BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Umumnya
bangsa-bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam tinggal di
negeri-negeri yang sedang berkembang, termasuk di Indonesia. Di Indonesia
orang-orang Islam mulai menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin dapat
berkompetisi dengan kekuatan-kekuatan yang menantang dari pihak kolonialisme
Belanda, penetrasi Kristen dan perjuangan untuk maju di bagian-bagian lain di
Asia apabila mereka terus melanjutkan kegiatan dengan cara-cara tradisional
dalam menegakkan Islam. Mereka mulai menyadari perlunya perubahan-perubahan
untuk mengatasi pengaruh Barat dalam ilmu pengetahuan serta dalam memperluas
daerah pengaruh atau dengan mempergunakan metode-metode baru yang telah dibawa
ke Indonesia oleh kekuasaan kolonial serta pihak missi Kristen.
Orang-orang
Indonesia melakukan berbagai Gerakan Islam di Indonesia. Gerakan Islam di Indonesia
tidaklah dimulai dengan tahun 1911 dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam, atau
tahun 1912 dengan berdirinya Muhammadiyah, atau tahun 1906 dengan terbitnya
majalah Al-Imam (di Singapura), atau tahun 1911 dengan terbitnya majalah Al-Munir
di Padang, atau dengan dibangunya sekolah Adabiyah di kota tersebut, atau tahun
1905 dengan berdirinya sekolah mi’at Khair (Djami’at Chair) di Jakarta.
Tahun-tahun ini adalah tahun-tahun resmi berdirinya organisasi, sekolah atau
terbitnya majalah yang bersangkutan. Namun pemikiran, gerakan permulaan baik
berupa ajakan ataupun anjuran yang baik dari perorangan atau kelompok
masyarakat, umumnya lebih dahulu dari tahun-tahun resmi tersebut.
Salah
satu sebuah organisasi yang terpenting di Indonesia sebelum Perang Dunia II dan
mungkin juga sampai saat ini adalah Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai
organisasi Islam modern atau reformis jelas menempati posisi dan peran
kesejarahan yang khas di Indonesia maupun dunia. Untuk itu itu pada makalah ini
akan mengkaji lebih jelas mengenai perkembangan Muhammadiyah dalam pergerakan
nasional Indonesia.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
Latar Belakang berdirinya Muhammadiyah ?
2. Bagaimana
perkembangan Muhammadiyah dalam pergerakan nasional Indonesia ?
3. Bagaimana
peran Muhammdiyah dalam Melanjutkan Perkerekonomian bangsa Indonesia ?
C.
Tujuan
Menjelaskan
mengenai perkembangan Muhammadiyah dari awal terbentuknya hingga sekarang dan
hubungannya dengan pergerkan nasional Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Latar
Belakang berdirinya Muhammadiyah
Muhammadiyah
adalah gerakan modernis Islam yang paling berpengaruh di Indonesia dan gerakan
ini lebih berhati-hati serta lentur dalam menghadapi gelombang perubahan
politik. Organisasi ini didirkan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912
oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan atas saran yang diajukan oleh murid-muridnya dan
beberapa orang anggota Budi Utomo untuk medirikan suatu lembaga pendidikan yang
bersifat permanen.
1.
Sejarah terbentuknya Muhammadiyah
Kyai
Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada tahun 1869 dengan nama Muhammad
Darwis, anak dari seorang Kyai Haji Abubakar bin Kyai Sulaiman yang menjadi
khatib di masjid Sultan di kota Yogyakarta. Ibunya adalah anak Haji Ibrahin
yang merupakan seorang penghulu. Setelah beliau menyeledaikan pendidikan
dasarnya dalam nahu, fiqh, dan tafsir di yogyakarta, beliau pergi ke Mekkah
tahun 1890 dimana beliau belajar selama setahun.
Kyai
Haji Ahmad Dahlan telah menghayati cita-cita pembaharuan sekembali dari hajinya
yang pertama. Tidak dapat kita buktikan dengan pasti, apakah ia sampai pada
pemikiran dan pembahruan itu secara perorangan atau dipengaruhi oleh
orang-orang lain dalam hal ini. beliau mulai mentrodusir cita-citanya itu
mula-mula dengan mengubah arah orang bersembahyang kepada kiblat yang
sebenarnya (sebelumnya arah sembahyang biasanya ke Barat). Beliau juga
mulai mengorganisir teman-temannya di daerah Kauman untuk melakukan pekerjaan
suka rela dalam memperbaiki kondisi daerahnya dengan mempernaiki dan
membersihkan jalan-jalan dan parit-parit.
Perubahan-perubahan
ini memperlihatkan kesadaran Kyai Haji Ahmad Dahlan tentang perlunya membuang
kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dan menurut pendapatnya memang tidak sesuai
dengan Islam. Perubahan-perubahan ini tidak perlu datang dari pengaruh
orang-orang lain, sebab kaum tradisi (dan kitab-kitab mereja juga) mengakui
bahwa kiblat haruslah menuju ke arah ka’bah.
Pada
saat itu, Kyai Haji Ahmad Dahlan gagl dalam merealisasikan perubahan kiblat di
masjid Sultan di Yogyakarta. Beliau memang dapat membangun langgarnya sendiri
dengan meletakan kiblat yang tepat, tetapi perubahan ini tidak disenangi oleh
penghulu Kyai Haji Mohammad Halil, yang memerintahkan untuk membinasakan
langgar tersevut. Setelah Kyai Haji Ahmad Dahlan merasa kecewa terhadap
perlakuan tersebut, beliau akhirnya meninggalkan Yogyakarta. Tetapi untunglah
seorang keluarganya menghalangi maksudnya dan membangunkan untuknya sebuah langgar
yang lain dengan jaminan bahwa beliau dapat mengajarkan dan mempraktekan agama
menurut keyakinannya sendiri. Kemudia beliau menggantikan ayahnya sebagai
Khatib di masjid Sultan. Tetapi inbi bukanlah satu-satunya pekerjaan beliau
sebab be;iau juga aktif berdagang batik.
Dalam
tahun 1909, beliau masuk dalam Budi Utomo dengan maksud memberikan pelajaran
agama kepada angota-anggotanya. Dengan begitu, beliau berharap dapat memberikan
pelajaran agama di sekolah-seolah pemerintah, oleh sebab anggota-anggota Budi
Utomo itu pada umunya bekerja di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah
dan juga kantor-kantor pemerintah. Beliau juga berharap agar guru-guru sekolah
yang diajarnya dapat meneruskan isi pelajarannya kepada murid-murid mereka.
Pelajaran-pelajaran yang diberikan Kyai Haji Ahmad Dahlan telah memenuhi
keperluan-keperluan anggota-anggota Budi Utomo, sebagai bukti dari saran mereka
agar ia membuka sebuah sekolah sendiri, yang diatur dengan rapi dan didukung
oleh organisasi yang bersifat permanen untuk menghindarkan nasib kebnyakan
pesantren tradisional yang terpaksa ditutup apabila Kyai yang bersangkutan
meninggal.
2.
Arti Nama Muhammadiyah
Kata
Muhammadiyah secara bahasa berarti ”pengikut Nabi Muhammad”. Ketika
Kkelahiranya memakai ejaan lama ”Moehammadijah”, dalam keputusan Kongres ke-19
tahun 1330 di Minagkabau dengan merujuk pada Kongres ke-14, disebutkan bahwa
ejaan lafadz perhimupnan ialah ”Moehammadijah”. Setelah kemerdekaan kemudian
berubah menjadi ”Muhammadiyah” sebagaimana kini berlaku secara baku.
3.
Tujuan
Sebagai
sebuah gerakan Islam, Muhammadiyah mendasri gerakannya kepada sumber poko
ajaran Islam yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Organisasi memepunyai maksud
menyebarkan ajaran Nabi Muhammad saw kepada penduduk bumiputera dan memajukan
hal agama Islam kepada angota-anggotanya. Untuk mencapai hal tersebut,
organisasi ini bermaksud mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mengadakan
rapat-rapat dan tabliqh dimana dibicarakab masalah-masalah Islam, mendirikan
wakaf dan masjid-masjid serta menerbitkan buku-buku, brosur-brosur, surat-surat
kabar dan majalah.
B.
Perkembangan
Muhammadiyah dalam Pergerakan Nasional Indonesia
Pada
waktu Muhammadiyah didirikan, keadaan masyarakat Islam sangat menyedihkan, baik
dalam bidang politik, sosial, ekonomi, maupun kultural akibat penjajahan
Belandsa di Indonesia. Dalam bidang agama, kehidupan beragama menurut tuntunan
al-Quran dan as-Sunnah tidak berjalan karena adanya perbuatan syirik, bid’ah,
kurafat, dan tahayul sehingga agama Islam berada dalam keadaan beku. Di bidang
pendidikan, lembaga pendidikan Islam yang ada tidak dapat memenuhi tuntutan dan
kemajuan zaman, disebabkan sikap mengisolasi diri dari pengaruh luar serta
adanya sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan panggilan zaman.
Muhammadiyah
memiliki beberapa organisasi otonom yang berdiri sendiri dalam lingkungan
Muhammadiyah. Organisasi otonom tersebut betul-betul otonom dalam ruang lingkup
masing-masing. Mungkin saja organisasi otonom tersebut dapat digolongkan
menjadi organisasi pendamping dan organisasi kader. Yang dimaksud dengan
organisasi pendamping ialah Aisyah 9wanita) yang bahu-membahu dengan
Muhammadiyah dalam mencapai cita-cita organisasi. Sedangkan organisasi kader
yang akan melanjutkan perjuangan Muhammadiyah di masa depan. Organisasi otonom
tersebut ialah :
a. ’Aisyah
(wanita)
b. Pemuda
Muhammadiyah
c. Nasyitul
’Aisyah (puteri)
d. Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah
e. Ikatan
Remaja Muhammadiyah
f. Tapak
suci Putera Muhammadiyah (perguruan pencak silat)
Muhammadiyah
dalam perkembangan berikutnya dikenal luas oleh masyarakat maupun para peneliti
dan penulis sebagai gerakan Islam pembaruan atau gerakan tajdid. Muhammadiyah
karena memiliki watak pembaruan dikenal pula sebagai gerakan reformasi dan
gerakan modernisme Islam, yang berkiprah dalam mewujudkan ajaean Islam senafas
dengan semangat kemajuan dan kemoderenan saat itu. Selain itu Muhammadiyah
dikenal juga sebagai gerakan dakwahyang bergerak dalam menyebarluaskan dan
mewujudkan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. dan tidak
bergerak dalam lapangan politik. Sifat-sifat sosial dan pendidikan Muhammadiyah
memanglah telah ada pada masa-masa ini.
Daerah
operasi oragnisasi Muhammadiyah mulai diluaskan setelah tahun 1917. Pada tahun
itu Budi Utomo mengadakan kongresnya di Yogyakarta ketika Kyai Haji Ahmad
Dahlan mendapatkan simpati dalam kongres tersebut.
C.
Peran
Muhammadiyah dalam Perekonomian Indonesia
Muhammmadiyah
banyak dikenal sebagai organisasi Islam yang modern oleh masyarakat Indonesia
dan bahkan dunia. KH. Ahmad Dahlan, pada masanya, adalah kiai yang
kontroversial. Ide-idenya melawan arus pemikiran dan sikap umum para kiai
lainya. Beliau mendirikan sekolah-sekolah model Belanda, mendirikan rumah sakit
yang melibatkan tenaga medis dari kalangan Belanda. Pada bagian lain beliau
juga menafsirkan Al-ma’un secara berbeda, dengan membaca kondisi masyarakatnya.
Namun sekarang terbukti bahwa ide-idenya yang kontroversial itu membuahkan
kemajuan umat Islam. Lembaga pendidikan dan rumah sakit Muhammadiyah sangat
membantu memajukan taraf hidup umat Islam di Indonesia. Yang jumlahnya ribuan.
Ini merupkan sebuah prestasi yang luar biasa gemilang, yang berangkat dari ide
KH. Ahmad Dahlan sang kontroversial. Kalau kita hidup pada masanya mungkin juga
akan menentang ide beliau karena tidak sesuai dengan mainstream umat Islam saat
itu. Bahkan saat itu banyak yang menganggap beliau kafir.
Tanpa
bermaksud menyederhanakan masalah, sesungguhnya upaya yang di lakukan Kiyai
Dahlan adalah upaya untuk membumikan ajaran Islam. Menjadikan nilai-nilai
ajaran Islam benar-benar hidup dan menjadi daya yang menghidupkan di tengah
masyarakat muslim yang terlelap pada masa itu. Agar tidak hanya menjadi
ceramah-ceramah kosong tanpa aksi nyata. Karena diakui atau tidak umat Islam
memang cenderung terjebak pada perasaan superior, namun pada kenyataanya
kerdil, susah diajak bergerak maju sebab tersihir oleh firman suci yang disalah
pahami. Karena terjebak dan terpagari oleh dinding artificial tanpa kemerdekaan
berfikir. Dengan semangat tajdid, Muhammadiayah mampu memberikan pemahaman
islam yang tidak hanya berupa ucapan-ucapan belaka, melainkan penjabaran
amaliah yang senantiasa berubah sesuai tuntutan zaman tanpa mengubah esensi
yang terkandung didalamnya.
Menjelang
satu abad muhammadiyah, saya kira suatu pencapaian yang sangat luar biasa
muhammadiyah mampu mengambil peranan penting dalam membangun masyarakat islam
yang berkemajuan. Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid, dakwah amar ma’ruf nahi
munkar telah berhasil menghimpun masyarakat dan menggerakannya untuk membangun
dan menghimpun modal sosial yang berharga, dalam bentuk berbagai amal usaha
yang tersebar diseluruh wilayah tanah air. Berbagai usaha tersebut merupakan
refleksi dari kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat. seperti sekolah,
rumah sakit, masjid dan lain-lain. Modal sosial yang merupakan amanah dan
kepercayaan masyarakat ini sudah semestinya dijaga dan dikembangkan bersama,
dalam menggapai cita-citanya.
Dengan
semakin beratnya tantangan dan rintangan yang dihadapi muhammadiyah pada jilid
kedua nanti, muhammadiyah harus senantiasa mentrasformasi diri melalui tajdid
secara luas. Satu hal yang perlu kita kaji kedepan yang memang merupakan salah
satu tonggak dari konsep masyarakat madani (civil society) adalah dalam bidang
ekonomi. Muhammadiyah sejauh ini telah banyak berperan dalam menyumbangkan
ide-ide kreatifnya dan tentunya dalam bentuk amal usaha yang tersebar di
berbagai penjuru tanah air. Tapi yang jadi persoalan sekarang adalah apakah
upaya-upaya yang telah dilakukan muhammadiyah masih relevan dengan tantangan
zaman yang semakin hari semangin kompleks. Disini kiranya peran bapak-bapak kita
dan segenap elemen muhammadiyah perlu berfikir kembali untuk menemukan
inovasi-inovasi terbaru untuk menjawab tantangan zaman dan selain itu juga
harus ada alternatif-alternatif lain yang bisa kita tempuh dalam menciptakan
solusi dalam pemecahan persoalan kontemporer saat ini. yakni meninjau kembali
apa yang telah kita lakukan (ide-ide dan amal usaha), serta
mereformulasikannya, Hal ini bisa kita lakukan dengan memberikan kritik-kritik
yang membangun baik itu dalam substansi maupun pelaksanaannya.
Inilah
salah satu tantangan muhammadiyah kedepan, muhammadiyah perlu merevitalisasi
sektor-sektor ril dalam pemberdayaan ekonomi umat, sehingga kehadiran
muhammadiyah dapat kita rasakan keberadaannya, merevivalisasi semangat segenap
elemen muhammadiyah dalam mendakwahkan dan membumikan ajaran Nabi Muhammad SAW,
dan tidak kalah penting, Muhammadiyah perlu membaca ulang kondisi masyarakat
saat ini dan masa yang akan datang sehingga gerak langkah perjuangannya dapat
berjalan dengan efektif dan tentunya dapat memenuhi kebutuhan umat.
Kalau
membicarakan persoalan ekonomi islam, ada dua domein yang harus dikaji secara
mendalam. Pertaman domein yang berkaitan dengan islam dan kedua domein yang
menjabarkan tentang ekonomi. Dari titik inilah nanti kita akan memahami
pengertian ekonomi islam. Ditinjau dari sudut bahasa, kata “islam” berarti
kedamain (peace), kesucian (purity), kepatuhan (submission) dan ketaatan
(obedience), dalam pengertian istilah, islam berarti kepatuhan terhadap
kehendak dan kemauan Allah SWT, serta taat terhadap hukum dan aturan-Nya.
Abdurrahman An-nahwi mengungkapkan bahwa islam adalah aturan Allah SWT yang
mencakup segala bidang kehidupan, serta mengatur hubungan antara manusia dengan
Allah SWT, dengan sesamanya dan dengan alam semesta. Atas dasar ketaatan dan
ketundukan kepada Allah SWT.
Untuk
menyelesaikan permasalahan ekonomi, kita dapat menggunakan pendekatan empiris
dan non empiris. Pendekatan empiris didasarkan pada kemampuan sendiri secara
rasional dengan mempelajari kondisi masyarakat, kemudian mengupayakan
langkah-langkah stretegis sesuai dengan kultur masyarakat, sedangkan pendekatan
non empiris didasarkan pada pendekatan konsep syariat yang telah diajarkan
rasulullah SAW. Pendekatan yang terakhir ini sulit ditetapkan tingkat
efektifitasnya dan ini hanya berhasil bila kita sudah sedemikain dekat dengan
Allah SWT (Fuad amsyari dalam Sofyan S. harahap, 2004: 27).
Sayangnya dalam kondisi ketakwaan bangsa kita yang masih dipertanyakan seperti sekarang ini, kita selalu menggunakan pendekatan nonempiris saja tampa menggunakan pendekatan empiris dan akhirnya gagal dan frustasi. Oleh karena itu kiranya Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia hendaknya dapat menggunakan kedua pendekatan itu, yakni pendekatan rasional, logika dan cost benefit dalam memecahkan permasalahan umat ini dan tentunya tetap konsisten menerapkan syariat islam sebagai landasan dalam pergerakan.
Sayangnya dalam kondisi ketakwaan bangsa kita yang masih dipertanyakan seperti sekarang ini, kita selalu menggunakan pendekatan nonempiris saja tampa menggunakan pendekatan empiris dan akhirnya gagal dan frustasi. Oleh karena itu kiranya Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia hendaknya dapat menggunakan kedua pendekatan itu, yakni pendekatan rasional, logika dan cost benefit dalam memecahkan permasalahan umat ini dan tentunya tetap konsisten menerapkan syariat islam sebagai landasan dalam pergerakan.
Ada
beberapa hal yang sebaiknya menjadi fokus muhammadiyah kedepan, sebagai agenda
dalam pemberdayaan ekonomi umat.
1. Pemberdayaan
koperasi
Pemerintah selalu
menganjurkan agar setiap masjid dilengkapi dengan koperasi atau kegiatan yang
bersifat ekonomi. Koperasi adalah merupakan lembaga ekonomi yang diamanatkan
oleh konstitusi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat. karena pembinaan
koperasi ini sudah terstruktur dalam undang-undang, GBHN, APBN dan
peraturan-peraturan pemerintah. Disinilah kiranya muhammadiyah mempunyai
peranan penting dalam mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan (Sofyan S.
Harahap: 2004). Hal ini dapat dilakukan ketika ada kebijakan-kebijakan
muhammadiyah yang memperhatikan dalam pemberdayaan ekonomi umat khususnya dalam
pengembangan koperasi.
2. Grameen
Bank
“Grameen bank merupakan
Bank Bangladesh yang membantu kaum lemah dalam pemberdayaan ekonomi rakyat”
Konsep ekonomi ini memanfaatkan lembaga bank untuk meningkatkan kemampuan
ekonomi umat. Pola ini sebenarnya telah dilakukan oleh lembaga keuangan
Muhammadiyah, akan tetapi dalam pelaksanaannya lembaga ini tidak begitu menarik
minat masyarakat untuk dijadikan rekan bisnisnya. mereka mengira lembaga
keuangan ini adalah lembaga yang berorientasi “corporate” sehingga sukar
ditembus oleh “pegel” (pedagang golongan ekonomi lemah). Muhammadiyah perlu
mensosialisasikan kembali lembaga keuangan ini agar masyarakat mampu berdiri
sendiri dalam menghidupkan ekonominya sendiri, tidak hanya itu muhammadiyah
juga harus mengupayakan inovasi-inovasi baru untuk pengembangan ekonomi umat
sehingga Muhammadiyah akan terus menjadi pemandu dalam pengembangan
perekonomian umat.
3. Pendidikan
Banyak para ahli
berpendapat bahwa untuk membantu meningkatkan kemampuan ekonomi lemah dilakukan
program pendidikan. Menurut data depnaker pada tahun 1980 angkatan kerja tidak
berpendidikan dan dro-out mencapai 66.2%. keadaan ini membuktikan bagaimana
lemahnya status pendidikan bangsa ini. menurut Dr.Imaduddin Abdulrahim, dalam
meningkatkan dalam ekonomi lemah maka human resources telah terbukti merupakan
sumber yang paling penting karena hanya manusia yang mampu mengubah benda, ide
dan fantasi menjadi barang dan jasa yang berguna. Dalam pengembangan human
resources Muhammadiyah perlu meningkatkan kualitas pendidikan baik dalam
fasilitas maupun proses pelaksanaannya. karena ini merupakan langkah
tepat dalam upaya peningkatan sumber daya manusia sebagai aktor utama
perekonomian umat. Dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia,
Muhammadiyah dapat mengembangkan dan menggembirakan minat para anggotanya untuk
lebih menekuni dalam bidang ekonomi. karena selama ini banyak anggota
Muhammadiyah yang tidak banyak tertarik pada bidang ini. Selain itu Muhammadiyah
pun hendaknya memberikan fasilitas yang memadai yang seyogyanya menyentuh
sektor ril perekonomian umat sesuai dengan kultur masyarakat setempat.
4. Mengurangi
konsentrasi kepemilikan
Barangkali hambatan
yang paling serius bagi pembangunan yang berkeadilan adalah konsentrasi
kepemilikan sarana-sarana produksi di kalangan non muslim yang menggunakan
sistem sosialisme dan kapitalisme, seperti halnya juga diseluruh perekonomian
yang merugikan pasar. Bila situasi ini tidak diubah melalui pemberlakuan
tindakan-tindakan radikal tertentu yang diperbolehkan oleh syariat, maka
tidaklah mungkin untuk membuat suatu kemajuan yang berarti dalam mewujudkan
tujuan-tujuan elagitarian islam. Strategi islam dalam hal ini sangat berbeda
dengan strategi yang dipakai sosialisme yang dalam rangka menghapuskan
ketidakadialan distribusional kapitalisme, telah menurunkan martabat manusia
kepada perbedaan upah yang permanen dan juga membunuh inisiatif dan spirit
individu untuk melakukan usaha dengan kolektifikasi semua sarana produksi dan
sentralisasi pembuatan keputusan (M.Umer chapra: 2000).
Perluasan kepemilikan
dan desentralisasi pembuatan keputusan tampak lebih seirama dengan martabat dan
kebebasan yang dihubungkan dengan status khalifah, yang dikaruniakan Allah
kepada manusia. baik pada tingkat wilayah, pedesaan maupun perkotaan, dan baik
disektor pertanian maupun industri, serta perdagangan melalui reformasi
pertahanan dan pembangunan pedesaan, perluasan industri kecil, perluasan
kepemilikan dan kontrol terhadap perusahaan-perusahaan besar dan sebagainya.
Perluasan ini harus dilakukan oleh seluruh elemen bangsa secara integral mulai
dari elit politik sampai masyarakat biasa, termasuk didalamnya Muhammadiyah,
oleh karena itu Disinilah kiranya diperlukan Peran Muhammadiyah sebagai salah
satu organisasi islam kemasyarakatan yakni melakukan pendekatan melalui dialog
politik sebagai salah satu upaya dalam mempengaruhi pemerintah dalam merumuskan
kebijakan-kebijakan sistem perekonomian bangsa yang sejalan dengan syariat islam.
Sebuah
tugas yang amat berat yang harus dipikul muhammadiyah kedepan. Dalam proses
mencapai cita-cita, tentunya tidak selamanya berjalan lurus dan lancar,
kadang-kadang harus mengalami kegagalan. kegagalan adalah penyimpangan dari
arah cita-cita yang kita tetapkan. Seorang pribadi muslim seharusnya segera
menelaah kembali, apa yang menyebabkan penyimpangan itu. Dengan proses
perenungan (muhasabah), dapat diperoleh sebab musabab penyimpangan itu dan bisa
dijadikan sebagai alat mengantisipasi kegagalan berikutnya, dengan membuat
perencanaan dan tindakan yang lebih tepat di masa yang akan datang.
Muhammadiyah
sebagai organisasi yang telah banyak diakui totalitasnya dalam pemberdayaan
umat sejauh ini telah banyak menyumbangkan ide-ide kreatifnya dalam kehidupan
masyarakat, baik dalam bentuk pemikiran maupun dalam amaliah nyata. menjelang
abad kedua muhammadiyah kita harapkan agar muhammadiyah mampu mentansformasi
diri sebagai sikap reaktif terhadap perubahan zaman dalam gerak dan langkah
perjuangannya. maka dari itu muhammadiyah perlu pemimpin yang memiliki jiwa
tajdid yang luas yang mampu membawa muhammadiyah ke arah yang lebih baik, dan
tentunya dibutuhkan pula kader persyarikatan yang tangguh serta selalu siap
sedia menjadi pelopor-pelopor yang siap dan berani menerima tantangan zaman.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Muhammadiyah
adalah gerakan modernis Islam yang paling berpengaruh di Indonesia dan gerakan
ini lebih berhati-hati serta lentur dalam menghadapi gelombang perubahan
politik. Organisasi ini didirkan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912
oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan atas saran yang diajukan oleh murid-muridnya dan
beberapa orang anggota Budi Utomo.
Kalau
membicarakan persoalan ekonomi islam, ada dua domein yang harus dikaji secara
mendalam. Pertaman domein yang berkaitan dengan islam dan kedua domein yang
menjabarkan tentang ekonomi. Dari titik inilah nanti kita akan memahami
pengertian ekonomi islam. Ditinjau dari sudut bahasa, kata “islam” berarti
kedamain (peace), kesucian (purity), kepatuhan (submission) dan ketaatan
(obedience), dalam pengertian istilah, islam berarti kepatuhan terhadap
kehendak dan kemauan Allah SWT, serta taat terhadap hukum dan aturan-Nya.
Abdurrahman An-nahwi mengungkapkan bahwa islam adalah aturan Allah SWT yang
mencakup segala bidang kehidupan, serta mengatur hubungan antara manusia dengan
Allah SWT, dengan sesamanya dan dengan alam semesta. Atas dasar ketaatan dan
ketundukan kepada Allah SWT.
B.
Saran
Kami selaku penyusun sangat menyadari masih
jauh dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembutan makalah
ini.Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, Kami selaku pembuat makalah
ini sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.Kami juga
mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya bagi pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Benda,
Harry J. 1985. The Crescent and the Risisng Sun, Indonesia Islam Under the
Japanese Occupation, 1942-1945. Diterjemahkan Daniel Dhakida. Jakarta: Dunia
Pustakan Jaya.
Ira
M Lapidus. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nashir,
Haedar. 2010. Muhammadiyah Gerakan Pembaruan.Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Noer,
Deliar. 1973. Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES.
Raiz,
Amin dan Syafi’i Ma’arif. 1996. Dinamika Pemikiran Islam dan Muhammadiyah
(Almanak Muhammadiyah Tahun 1997 M./1417-1418 H.). Yogyakarta: Lembaga Pustaka
dan Dokumentasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Suhartono.
2001. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syarifuddin
Jurdi. 2010. 1 Abad Muhammadiyah. Jakarta: Kompas.
Internet:
Muqadimmah.http://www.muhammadiyah.or.id.
diunduh pada Selasa, 25 September 2012 pukul 05.00 WIB.


Post a Comment