikir mereka
terpaku pada materi yang hanya diterangkan oleh guru dan dari materi di buku.
Melihat permasalahan diatas perlu adanya proses perubahan
dalam proses gaya belajar siswa yaitu dari proses belajar kontekstual menuju
proses belajar yang menunjang pada keaktifan dan pola pikir kritis dari siswa.
Oleh karena itu, ada beberapa cakupan perubahan yang akan dilakukan, yakni
sebagai berikut :
A. Perubahan proses belajar siswa dari kontekstual
menuju siswa aktif
Contoh : Dari guru hanya menerangkan dan
kemudian memberikan soal pertanyaan kemudian siswa mengisi pada LKS (Lembar
Kerja Siswa)
B. Proses gaya belajar siswa dari
materi kasus ke praktek edukasi
Contoh : Dari guru memberikan materi dan
pertanyaan kemudia guru memberikan contoh riil dari kasus yang dihadapi baik
melalui foto, tayangan film maupun dari poster gambar sehingga siswa mampu
memberikan solusi yang tepat terhadap permasalahan sesuai dengan pola pikir
siswa sekolah dasar.
C. Gaya belajar individu menjadi gaya
belajar kelompok dan berkompetisi
Contoh :
Siswa diperbanyak dalam pelajaran berkelompok sehingga mampu berkompetisi
dengan kelompok lain dan secara individu sehingga siswa diharapkan aktif di
dalam kelas. Baik aktif dalam menyampaikan pendapat maupun pertanyaan.
2.9 Gaya belajar anak
2.9.1 Jenis-jenis Gaya
Belajar
A. Visual
(belajar dengan cara melihat)
Lirikan
keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya
belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan
(visual), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih
banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang
berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat
peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang
mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka
gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan
agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di
otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan
visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.
1. Ciri-ciri
gaya belajar visual :
a. Bicara agak cepat
b. Mementingkan penampilan dalam
berpakaian/presentasi
c. Tidak mudah terganggu oleh keributan
d. Mengingat yang dilihat, dari pada
yang didengar
e. Lebih suka membaca dari pada
dibacakan
f. Pembaca cepat dan tekun
g. Seringkali mengetahui apa yang harus
dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
h. Lebih suka melakukan demonstrasi
dari pada pidato
i. Lebih suka musik dari pada seni
j. Mempunyai masalah untuk mengingat
instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk
mengulanginya
k. Strategi untuk mempermudah proses
belajar anak visual :
l. Gunakan materi visual seperti,
gambar-gambar, diagram dan peta.
m. Gunakan warna untuk menghilite
hal-hal penting.
n.
Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
o.
Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
p.
Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam
gambar.
B. Auditori
(belajar dengan cara mendengar)
Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara. Siswa
yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat
pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya
hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat
belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang
guru katakan.
Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui
tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori
lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak
auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih
cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
1. Ciri-ciri
gaya belajar auditori :
a. Saat bekerja suka bicaa kepada diri
sendiri
b. Penampilan rapi
c. Mudah terganggu oleh keributan
d. Belajar dengan mendengarkan dan
mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
e. Senang membaca dengan keras dan
mendengarkan
f. Menggerakkan bibir mereka dan
mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
g. Biasanya ia pembicara yang fasih
h. Lebih pandai mengeja dengan keras
daripada menuliskannya
i. Lebih suka gurauan lisan daripada
membaca komik
j. Mempunyai masalah dengan
pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
k. Berbicara dalam irama yang terpola
l. Dapat mengulangi kembali dan
menirukan nada, berirama dan warna suara
2. Strategi
untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
a. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi
dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
b. Dorong anak untuk membaca materi
pelajaran dengan keras.
c. Gunakan musik untuk mengajarkan
anak.
d. Diskusikan ide dengan anak secara
verbal.
e. Biarkan anak merekam materi
pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.
C.
Kinestetik (belajar dengan cara bergerak,
bekerja dan menyentuh)
Lirikan
kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya
belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak
seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk
beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini
belajarnya melalui gerak dan sentuhan.
1. Ciri-ciri
gaya belajar kinestetik :
a.
Berbicara perlahan
b.
Penampilan rapi
c.
Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
d.
Belajar melalui memanipulasi dan praktek
e.
Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
f.
Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
g.
Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
h.
Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan
gerakan tubuh saat membaca
i.
Menyukai permainan yang menyibukkan
j.
Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang
pernah berada di tempat itu
k.
Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
2. Strategi
untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
- Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
- Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
- Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
- Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
- Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.
Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika
diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang
dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar.
Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Modalitas
belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak melalui indra yang kita
miliki.
Peserta didik auditory lebih suka mencatat apa
yang guru jelaskan. Selama proses , pengajaran, mereka biasanya tenang
dan jarang terganggu oleh suara. seringkali tidak terganggu melihat apa yang
dilakukan guru, mereka asyik membuat catatan.
2.10 Media
Pembelajaran Untuk Anak Sekolah Dasar
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen
pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar.
Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian
guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru /
fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar
dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar
mengajar.
Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering terabaikan
dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan
mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dan
lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru /
fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media
pembelajaran.
Media
memiliki cakupan yang sangat luas. Namun, pada bagian ini hanya media
pembelajaran saja yang menjadi kajiannya. National Education Association
(NEA) dalam Sadiman, (2009) menyebutkan bahwa media adalah bentuk-bentuk
komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Sadiman (2009:
7) sendiri menybutkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang
pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga
proses belajar terjadi.
Dalam
konteks komunikasi, seorang pendidik atau guru memerlukan media sebagai alat
bantu untuk memudahkan seorang guru mengomunikasikan pesan berupa materi
pelajaran kepada siswa dengan harapan proses komunikasi dapat berjalan baik dan
sempurna sehingga siswa dapat menerima pesan yang benar tanpa ada kesalahan.
Oleh karena itu, peran media sangat penting dalam proses pembelajaran karena
penggunaan media dapat memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan oleh
seorang guru. Namun, seorang guru juga harus mampu memilih, mendesain, dan
menampilkan media sesuai dengan perkembangan seorang anak dan dapat membuat
anak merasa nyaman ketika mengikuti proses pembelajaran.
2.11
Pengertian Media Pembelajaran
Media
berasal dari bahasa latin dengan bentuk jamaknya “Medium” yang secara harfiah
berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber
pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media
pembelajaran. Menurut Donald P. Ely & Vernon S. Gerlach dalam Rohani
(1997:2), pengertian media ada dua, yaitu arti sempit dan arti luas. (a) Arti
sempit, media itu berwujud grafik, foto, alat mekanik, dan elektronik yang
digunakan untuk menangkap, memproses, serta menyampaikan informasi. (b) Arti
luas, yaitu kegiatan yang dapat menciptakan suatu kondisi, sehingga
memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan
sikap yang baru.
Sementara
itu, Briggs dalam Sadiman (2009) berpendapat bahwa media adalah adalah segala
alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
Schramm (dalam Sudrajat, 2008) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah
teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala
sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan
kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada
diri peserta didik.
2.12
Analisis Penggunaan Media
Setiap
media yang digunakan dalam pembelajaran tentunya tidak asal-asalan, tetapi
perlu pertimbangan kesesuaiannya. Kesesuaian penggunaan media dapat dilihat
dari segi materi pelajaran yang diajarkan. Pembelajaran bahasa Indonesia di SD
merupakan hal yang memubutuhkan ketelatenan yang luar biasa dari seorang guru,
termasuk dalam memilih media pembelajaran. Kesesuain pemilihan media akan
berdampak positif bagi pembelajaran. Untuk belajar puisi misalnya guru dapat
memilih media audio-visual seperti VCD, begitu pula belajar menulis cerpen guru
dapat menggunakan media gambar baik yang bergerak maupun yang diam.
2.13 Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan alat pendukung terlaksananya kreativitas belajar mengajar dalam upaya kelancaran proses belajar dengan
situasi yang kondusif. Adapun pemahaman peserta didik dengan media memiliki fungsi:
1.
Penggunaan media dalam proses belajar mengajar
bukan merupakan fungsi tambahan. Namun, berfungsi sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar
yang efektif.
2.
Penggunaan media pengajaran bukan merupakan
bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar.
3.
Media dalam pengajaran sifatnya integral
dengan tujuan dan isi pelajaran.
4.
Penggunaan media dalam pengajaran bukan hanya
sebagai hiburan yang digunakan hanya sekedar untuk melengkapi proses belajar
supaya lebih menarik perhatian siswa.
5.
Penggunaan media lebih diutamakan untuk
mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam memahami materi
yang diberikan guru.
6.
Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan
untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
Selanjutnya, Djamarah (2006:122) bahwa media pembelajaran
sebagai alat bantu pembelajaran yang berfungsi melicinkan jalan menuju tercapainya
tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, penggunaan alat bantuk tidak bisa
digunakan sembarangan menurut kehendak hati guru dalam upaya pelaksanaan
pembelajaran berlangsung ketika aktivitas pembelajaran dirungan kelas. Namun,
harus memperhatikan dan mempertimbangkan karakteristik peserta didik agar
tercapainya tujuan pembelajaran.
2.14 Manfaat
Penggunaan Media Pembelajaran
Media memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran
di sekolah sebagai alat pengembangan wawasan anak yang meletakkan cara berpikir
konkret dalam kegiatan belajar mengajar dengan memahami kondisi psikologis
siswa, tujuan , metode, dan kelengkapan alat bantu.
Fathurrohman (2009) memberi gambaran lebih detail dari
manfaat penggunaan media dalam proses pembelajaran, (a) Menarik perhatian siswa, (b) Membantu untuk mempercepat pemahaman, (b) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat
verbalistis (dalam bentuk kata – kata tertulis atau lisan), (c) Mengatasi keterbatasan ruang, (d) Pembelajaran lebih komunikatif dan produktif, (e) Waktu pembelajaran bisa dikondisikan, (f) Menghilangkan kebosanan pada siswa dan meningkatkan
motivasi siswa.
Oleh karena itu, penggunaan media hendaknya tidak
asal-asalan untuk pengembangan minat belajar anak. Namun, pemilihan media dapat
memperjelas siswa berpikir konkret sebelum mampu berpikir abstrak sehingga
situasi dan kondisi anak didik yang akan mengikuti pelajaran mengenai
jumlahnya, motivasi, dan kegairahannya dalam upaya tercapainya tujuan
pembelajaran.
2.15 Jenis-jenis Media Pembelajaran untuk kelas rendah
Secara umum, media bercirikan tiga unsur
pokok, yaitu: auditif, visual, dan gerak. Selain itu, media juga
diklasifikasikan berdasarkan sudut pandang yang dilihat, yaitu:
1.
Dilihat dari sifatnya, media terdiri atas
media auditif, media visual dan media audiovisual.
2.
Dilihat dari kemampuan jangkauannya, media
terbagi atas; (a). Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak
seperti televisi dan radio. (b). Media yang memiliki daya liput yang terbatas
oleh ruang dan waktu, seperti film, slides, video dan lainnya.
3.
Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya,
terdiri; (a). Media yang diproyeksikan seperti film, slide, film strip,
transparasi dan lainnya. (b). Media yang tidak diproyeksikan, seperti gambar,
foto, lukisan, radio dan lainnya.
Rudy Brets (dalam Sudrajat, 2008),
mengidentivikasi ada tujuh klasifikasi media untuk pembelajaran anak sekolah
dasar yaitu :
1)
Media audio visual gerak, seperti: film suara,
pita video, film tv.
2)
Media audio visual diam, seperti: film rangkai
suara, halaman suara, dan sebagainya,
3)
Audio semi gerak, seperti: tulisan jauh
bersuara.
4)
Media visual bergerak, seperti: film bisu.
5)
Media visual diam, seperti: halaman cetak,
foto, microphone, slide bisu,
6)
Media audio, seperti: radio, telepon, pita
audio,
7)
Media cetak, seperti: buku, modul, bahan ajar
mandiri.
Media
pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi
alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar
ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media
belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar
kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik,
fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.
Meskipun media banyak ragamnya, namun kenyataannya tidak
banyak jenis media yang biasa digunakan oleh guru di sekolah. Beberapa
media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkan adalah media
cetak (buku). selain itu banyak juga sekolah yang telah memanfaatkan
jenis media lain gambar, model, dan Overhead Projector (OHP) dan obyek-obyek
nyata. Sedangkan media lain seperti kaset audio, video, VCD, slide (film
bingkai), program pembelajaran komputer masih jarang digunakan meskipun
sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar guru.
Secara garis besarnya, media pembelajaran
terbagi menjadi 10 golongan, yaitu sebagai berikut :
No
|
Golongan Media
|
Contoh dalam
Pembelajaran
|
1
|
Audio
|
Kaset audio, siaran
radio, CD, telepon
|
2
|
Cetak
|
Buku pelajaran, modul, brosur, leaflet,
gambar
|
3
|
Audio-cetak
|
Kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
|
4
|
Proyeksi visual diam
|
Overhead transparansi (OHT), Film bingkai
(slide)
|
5
|
Proyeksi Audio visual diam
|
Film bingkai (slide) bersuara
|
6
|
Visual gerak
|
Film bisu
|
7
|
Audio Visual gerak
|
film gerak bersuara, video/VCD, televisi
|
8
|
Obyek fisik
|
Benda nyata, model, specimen
|
9
|
Manusia dan lingkungan
|
Guru, Pustakawan, Laboran
|
10
|
Komputer
|
CAI (Pembelajaran berbantuan komputer), CBI (Pembelajaran berbasis computer.
|
2.16 Kriteria
Pemilihan Media Pembelajaran untuk kelas tinggi
Setiap media pembelajaran mempunyai
karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi keampuhannya, cara pembuatannya,
maupun cara penggunaannya. Memahami berbagai karakteristik berbagai media
pengajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kegiatannya
dengan keterampilan pemilihan media pengajaran.
Kriteria yang paling utama dalam pemilihan
media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi
yang ingin dicapai.
Tabel 1. Contoh instrumen media pembelajaran
di SD
No.
|
Kategori
|
Jenis
|
Penggunaan
|
Ketersediaan
|
1.
|
Audio
|
radio
|
Pembelajaran bahasa Indonesia
|
Ada
|
2.
|
Visual
|
gambar, foto,
|
Setiap mata pelajaran
|
Ada
|
3.
|
Audio-visual
|
televisi
|
Pembelajaran bahasa dan sains
|
Ada
|
4.
|
dll.
|
2.17 Manfaat
Media Pembelajaran Untuk Kelas Rendah Dan Kelas Tinggi
Secara umum manfaat media pembelajaran adalah
memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran
lebih afektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media
pembelajaran adalah:
1.
Penyampaian
materi pembelajaran dapat diseragamkan
Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran
yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya
kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.
2.
Proses
pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui
suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga
membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak
monoton dan tidak membosankan.
3.
Proses
pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah
secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.
4.
Efisiensi dalam
waktu dan tenaga
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah
tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak
harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali
sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
5. Meningkatkan
kualitas hasil belajar siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa
menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar
informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika
diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri
melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.
6.
Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian
rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa
dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu
belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar
lingkungan sekolah.
7.
Media dapat
menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik
sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari
sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
8. Mengubah
peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga
banyak mamiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif
lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian,
memotivasi belajar, dan lain-lain
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Media memiliki peran penting dalam suatu proses pembelajaran, di mana secara umum media bercirikan tiga
unsur pokok, yaitu: auditif, visual, dan gerak, sehingga dari uraian di atas
dapat disimpulkan bahwa Media memiliki peran sebagai alat bantu untuk
mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. Penggunaan media pengajaran bukan merupakan bagian yang integral dari
keseluruhan situasi mengajar.
Media
adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi
kepada penerima informasi. Sedangkan pembelajaran adalah usaha guru untuk menjadikan
siswa melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian media pembelajaran adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi dari guru ke
siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa
dan pada akhirnya dapat menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Manfaat
media pembelajaran tersebut adalah: penyampaian materi pembelajaran dapat
diseragamkan, proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, proses
pembelajaran menjadi lebih interaktif, efisiensi dalam waktu dan tenaga,
meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, memungkinkan proses belajar dapat
dilakukan di mana saja dan kapan saja, menumbuhkan sikap positif siswa terhadap
materi dan proses belajar serta mengubah peran guru ke arah yang lebih positif
dan produktif.(edu-articles.com)
Dari penjelasan makalah di atas, dapat kita ketahui berbagai
definisi belajar menurut pakar-pakar psikologi dan orang-orang yang ahli dalam
bidang ini. Namun kita dapat menarik kesimpulan bahwa pada hakikatnya belajar
adalah sebuah proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri seseorang.
Karena belajar merupakan karakteristik yang membedakan manusia dengan
makhluk lain, berbagai aktivitas belajar yang selalu dilakukan sepanjang hayat
manusia, bahkan tiada hari tanpa belajar.
Berbagai karakteristik perilaku dalam belajar yang telah di
jelaskan dalam makalah ini. Juga factor-faktor yang mempengaruhinya. Demikian
yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini. Kami banyak berharap juga kepada pembaca
untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kami. Demi kesempurnaan
makalah ini juga di kesempatan penulisan makalah yang berikutnya. Semoga
makalah ini berguna bagi kami juga bagi para pembaca.
3.2 Saran
Kemajuan atau kemunduran generasi muda selaku
generasi penerus di masa yang akan datang sangat tergantung dari pendidikan
yang diperolehnya di masa kini, maka dari itu sudah seharusnya para pendidik
dapat memanfaatkan media pembelajaran untuk mendukung kegiatan
belajar-mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Azhar,Arsyad. 2011. Media
Pembelajaran. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Kustandi,
Cecep, dan Sujipto, Bambang. 2011. Media Pembelajaran Manual dan Digital.
Ghalia Indonesia: Bogor.
Sadiman,Arif, dan Raharjo. 1990. Media
Pendidikan. Rajawali: Jakarta.
Sujana,
Nana, dan Rifa’I Ahmad. 1990. Media Pengajaran. Sinar Baru Bandung:
Bandung.
Wahab, Abdul. 2009. Media Pembelajaran Bahasa Arab.
UIN-Malang Press: Malang.
Djamarah, Saiful Bahri. dkk. 2006. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Fathurrohman,
Pupuh dan M. Sobri Sutikno. 2009. Strategi Belajar Mengajar Melalui
Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami. Bandung: P.T Refika Aditama
Sadiman,
Arief S. dkk. 2009. Media pendidikan pengertian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Sanjaya, Wina.
2010. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Sudrajat,
Akhmad. 2008. Media Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran/ {13 Oktober 2010}.
Syah, Muhibbin.
1995. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syamsudin Makmun, Abin. 2002. Psikologi
Kependidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Synyster, Nikychoy (19 Oktober 2012). “Konsep Belajar
Dan
Pembelajaran.” http://sastranikychoysynyster.blogspot.com/2012/10/konsep-belajar-dan-pembelajaran.html (diakses tanggal 06 Desember 2012).


Post a Comment