Makalah Belajar




Makalah Belajar

BAB I
PENDAHULUAN


1.1       Latar Belakang
Perkembangan dunia pendidikan yang menuntut tercapainya hasil  belajar maksimal terhadap peserta didik, membuat metode pembelajaran semakin berkembang. Pada dasarnya metode pembelajaran yang ada tidak tertinggal walaupun terjadi peralihan priode atau masa dalam pendidikan. Perbedaan penggunaan media yang diplikasikan pada metode pembelajaran tersebut,membuat metode tersebut sesuai atau tidak dengan perkembangan dan kemajuan zaman.
Karakteristik setiap metode dalam proses pembelajaran menuntut kemampuan tenaga pengajar untuk melakukan inovasi-inovasi metode  pembelajaran. Inovasi tersebut diharapkan mampu memenuhi metode  pembelajaran yang sesuai dengan siswa, selain itu tujuan yang diharapkan tercapai secara efektif dan efisien. Pengembangan metode pembelajaran dan ketercapaian dalam pengamplikasiannya harus memahami keberagaman, kondisi dan lingkungan peserta didik.

Metode pembelajaran yang diaplikasikan harus mampu menyentuh dan mengembangkan potensi peserta didik. Sebuah langkah analisis terhadap perkembangan metode  pembelajaran yang ada tentunya sangat diperlukan agar tercapainya tujuan yang diharapkan. Analisis yang dilakukan tidak hanya akan berpengaruh terhadap hasil akhir proses pembelajaran, akan tetapi berpengaruh juga pada  pengembangan metode-metode yang akan diaplikasikan berikutnya. Berdasarkan uraian diatas, dapat diketahui bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran tidaklah mudah,harus ditunjang oleh penggunaan metode dan penyajian materi yang tepat sehingga mampu meningkatkan minat  peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran.

Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan mencoba merumuskan permasalahan yang ada pada lingkup analisis metode pembelajaran sehingga diketahui kekurangan dan kelebihan dalam setiap metode agar dapat dikembangkan dan diselaraskan sesui dengan tujuan yang ingin dicapai.

1.2       Tujuan
Makalah analisis karakteristik belajar dan metode pembelajaran ini  bertujuan agar setiap mahasiswa diharapkan:
1.      Mampu mendefinisikan metode pembelajaran .
2.      Mampu Mengembangkan Metode pembelajaran berdasarkan analisis dan karakteristik dari metode tersebut.
3.      Mampu mengaplikasikan Metode Pembelajaran dengan baik dan benar sesuai dengan karakter pada setiap metode.
4.      Mampu Menganalisa Metode Pembelajaran pada tingkat yang lebih tinggi.

1.3          Manfaat
Penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada mahasiswa berupa:
1.      Mendapatkan pemahaman tentang berbagai definisi metode pembelajaan.
2.      Memiliki kemampuan dalam mengembangkan metode pembelajaran .
3.      Memiliki kemampuan mengaplikasikan metode pembelajaran.
4.      Memiliki kemampuan menganalisis metode pembelajaran






BAB II
PEMBAHASAN

2.1         Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku yang relatif dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik yang diperoleh melalui proses interaksi dengan lingkungannya. Selain itu, menurut (Gagne) mendefinisikan belajar ialah perubahan disposi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara ilmiah.
Perubahan perilaku sebagai hasil belajar terjadi secara sadar, bersifat kontinyu, relatif menetap, dan mempunyai tujuan terarah pada suatu kemajuan. Belajar tidak hanya tentang pengetahuan saja, tetapi juga tentang etika, menegndalikan diri, dan lain-lain.  Dengan belajar tersebut, diperoleh kepribadian-kepribadian yang sifatnya umum (akibat dari lingkungan) baik kepribadian baik maupun buruk. Jadi, belajar berfungsi sebagai jalan untuk berpengetahuan tinggi dan berkepribadian yang baik. Proses belajar dipengaruhi oleh banyak sekali factor-faktor. Pendidik harus mengatur factor-faktor tersebut supaya berpengaruh menguntungkan bagi belajrnya anak didik.

2.2     Definisi Dan Konsep Belajar
Secara kuantitatif, belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Secara institusional, belajar dipandang sebagai proses validasi atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa  atas materi-materi yang telah ia pelajari. Secara kualitatif, proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa.
Chaplin dalam bukunya Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua rumusan. Rumusan pertama belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan kedua belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus.
Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
Pakar psikologi belajar juga menambahkan bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar. Mungkin inilah yang mendasari gagasan everyday learning yang dipopulerkan oleh professor John B. Biggs.
Witting dalam bukunya Psychology of learning mendefinisikan belajar adalah perubahan yang relative menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Reber dalam kamus susunannya Dictionary of Psychology mendefinisikan belajar dengan dua macam. Pertama, belajar adalah proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar adalah perubahan kemampuan bereaksi yang relative langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.
Dari keragaman definisi tersebut dapat kita ketahui bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri seseorang. Seseorang menjadi dewasa karena dia telah melewati sebuah proses yang direncanakan maupun tidak direncanakan, ia belajar sesuatu dari berbagai aspek kehidupan baik itu formal maupun nonformal.

2.3     Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

Masa usia sekolah dasar sebagai mesa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa hendaknya diberi kesempatan untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual maupun dalam kelompok. Karakteristiknya antara lain:

A.      Senang bermain,
Maksudnya dalam usia yang masih dini anak cenderung untuk ingin bermain danmenghabiskan waktunya hanya untuk bermain karena anak masih polos yang dia tahuhanya bermain maka dari itu agar tidak megalami masa kecil kurang bahagia anaktidak boleh dibatasi dalam bermain. Sebagai calon guru SD kita harus mengetahuikarakter anak sehingga dalam penerapan metode atau model pembelajaran bisa sesuaidan mencapai sasaran, misalnya model pembelajran yang santai namun serius, bermainsambil belajar, serta dalam menyusun jadwal pelajaran yang berat(IPA, matematikadll.) dengan diselingi pelajaran yang ringan(keterampilan, olahraga dll.)

B.    Senang bergerak,
Anak senang bergerak maksudnya dalam masa pertumbuhan fisik dan mentalnya anakmenjadi hiperaktif lonjak kesana kesini bahkan seperti merasa tidak capek merekatidak mau diam dan duduk saja menurut pengamatan para ahli anak duduk tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, kita sebagai calon guru hendaknyamerancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Mungkin dengan permaianan, olahraga dan lain sebagainya.

C.      Senang bekerja dalam kelompok
Anak senang bekerja dalam kelompok maksudnya sebagai seorang manusia,
anak-anak juga mempunyai insting sebagai makhluk social yang bersosialisasi denganorang lain terutama teman sebayanya, terkadang mereka membentuk suatu kelomppoktertentu untuk bermain. Dalam kelompok tersebut anak dapat belajar memenuhi aturanaturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga, belajar keadilan dan
demokrasi.
Hal ini dapat membawa implikasi buat kita sebagai calon guru agar
menetapkan metode atau model belajar kelompok agar anak mendapatkan pelajaran
seperti yang telah disebutkan di atas, guru dapat membuat suatu kelompok kecil
misalnya 3-4 anak agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan pendapat dan sifat dari anak-anak tersebut dan mengurangi pertengkaran antar anak dalam satu kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya bersama, disini anak harus bertukar pendapat anak menjadi lebih menghargai pendapat orang lain juga.

D.   Senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasionalkonkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi dalam pemahaman anak SD semua materiatau pengetahuan yang diperoleh harus dibuktikan dan dilaksanakan sendiri agar mereka bisa paham dengan konsep awal yang diberikan. Berdasarkan pengalaman ini, siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan, pera jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Dengan demikian kita sebagai calon guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angina, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angina saat itu bertiup.

E.    Anak cengeng
Pada umur anak SD, anak masih cengeng dan manja. Mereka selalu ingin
diperhatikan dan dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus
selalu dibimbing. Di sini sebagai calon guru SD maka kita harus membuat metode
pembelajaran tutorial atau metode bimbingan agar kita dapat selalu membmbing dan
mengarahkan anak, membentuk mental anak agar tidak cengeng.

F.    Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain
Pada pendidikan dasar yaitu SD, anak susah dalam memahami apa yang diberikan guru, disini guru harus dapat membuat atau menggunakan metode yang tepat misalnya dengan cara metode ekperimen agar anak dapat memahami pelajaran yang diberikan dengan menemukan sendiri inti dari pelajaran yang diberikan sedangkan dengan ceramah yang dimana guru Cuma berbicara didepan membuat anak malah tidak memahami isi dari apa yang dibicarakan oleh gurunya.

G.   Senang diperhatikan
Di dalam suatu interaksi social anak biasanya mencari perhatian teman atau
gurunya mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan berbagai cara
dilakukan agar orang memperhatikannya. Di sini peran guru untuk mengarahkan
perasaan anak tersebut dengan menggunakan metode tanya jawab misalnya, anak yang ingin diperhikan akan berusaha menjawab atau bertantya dengan guru agar anak lain beserta guru memperhatikannya.


H.   Senang meniru
Dalam kehidupan sehari hari anak mencari suatu figur yang sering dia lihat
dan dia temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan dikenakan orang
yang ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak yang terpengaruh
acara televisi dan menirukan adegan yang dilakukan disitu, misalkan acara smack
down yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan karena ada berita anak yang
melakukan gerakan dalam smack down pada temannya, yang akhirnya membuat temannya terluka. Namun sekarang acara televisi sudah dipilah-pilah utuk siapa acara itu ditonton sebagai calon guru kita hanya dapat mengarahkan orang tua agar selalu
mengawasi anaknya saat dirumah.
Contoh lain yang biasanya ditiru adalah seorang guru yang menjadi pusat perhatian dari anak didiknya. Kita sebagai calon guru harus menjaga tindakan, sikap,
perkataan, penampilan yang bagus dan rapi agar dapat memberikan contoh yang baik
untuk anak didik kita.

2.3              Karakteristik Perilaku Belajar
Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan spesifik. Diantara ciri-ciri yang merupakan karakteristik perilaku belajar adalah:
  1. Perubahan intensional adalah perubahan berkat pengalaman atau praktik atau latihan dengan sengaja dan disadari, dan bukan secara kebetulan.
  2. Perubahan positif adalah perubahan yang sesuai dengan yang diharapkan atau kriteria keberhasilan baik dipandang dari segi siswa maupun dari segi guru.
  3. Perubahan efektif adalah perubahan yang membawa pengaruh dan makna tertentu bagi pelajar.

2.3.1        Perwujudan Perilaku Belajar
Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut:
a.         Kebiasaan
Setiap siswa yang mengalami proses belajar, tentu kebiasaannya akan tampak berubah.
b.        Keterampilan
Keterampilan ialah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olah raga, dsb.
c.         Pengamatan
Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti  rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga.
d.        Berpikir asosiatif dan daya ingat
Berpikir asosiatif adalah berpikir dengan cara mengasosiakan sesuatu dengan lainnya.
e.         Berpikir rasional dan kritis
Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah.
f.         Sikap
Sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental.
g.        Inhibisi
Inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan timbulnya respons tertentu karena karena adanya proses respon lain yang sedang berlangsung.
h.        Apresiasi
Apresiasi berarti suatu pertimbangan mengenai arti penting atau nilai sesuatu.
i.          Tingkah laku afektif
Tingkah laku afektif adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan seperti takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was, dsb.



2.3.2   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa ada tiga macam:
A.       Factor internal
Factor internal yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Factor ini meliputi dua aspek:
1.      Aspek Psikologis
Banyak factor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas belajar siswa. Namun, di antara factor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial adalah tingkat kecerdasan/intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa.
2.      Factor eksternal
Factor eksternal yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa. Factor ini juga terdapat dua macam.

B.       Lingkungan sosial
Lingkungan social sekolah seperti guru, staf, dan teman-teman sekelasnya yang dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Lingkungan masyarakat, tetangga, juga teman-teman bermain yang disekitar perkampungan siswa tersebut juga mempengaruhi belajar siswa. Yang paling berpengaruh dalam belajar siswa adalah lingkungan keluarga.

C.       Lingkungan nonsosial
Factor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.



  1. Factor pendekatan belajar
Factor pendekatan belajar yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

Factor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.


2.4     Pengertian Analisis Karakteristik Metode Pembelajaran
Analisis karakteristik metode pembelajaran merupakan langkah antisipatif dalam menerapkan metode pembelajaran, hal ini cukup beralasan karena untuk mencapai tujuan pembelajaran terhadap peserta didik diperlukan metode yang tepat.

A.       Adapun definisinya berbeda-beda menurut para ahli.
1.        Definisi Analisis
Secara etimologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Analisis memmilki arti sebagai tindakan penyelidikan terhadap suatu peristiwa (Tulisan, perbuatan atau tindakan) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab atau duduk perkaranya). Dalam makna lain, analisa atau analisis dikatakan sebagai kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah kegiatan atau tindakan guna meneliti struktur kegiatan atau tindakan tersebut secara mendalam. Berdasarkan definisi tersebut dapat dikatakan bahwa analisis adalah suatu upaya merangkum sejumlah data besar data yang masih mentah menjadi informasi yang dapat dipelajari dan diterjemahkan dengan cara yang singkat dan penuh arti.

2.        Definisi Karakteristik
Secara etimologis, istilah karakteristik diambil dari bahasa Inggris yakni characteristic, yang artinya mengandung sifat khas. Karakteristik mengungkapkan sifat-sifat yang khas dari sesuatu. Dalam kamus lengkap psikologi karya Chaplin, dijelaskan bahwa karakteristik merupakan sinonim dari kata karakter, watak, dan sifat yang memiliki  pengertian diantaranya:
a.       Suatu kualitas atau sifat yang tetap terus-menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasikan seorang pribadi, suatu objek, suatu kejadian.
b.      Intergrasi atau sintese dari sifat-sifat individual dalam bentuk suatu untas atau kesatuan.
Jadi di antara pengertian-pengertian diatas sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Chaplin, dapat disimpulkan bahwa karakteristik itu adalah suatu sifat yang khas, yang melekat pada seseorang atau suatu objek.

3.        Definisi Metode
Metode secara etimologi menurut Usman Basrudin (2004) dalam Muhammad Siddik (2010) , metode dalam bahasa arab di kenal dengan istilah thoriqoh yang berarti langkah-langkah atau strategi yang di persiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan metode dalam proses pembelajaran juga harus menyesuaikan hal tersebut dimana kemampuan kita dalam menganalisis metode yang dibutuhkan akan memberi pengaruh yang besar terhadap keberhasilan peserta didik menggali dan mengembangkan potensi dirinya.

2.5         Macam-Macam Karakteristik Kepribadian
Begitu banyak tipe kepribadian menurut para ilmuwan. Berikut ini adalah tipe-tpe kepibadian menurut masing-masing para ahli agar kita lebih memahami kepribadian peserta didik sehingga saat proses kegiatan belajar dan mengajar berlangsung dengan maksimal. Menurut Eysenck 1964 (dalam Buchori 1982) menyatakan tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:
  1. Kepribadian Ekstrovert: Dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan, aktif  bicara, impulsif, menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.
  2. Kepribadian Introvert: Dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.
  3. Neurosis: Dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.

Pada periode anak sekolah, kepribadian anak belum terbentuk sepenuhnya seperti orang dewasa. Kepribadian mereka masih dalam proses pengembangan. Karakteristik atau kepribadian seseorang dapat berkembang secara bertahap. Berikut ini adalah krakteristik perkembangan pada masa anak samapai masa puber.

2.5.1  Krakteristik perkembangan masa anak awal (2-6 tahun)
Masa anak awal berlangsung dari usia 2-6 tahun, yaitu setelah anak meninggalkan masa bayi dan mulai mengikuti pendidikan formal di SD. Tekanan dan harapan sosial untuk mengikuti pendidikan sekolah menyebabkan perubahan perilaku, minat, dan nilai pada diri anak. Pada masa ini, anak sedang dalam proses penegmbangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan. Perilaku anak sulit diatur, bandel, keras kepala, dan sering membantah dan melawan orang tua. Hal ini memang sangat menyulitkan para pendidik. Tak heran, apabila para guru Playgroup sampai SD harus lebih bersabar dalam melangsungkan pembelajaran atau mendidik siswa. Disiplin mulai bisa diterapkan pada anak sehingga anak dapat mulai belajar hidup secara tertib. Dan sikap para pedidik sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.

2.5.2    Krakteristik perkembangan masa anak akhir (6-12 tahun)
Karakteristik atau ciri-ciri periode masa anak akhir, sama halnya dengan ciri-ciri periode masa anak awal dengan memperhatikan sebutan atau label yang digunakan pendidik. Orang tua atau pendidik menyebut masa anak akhir sebagai masa yang menyulitkan karena pada masa ini anak lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tuanya. Kebanyakan anak pada masa ini juga kurang memperhatikan dan tidak bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya. Para pendidik memberi sebutan anak usia sekolah dasar, karena pada rentang usia ini (6-12 tahun) anak bersekolah di sekolah dasar. Di sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk keberhasilan melanjutkan studi dan penyesuaian diri dalam kehidupannya kelak.

2.5.3     Krakteristik perkembangan masa puber (11/12 – 14/15 tahun)
            Masa puber adalah suatu periode tumpang tindih antara masa anak akhir dan masa remaja awal. Periode ini terbagi atas tiga tahap, yaitu tahap: prapuber, puber, dan pascapuber. Tahap prapuber bertumpang tindih dengan dua tahun terakhir masa anak akhir. Tahap puber terjadi pada batas antara periode anak dan remaja, di mana ciri kematangan seksual emakin jelas (haid dan mimpi basah). Tahap pascapuber bertumpang tindih dengan dua tahun pertama masa remaja. Waktu masa puber relatif singkat (2-4 tahun) ini terjadi pertumbuhan dan perubahan yang sangat pesat dan mencolok dalam proporsi tubuh, sehingga menimbulkan keraguan dan perasaan tidak aman pada anak puber. Peubahan fisik dan sikap puber ini berakibat pula pada menurunnya prestasi belajar, permasalahan yang terkait dengan penerimaan konsep diri, serta persoalan dalam berhubungan dengan orang di sekitarnya. Orang dewasa maupun pendidik perlu memahami sikap perilaku anak puber yang kadang menaik diri, emosional, perilaku negative dan lai-lain, serta membantunya agar anak dapat menerima peran seks dalam kehidupan bersosialisasi dengan orang atau masyarakat di sekitarnya.



2.6         Pengaruh Kepribadian Terhadap Peserta Didik
Memahami karakter seseorang memang sangat sulit, namun sangat penting. Apalagi kita sebagai pendidik selalu bersama dengan peserta didik yang sangat banyak dan masing-masing mempunyai karakter-karakter tersendiri. Keadaan atau proses belajar dan mengajar tidak dapat berjalan dengan baik apabila kita tidak saling mengenal dengan peserta didik. Saling mengenal tidak harus dengan menghafal nama-nama dari peserta didik, tetapi pendidik harus mengenal kepribadian dari murid-muridnya.
Berdasarkan karakter kepribadian yang telah tercantum di atas bahwa setiap sifat yang baik pasti ada sifat yang jelek. Ada peserta didik yang diajak berbicara selalu merespon, ada peserta didik yang periang, ada sifat atau pribadi yang tertutup, ada peserta didik yang kurang menghargai pendidikya dan mengaggap suatu hal biasa. Kita sebagai pedidik, kita harus mengendalikan ego dan menambah kesabaran saat berinteraksi dengan peserta didik untuk mengingatkan bahwa hal tersebut salah, benar, sopan dan lain-lain.
Belajar adalah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hamper selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan, misalnya psikologi pendidikan dan psikologi belajar. Karena demikian pentingnya arti belajar, maka bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi belajar pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu
.
2.7         Hambatan Perkembangan Usia Anak Sekolah Dasar
Karakteristik peserta didik yang muncul dilihat dari empat aspek penyebab hambatannya, yaitu:



A.      Hambatan Aspek Fisik
1)        Fisio (Fungsi)
a)    Fungsi Penglihatan
b)    Fungsi Pendengaran
c)    Fungsi Gerak;
·         Tremor,
·         Kelayuan/kekuatan
·         Keseimbangan
2)    Fisik (Impairment/kerusakan)
a)         Kerusakan organ penglihatan
b)        Kerusakan organ pendengaran
c)         Kerusakan organ gerak
d)        Hambatan Aspek Sikap

B.       Attention Deficit Disorder (ADD)
            ADD diartikan sebagai hambatan pemusatan perhatian, karakteristik yang muncul adalah mudah beralihnya perhatian dari objek satu ke objek yang lainnya, karakteristik ini kadang-kadang dapat menarik diri karena tidak dapat menyesuaikan dengan objek secara konsentrasi, tetapi ADHD adalah sebaliknya.

C.      Attention Deficit Hiperaktif Disorder (ADHD)
Gangguan pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (yang selanjutnya akan disebut ADHD), adalah pola tetap tidak adanya konsentrasi dan/atau hiperaktivitas dan impulsivitas yang lebih sering dan lebih parah dari umumnya anak pada usia perkembangan tertentu. Biasanya gangguan yang  termasuk ke dalam eksternalisasi ini mulai tampak sejak bayi, kanak-kanak, atau remaja, dan lebih banyak terjadi pada anak laki-laki.


D.      Hambatan Aspek Kecerdasan
            Dilihat dari teori normalitas dengan menggunakan kurva normal aspek kecerdasan dibagi menjadi tiga aspek, di bawah normal, normal, dan di atas normal, yaitu:
1)      Kecepatan berpikir tinggi
2)      Slow Leaner
3)      Hambatan Perkembangan Kecerdasan

E.    Hambatan Aspek Jender
            Kesetaraan Jender adalah kesamaan hak, kewajiban, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan.
1)     Laki-aki
Karakteristik yang muncul pada anak laki-laki adalah fisiknya merasa lebih kuat, sikapnya keras, dan lain-lain.

2)      Perempuan
Karakteristik anak perempuan lebih cenderung bersikap lembut dianggap lemah oleh laki-laki. Dari perbedaan karakteristik di atas maka kegiatan di sekolah lebih cenderung di dominasi oleh anak laki-laki.

2.8     Gaya Belajar Pada Siswa di Sekolah Dasar
Sekolah dasar merupakan sarana pendidikan awal bagi siswa kanak-kanak dalam memperoleh pendidikan di sekolah formal yang sebelumnya memperoleh pendidikan dini di taman kanak-kanak atau pendidikan anak usia dini (PAUD). Sekolah Dasar memberikan peranan penting dan mendasar dalam memberikan pengetahuan pada anak yang sedang mengalami proses pertumbuhan, baik pertumbuhan dari segi fisik, psikis maupun mental.
Saat ini sekolah dasar negeri maupun swasta memberikan materi pendidikan kepada siswa dasar dengan cara yang berbeda. Ada yang berbasis agar siswa itu aktif maupun agar siswa itu berkompetitif secara sehat. Disamping pada tujuan pendidikan yang akan dicapai namun masih banyak sekolah dasar yang masih menerapkan proses belajar secara konvensional atau kontekstual, yaitu proses pembelajaran dua arah dengan cara guru hanya menerangkan materi kemudian siswa mengisi soal yang tersedia di lembar kerja siswa (LKS). Dengan metode ini proses pembelajaran dirasakan kurang efektif dan proses penyerapan materi pada siswa kurang maksimal karena pola pikir mereka terpaku pada materi yang hanya diterangkan oleh guru dan dari materi di buku.
Melihat permasalahan diatas perlu adanya proses perubahan dalam proses gaya belajar siswa yaitu dari proses belajar kontekstual menuju proses belajar yang menunjang pada keaktifan dan pola pikir kritis dari siswa. Oleh karena itu, ada beberapa cakupan perubahan yang akan dilakukan, yakni sebagai berikut :

A.      Perubahan proses belajar siswa dari kontekstual menuju siswa aktif
Contoh : Dari guru hanya menerangkan dan kemudian memberikan soal pertanyaan kemudian siswa mengisi pada LKS (Lembar Kerja Siswa)

B.       Proses gaya belajar siswa dari materi kasus ke praktek edukasi
Contoh : Dari guru memberikan materi dan pertanyaan kemudia guru memberikan contoh riil dari kasus yang dihadapi baik melalui foto, tayangan film maupun dari poster gambar sehingga siswa mampu memberikan solusi yang tepat terhadap permasalahan sesuai dengan pola pikir siswa sekolah dasar.
C.       Gaya belajar individu menjadi gaya belajar kelompok dan berkompetisi
Contoh : Siswa diperbanyak dalam pelajaran berkelompok sehingga mampu berkompetisi dengan kelompok lain dan secara individu sehingga siswa diharapkan aktif di dalam kelas. Baik aktif dalam menyampaikan pendapat maupun pertanyaan.

2.9     Gaya belajar anak
2.9.1  Jenis-jenis Gaya Belajar
A.       Visual (belajar dengan cara melihat)
Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan (visual), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.
1.    Ciri-ciri gaya belajar visual :
a.    Bicara agak cepat
b.    Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
c.    Tidak mudah terganggu oleh keributan
d.   Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
e.    Lebih suka membaca dari pada dibacakan
f.     Pembaca cepat dan tekun
g.    Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
h.    Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
i.      Lebih suka musik dari pada seni
j.      Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya
k.    Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
l.      Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
m.       Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
n.         Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
o.         Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
p.         Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

B.       Auditori (belajar dengan cara mendengar)
Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara. Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan.
Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
                 
1.    Ciri-ciri gaya belajar auditori :
a.    Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri
b.    Penampilan rapi
c.    Mudah terganggu oleh keributan
d.   Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
e.    Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
f.     Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
g.    Biasanya ia pembicara yang fasih
h.    Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
i.      Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
j.      Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
k.    Berbicara dalam irama yang terpola
l.      Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

2.    Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
a.    Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
b.    Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
c.    Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
d.   Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
e.    Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

C.           Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.
1.    Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :
a.       Berbicara perlahan
b.      Penampilan rapi
c.       Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
d.      Belajar melalui memanipulasi dan praktek
e.       Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
f.       Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
g.      Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
h.      Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
i.        Menyukai permainan yang menyibukkan
j.        Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
k.      Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

2.    Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
  1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
  2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
  3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
  4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
  5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.
Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak  melalui indra yang kita miliki.
                 Peserta didik auditory lebih suka mencatat apa yang guru jelaskan.  Selama proses , pengajaran, mereka biasanya tenang dan jarang terganggu oleh suara. seringkali tidak terganggu melihat apa yang dilakukan guru, mereka asyik membuat catatan.



2.10   Media Pembelajaran Untuk Anak Sekolah Dasar
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru / fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering terabaikan dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru / fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran.
Media memiliki cakupan yang sangat luas. Namun, pada bagian ini hanya media pembelajaran saja yang menjadi kajiannya. National Education Association (NEA) dalam Sadiman, (2009) menyebutkan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Sadiman (2009: 7) sendiri menybutkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Dalam konteks komunikasi, seorang pendidik atau guru memerlukan media sebagai alat bantu untuk memudahkan seorang guru mengomunikasikan pesan berupa materi pelajaran kepada siswa dengan harapan proses komunikasi dapat berjalan baik dan sempurna sehingga siswa dapat menerima pesan yang benar tanpa ada kesalahan. Oleh karena itu, peran media sangat penting dalam proses pembelajaran karena penggunaan media dapat memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan oleh seorang guru. Namun, seorang guru juga harus mampu memilih, mendesain, dan menampilkan media sesuai dengan perkembangan seorang anak dan dapat membuat anak merasa nyaman ketika mengikuti proses pembelajaran.
2.11          Pengertian Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin dengan bentuk jamaknya “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Menurut Donald P. Ely & Vernon S. Gerlach dalam Rohani (1997:2), pengertian media ada dua, yaitu arti sempit dan arti luas. (a) Arti sempit, media itu berwujud grafik, foto, alat mekanik, dan elektronik yang digunakan untuk menangkap, memproses, serta menyampaikan informasi. (b) Arti luas, yaitu kegiatan yang dapat menciptakan suatu kondisi, sehingga memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baru.
Sementara itu, Briggs dalam Sadiman (2009) berpendapat bahwa media adalah adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Schramm (dalam Sudrajat, 2008) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

2.12          Analisis Penggunaan Media
Setiap media yang digunakan dalam pembelajaran tentunya tidak asal-asalan, tetapi perlu pertimbangan kesesuaiannya. Kesesuaian penggunaan media dapat dilihat dari segi materi pelajaran yang diajarkan. Pembelajaran bahasa Indonesia di SD merupakan hal yang memubutuhkan ketelatenan yang luar biasa dari seorang guru, termasuk dalam memilih media pembelajaran. Kesesuain pemilihan media akan berdampak positif bagi pembelajaran. Untuk belajar puisi misalnya guru dapat memilih media audio-visual seperti VCD, begitu pula belajar menulis cerpen guru dapat menggunakan media gambar baik yang bergerak maupun yang diam.

2.13   Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan alat pendukung terlaksananya kreativitas  belajar mengajar dalam upaya kelancaran proses belajar dengan situasi yang kondusif. Adapun pemahaman peserta didik dengan  media memiliki fungsi:
1.    Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan. Namun, berfungsi sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2.    Penggunaan media pengajaran bukan merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar.
3.    Media dalam pengajaran sifatnya integral dengan tujuan dan isi pelajaran.
4.    Penggunaan media dalam pengajaran bukan hanya sebagai hiburan yang digunakan hanya sekedar untuk melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5.    Penggunaan media lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam memahami materi yang diberikan guru.
6.    Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
Selanjutnya, Djamarah (2006:122) bahwa media pembelajaran sebagai alat bantu pembelajaran yang berfungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, penggunaan alat bantuk tidak bisa digunakan sembarangan menurut kehendak hati guru dalam upaya pelaksanaan pembelajaran berlangsung ketika aktivitas pembelajaran dirungan kelas. Namun, harus memperhatikan dan mempertimbangkan karakteristik peserta didik agar tercapainya tujuan pembelajaran.



2.14   Manfaat Penggunaan Media Pembelajaran
Media memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran di sekolah sebagai alat pengembangan wawasan anak yang meletakkan cara berpikir konkret dalam kegiatan belajar mengajar dengan memahami kondisi psikologis siswa, tujuan , metode, dan kelengkapan alat bantu.
Fathurrohman (2009) memberi gambaran lebih detail dari manfaat penggunaan media dalam proses pembelajaran, (a) Menarik perhatian siswa, (b) Membantu untuk mempercepat pemahaman, (b) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis (dalam bentuk kata – kata tertulis atau lisan), (c) Mengatasi keterbatasan ruang, (d) Pembelajaran lebih komunikatif dan produktif, (e) Waktu pembelajaran bisa dikondisikan, (f) Menghilangkan kebosanan pada siswa dan meningkatkan motivasi siswa.
Oleh karena itu,  penggunaan media hendaknya tidak asal-asalan untuk pengembangan minat belajar anak. Namun, pemilihan media dapat memperjelas siswa berpikir konkret sebelum mampu berpikir abstrak sehingga situasi dan kondisi anak didik yang akan mengikuti pelajaran mengenai jumlahnya, motivasi, dan kegairahannya dalam upaya tercapainya tujuan pembelajaran.

2.15   Jenis-jenis Media Pembelajaran untuk kelas rendah
Secara umum, media bercirikan tiga unsur pokok, yaitu: auditif, visual, dan gerak. Selain itu, media juga diklasifikasikan berdasarkan sudut pandang yang dilihat, yaitu:
1.        Dilihat dari sifatnya, media terdiri atas media auditif, media visual dan media audiovisual.
2.        Dilihat dari kemampuan jangkauannya, media terbagi atas; (a). Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak seperti televisi dan radio. (b). Media yang memiliki daya liput yang terbatas oleh ruang dan waktu, seperti film, slides, video dan lainnya.
3.        Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya, terdiri; (a). Media yang diproyeksikan seperti film, slide, film strip, transparasi dan lainnya. (b). Media yang tidak diproyeksikan, seperti gambar, foto, lukisan, radio dan lainnya.
Rudy Brets (dalam Sudrajat, 2008), mengidentivikasi ada tujuh klasifikasi media untuk pembelajaran anak sekolah dasar yaitu :
1)        Media audio visual gerak, seperti: film suara, pita video, film tv.
2)        Media audio visual diam, seperti: film rangkai suara, halaman suara, dan sebagainya,
3)        Audio semi gerak, seperti: tulisan jauh bersuara.
4)        Media visual bergerak, seperti: film bisu.
5)        Media visual diam, seperti: halaman cetak, foto, microphone, slide bisu,
6)        Media audio, seperti: radio, telepon, pita audio,
7)        Media cetak, seperti: buku, modul, bahan ajar mandiri.
Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.
Meskipun media banyak ragamnya, namun kenyataannya tidak banyak jenis media yang biasa digunakan oleh guru di sekolah.  Beberapa media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkan adalah media cetak (buku).  selain itu banyak juga sekolah yang telah memanfaatkan jenis media lain gambar, model, dan Overhead Projector (OHP) dan obyek-obyek nyata.  Sedangkan media lain seperti kaset audio, video, VCD, slide (film bingkai), program pembelajaran komputer masih jarang digunakan meskipun sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar guru. 
Secara garis besarnya, media pembelajaran terbagi menjadi 10 golongan, yaitu sebagai berikut :
No
Golongan Media
Contoh dalam Pembelajaran
1
Audio
Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2
Cetak
Buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
3
Audio-cetak
Kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4
Proyeksi visual diam
Overhead transparansi (OHT), Film bingkai (slide)
5
Proyeksi Audio visual diam
Film bingkai (slide) bersuara
6
Visual gerak
Film bisu
7
Audio Visual gerak
film gerak bersuara, video/VCD, televisi
8
Obyek fisik
Benda nyata, model, specimen
9
Manusia dan lingkungan
Guru, Pustakawan, Laboran
10
Komputer
CAI (Pembelajaran berbantuan komputer), CBI (Pembelajaran berbasis computer.

2.16   Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran untuk kelas tinggi
Setiap media pembelajaran mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi keampuhannya, cara pembuatannya, maupun cara penggunaannya. Memahami berbagai karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kegiatannya dengan keterampilan pemilihan media pengajaran.
Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai.

  Tabel 1. Contoh instrumen media pembelajaran di SD
No.
Kategori
Jenis
Penggunaan
Ketersediaan
1.
Audio
radio
Pembelajaran bahasa Indonesia
Ada
2.
Visual
gambar, foto,
Setiap mata pelajaran
Ada
3.
Audio-visual
televisi
Pembelajaran bahasa dan sains
Ada
4.
dll.




2.17   Manfaat Media Pembelajaran Untuk Kelas Rendah Dan Kelas Tinggi
Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:

1.      Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.

2.      Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
3.      Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.

4.      Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.

5.    Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.

6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah.

7.    Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
8.    Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak mamiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain



BAB III
PENUTUP

3.1         Kesimpulan
Media memiliki peran penting dalam suatu proses pembelajaran, di mana secara umum media bercirikan tiga unsur pokok, yaitu: auditif, visual, dan gerak, sehingga dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Media memiliki peran sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. Penggunaan media pengajaran bukan merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar.
Media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Sedangkan pembelajaran adalah usaha guru untuk menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa dan pada akhirnya dapat menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Manfaat media pembelajaran tersebut adalah: penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan, proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, efisiensi dalam waktu dan tenaga, meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar serta mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.(edu-articles.com)
Dari penjelasan makalah di atas, dapat kita ketahui berbagai definisi belajar menurut pakar-pakar psikologi dan orang-orang yang ahli dalam bidang ini. Namun kita dapat menarik kesimpulan bahwa pada hakikatnya belajar adalah sebuah proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri seseorang. Karena belajar merupakan  karakteristik yang membedakan manusia dengan makhluk lain, berbagai aktivitas belajar yang selalu dilakukan sepanjang hayat manusia, bahkan tiada hari tanpa belajar.
Berbagai karakteristik perilaku dalam belajar yang telah di jelaskan dalam makalah ini. Juga factor-faktor yang mempengaruhinya. Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Kami banyak berharap juga kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kami. Demi kesempurnaan makalah ini juga di kesempatan penulisan makalah yang berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi kami juga bagi para pembaca.

3.2     Saran
Kemajuan atau kemunduran generasi muda selaku generasi penerus di masa yang akan datang sangat tergantung dari pendidikan yang diperolehnya di masa kini, maka dari itu sudah seharusnya para pendidik dapat memanfaatkan media pembelajaran untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar.



DAFTAR PUSTAKA

Azhar,Arsyad. 2011. Media Pembelajaran. Raja Grafindo Persada: Jakarta. 
Kustandi, Cecep, dan Sujipto, Bambang. 2011. Media Pembelajaran Manual dan Digital. Ghalia Indonesia: Bogor.
Sadiman,Arif, dan Raharjo. 1990. Media Pendidikan. Rajawali: Jakarta.
Sujana, Nana, dan Rifa’I Ahmad. 1990. Media Pengajaran. Sinar Baru Bandung: Bandung.
Wahab, Abdul. 2009. Media Pembelajaran Bahasa Arab. UIN-Malang Press: Malang.
Djamarah, Saiful Bahri. dkk. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobri Sutikno. 2009. Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami. Bandung: P.T Refika Aditama
Sadiman, Arief  S. dkk. 2009. Media pendidikan pengertian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Sanjaya, Wina. 2010. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Media Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran/ {13 Oktober 2010}.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syamsudin Makmun, Abin. 2002. Psikologi Kependidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Synyster, Nikychoy (19 Oktober 2012). “Konsep Belajar Dan
Label:

Post a Comment

[blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.