BAB I
PENDAHULUAN
Perserikatan
Muhammadiyah dimaksudkan sebagai organisasi yang gerak perjuangannya ditujukan
untuk pengembangan suatu tata kehidupan masyarakat sebagaimana dikehendaki
Islam. Peran Muhammadiyah dalam penelitian ini adalah suatu perilaku atau usaha
yang dilakukan organisasi Muhammadiyah dalam rangka menegakkan dan menjunjung
tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Pengembangan pendidikan Islam di masyarakat dalam penelitian ini adalah usaha untuk
menghidup suburkan pendidikan Islam di masyarakat dalam rangka sumber daya
manusia atau sumber daya umat Islam di masyarakat baik secara formal maupun
nonformal.
Muhammadiyah
merupakan NGO yang paling tua dan paling awal mendirikan sekolah. Muhammadiyah
menjadi NGO yang terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yang memiliki lembaga
pendidikan mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi (PT).
Fungsi
dan peran pendidikan Muhammadiyah sebagaimana yang pertama kali digagas oleh
KH. Ahmad Dahlan, yakni menjadikan pendidikan Muhammadiyah sebagai
"Penolong Kesengsaraan Oemoem" ditengah himpitan biaya pendidikan
yang semakin mahal. Jika dahulu Muhammadiyah dikenal sebagai pelopor pendidikan
yang menjadi motor penggeraknya, maka sekarang Muhammadiyah harus berperan
lebih dari pada itu, yakni Muhammadiyah kembali tampil sebagai aktor utama
pemberantasan anak putus sekolah dan menjadi aktor yang mencerdaskan kehidupan
bangsa.
Wacana
yang paling mutakhir yang kembali diproduksi negara setelah tumbangnya rezim
Orde Baru adalah wacana masyarakat madani. Semua pejabat, dari pusat hingga
daerah, menjadi latah untuk mengucapkan terma ini. Sehingga seolah-olah tidak
lengkap jika dalam setiap pidato atau pesan moralnya, mereka tidak mengutip
atau merujuk pada istilah masyaralat madani. Bahkan pada pemerintahan Habibie,
pernah dibentuk tim Khusus yang mengkaji masyarakat madani untuk
dikonteks-tualisasikan di Indonesia, persisi seperti Orde Baru yang menciptakan
mesin BP 7 untuk mendogmakan Pancasila.
Kalau
kita merujuk pada apa yang dituturkan MAS. Hikam dalam bukunya, Demokrasi dan
Civil Society (1999), diskursus masyarakat madani dan civil society pada
awalnya mulai ramai dibicarakan hanya terbatas pada kalangan aktivis gerakan
prodemokrasi, LSM, danbeberapa intelektual kritis yang mempunyai keprihatinan
terjadap nasib bangsa ini. Dan hingga sementara ini, belum ada studi intensif
yang secara masif menggali tantang contoh konkret dari upaya perwujudan
cita-cita masyarakat madani dan civil society yang mengakar dalam dalam tradisi
masyarakat Indonesia. Sebab kebanyakan intelektual terjebak pada wacana yang
mengandung desire dan imagination ketika melakukan kontekstualisasi masyarakat
madani dan civil society.
Menurut
Muhadjir Darwin bahwa bangsa Indonesia merupakan pemerintahan nirmanajemen.
Indonesia, diibaratkan dengan sebuah kapal tanpa nahkoda yang terombang-ambing
ditengah samudra karena banyak badai dan gelombang. Para penumpang didalamnya
sedang ketakutan karena kapal yang ditumpangi akan karam. Agar selamat harus
ada kesatuan langkah dari nahkoda dan para awak kapalnya untuk menyelamatkan
kapal dan para penumpang nya. Tentu hal itu tidak akan terjadi karena nahkoda
kapal sibuk dengan urusannya sendiri, demikian juga dengan para awak kapal
lainnya juga tidak mau tahu dengan kondisi para penumpang yang seharusnya
menjadi tanggungjawabnya untuk melindungi mereka. Indonesia memiliki
pemerintahan tetapi tidak memiliki manajemen pemerintah. Manajer nerjalan
sendiri mengikuti kemauannya, bukan mengerahkan seluruh elemen bangsa untuk menyelamatkan
republik ini dari kebangkrutan moral. Rakyat yang setengah sekarat digiring
kesuatu titik persoalan dan diseret kepada tindakan serta perilaku elite
politik yang berlangsung tanpa mengedepankan etika.
B.
Rumusan
Masalah
1. Proses
berdirinya Muhammadiyah
2. Peran
Muhammadiyah
3. Sejarah
berdirinya lembaga pendidikan Muhammadiyah
4. Muhammadiyah
dan peranan pendidikan di Indonesia
C.
Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk memberi jawaban terhadap
masalah pokok di atas, yaitu apakah latar belakang yang mendasari berdirinya
organisasi Muhammadiyah dan bagaimana ciri perjuangannya beserta pengertian dan
tujuan berdirinya Muhammadiyah.
BAB
II
DASAR TEORI
A.
Penegasan
Istilah
1.
Peran Muhammadiyah
Peran
adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan
dalam masyarakat.
Sedangkan
Muhammadiyah secara bahasa diambil dari nama Nabi dan Rasul terakhir, yaitu
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Beliau adalah Nabi dan Rasul
terakhir, pembawa risalah Islam yang sempurna diutus untuk semua umat manusia
sepanjang masa. Sedangkan “yah” dalam bahasa Arab disebut
huruf syibhu atau nisbi yang artinya menyerupa kan,
menjeniskan, atau mengidentikkan. Jadi Muhammadiyah berarti orang-orang Islam
yang hidup setelah Rasul Muhammad Shollallâhu álaihi wasallam yang
akan mengikuti, menyerupakan diri, menjeniskan atau mengidentikkan diri pada
perilaku hidup serta akhlak budi pekerti perjuangan Nabi
Muhammad Shollallâhu álaihi wasallam (Kastholani, 2003 : 33).
Sedangkan menurut Mulkhan (1990 : 4-5) Muhammadiyah adalah sekelompok orang
yang berusaha mengidentifikasikan dirinya atau membangsakan dirinya sebagai
pengikut, penerus, dan pelanjut perjuangan dakwah Rasul dalam mengembangkan
tata kehidupan masyarakat. Dengan demikian Muhammadiyah dimaksudkan sebagai
organisasi yang gerak perjuangannya ditujukan untuk pengembangan suatu tata
kehidupan masyarakat sebagaimana dikehendaki Islam. Usaha-usaha dilakukan
berdasarkan pola dasar yang telah dicontohkan oleh Rosulullah.
Jadi
yang dimaksud peran Muhammadiyah dalam penelitian ini adalah suatu perilaku
atau usaha yang dilakukan organisasi Muhammadiyah dalam rangka menegakkan dan
menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya.
2.
Pengembangan Pendidikan Islam di
Masyarakat
Pengembangan
adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan. Pengembangan yang di maksud di
sini adalah proses yang dilakukan Muhammadiyah untuk menghidup
suburkan pendidikan Islam dengan melalui 2 cara, yaitu formal dan
nonformal. Pendidikan Islam sebagaimana rumusan dari hasil seminar
pendidikan Islam se-Indonesia di Cipayung Bogor adalah bimbingan terhadap
bimbingan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah
mengarahkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran
Islam. (Abuddin Nata, 2003 : 12). Sedangkan masyarakat berasal dari
kata musyarok (Arab), yang artinya bersama-sama, kemudian berubah
menjadi masyarakat, yang artinya berkumpul bersama, hidup bersama, dengan
saling berhubungan dan saling mempengaruhi, selanjutnya menjadi kesepakatan
menjadi masyarakat (Abdulsyani, 2007 : 30).
Maksud
dari pengembangan pendidikan Islam di masyarakat dalam penelitian ini adalah
usaha untuk menghidup suburkan pendidikan Islam di masyarakat dalam rangka
sumber daya manusia atau sumber daya umat Islam di masyarakat baik secara
formal maupun nonformal.
B.
Visi dan Misi Muhammadiyah
1.
Visi
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang
berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya
senantiasa istiqomah dan aktif dalam melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi
munkar di semua bidang dalam upaya mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin
menuju terciptanya/terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
2.
Misi
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah
amar ma’ruf nahi munkar memiliki misi :
1.
Menegakkan
keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah SWT yang dibawa oleh
para Rasul sejak Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad saw.
2.
Memahami
agama dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam untuk
menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan.
3.
Menyebar
luaskan ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an sebagai kitab Allah terakhir
dan Sunnah Rasul untuk pedoman hidup umat manusia.
4.
Mewujudkan
amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
C.
Tokoh-Tokoh Muhammadiyah Dari Masa ke Masa
1.
KH.
Ahmad Dahlan 1912 1923
2.
KH.
Ibrahim 1923 1932
3.
KH.
Hisyam 1932 1936
4.
KH. Mas
Mansur 1936 1942
5.
Ki
Bagoes Hadikoesoemo 1942 1953
6.
Buya AR
Sutan Mansur 1953 1959
7.
KH. M
Yunus Anis 1959 1962
8.
KH.
Ahmad Badawi 1962 1968
9.
KH.
Faqih Usman 1968 1971
10. KH. AR. Fachruddin 1971 1990
11. KH. A. Azhar Basyir 1990 1995
12. Prof. Dr. H. Amien Rais 1995 2000
13. Prof. Dr. H. Ahmad Syafi’i Ma’arif 2000 2005
14. Prof. Dr. H. Din Syamsuddin 2005 Sampai
Sekarang dan habis masa jabatannya tahun 2015
D. Pengertian Muhammadiyah
Secara
etimologis nama Muhammadiyah berasal dari kata Muhammad, yaitu Nabi Muhammad
saw, dan diberi tambahan ya’ nisbah dan ta’ marbutoh yaitu pengikut Nabi
Muhammad saw. KHA. Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, menegaskan
bahwa Muhammadiyah berarti ummat Muhammad, pengikut Nabi Muhammad saw. Dalam
anggaran Muhammadiyah disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam amar
makruf nahi munkar yang berakidah Islam dan bersumber pada Al Quran dan Hadits
yang shahih.
E. Tujuan Berdirinya Muhammadiyah
Ketika
berbicara muhammadiyah tidak akan ppernahh lepas dari KHA.dahlan itu sendiri.
Sebagai ketua umum muuhammadiyah beliau jugalah yangg mendirikan muhammadiyah.
Dengan berlanfdaskan pada tafsir QS. Al-Imrann ayat 104 “ dan hendaklah ada
golongan diantara kamu menyeruh kepada yang ma’ruff dan mencegah dariyang
mungkar...” bahwa golongan umat yang dikatakan beruntung adalah yang mau untuk
menyeruh kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran. Yangg memang pada
masa itu, keadaan kaum yogyakarta yang mayoritas masih di dominasi oleh kaum
abangan sehinggga kegiatan pribadatan masih tercampur oleh budaya-budaya
hindu-budha yang menjadikan agama islam tidak murni lagi. Pada masa itu
kaum muslim khususnya di yogyakarta walaupun beragama islam tapi masih tercampur
dengan animisme dan dinamisme. Hal ini terliihat denggan adanya sesajen,
ruwutan, dll yang dalam muhammadiyah dikenal denggan istilah penyakit TBC (
tahayul, bid’ah,curofat). Dari semangat berjuang inilah kemudian muncul
rumusan untuk mendirikan organisasi kemasyarakkatan.. pada awal berdirinya
masih mencakup ruang lingkup yang kecil yaitu sekitar kerisidenan yogyakarta,
tetapi kemudian meluas ddan berkembang hingga seluruh indonnesia bahkan
sampaii keluar negri. Dengan tujuan menciptakan masyarakat islam yang
sebenar benarnya, artinya adalah masyarakat islam yang sesuai dengan sunnah dan
alquran tidak lebih dan tidak kurang. Yang harapanya akan terwujud masyarakat
islam yang adil, makmur dan ssejahtera.
1.
Faktor-faktor Penyebab Berdirinya
Muhammadiyah adalah
organisasi yang didirikan oleh KHA. Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 atau
18 Nopember 1912 di Yogyakarta. Ada beberapa alasan yang sering
dikemukakan oleh kalangan Muhammadiyah yang menyebab kan KHA. Dahlan
mendirikan organisasi ini adalah sbb :
a. Beliau
melihat bahwa umat Islam tidak memegang teguh Al Quran dan As Sunnah dalam
beramal dan bertauhid sehingga takhayyul, khurafat, bid’ah dan syirik meraja-
lela, akhlak masyarakat runtuh. Akibatnya amalan-amalan mereka bercampur baur antara
yang benar dan yang salah.
b. Lembaga-lembaga
pendidikan yang ada pada masa itu tidak efisien. Pesantren yang menjadi lembaga
pendidikan kalangan bawah pada masa itu dinilai tidak sesuai lagi dengan
perkembangan kebutuhan masyarakat. Pada waktu itu pendidikan di Indonesia
terpecah dalam dua model, yaitu model pendidikan sekuler yang dikembangkan oleh
Belanda dan pendidikan pesantren yang hany mengajarkan ilmu- ilmu agama saja.
Akibatnya timbul jurang pemisah yang sangat dalam antara golongan yang mendapat
pendidikan sekuler dengan golongan yang berpendidikan pesantren. Hal ini juga
yang menjadi penyebab pecahnya rasa persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) dikalangan
umat Islam sendiri, yang akhirnya melemahkan kekuatan Islam.
c. Kemiskinan
menimpa rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam yang sebagian besar adalah
petani dan buruh. Orang kaya hanya mementingkan dirinya sendiri, dan banyak
ulama lupa mengingatkan umatnya bahwa Islam mewajibkan zakat bagi si kaya,
sehingga hak-hak orang miskin terabaikan.
d. Kebanyakan
umat Islam hidup dalam fanatisme yang sempit, bertaklid buta dan berpikir
secara dogmatis. Kehidupan umat Islam masih diwarnai konservatisme, formalisme,
dan tradisionalisme.
e. Aktivitas
misi Katolik dan Protestan sudah aktif beroperasi sejak awal abad ke 19, dan
sekolah-sekolah misi itu mendapat subsidi dari pemerintah Belanda.
2.
Gerakan Muhammadiyah
Melihat keadaan umat
Islam yang demikian itulah, dan didorong oleh pemahaman yang mendalam terhadap
surat Ali Imron ayat 104, KHA Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah sebagai
organisasi pembaharu dan mengajak umat Islam untuk kembali beribadah, bertauhid
dan berakhlak sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Sunnah Rasul.
Pada mulanya Muhammadiyah, sesuai dengan perkembangan yang berkembang pada awal berdirinya melakukan aktivitas-aktivitas sbb :
Pada mulanya Muhammadiyah, sesuai dengan perkembangan yang berkembang pada awal berdirinya melakukan aktivitas-aktivitas sbb :
a. Membersihkan
Islam di Indonesia dari pengaruh-pengaruh dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak
Islami. Hal ini dilakukan dengan menggiatkan dan meperdalam penyelidikan ilmu
agama Islam untuk mendapatkan kemurniannya, memperteguh iman, memperkuat
ibadah, dan menggembirakan dakwah amar makruf hani munkar, serta memelihara
tempat-tempat ibadah dan wakaf.
b. Mengadakan
reformulasi doktrin-doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern.
c. Mengadakan
reformasi ajaran-ajaran dan pendidikan Islam dengan memberikan pelajaran agama
Islam di sekolah-sekolah Belanda dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri yang
berbeda pola dengan pendidikan pesantren, yakni memberikan pelajaran agama dan
umum secara bersama-sama.
d. Mempertahankan
Islam dari pengaruh dan serangan-serangan dari luar dengan jalan membentengi
para pemuda, wanita, pelajar, rakyat biasa dengan membangkitkan kesadaran
beragama mereka, dan berusaha untuk memperbaiki kehidupan dan penghidupan
mereka sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Rasa persatuan dan ukhuwah Islamiyah
di kalangan umat Islam digalang kembali.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Proses Berdirinya Muhammadiyah
Muhammadiyah
merupakan organisasi Islam tertua yang ada di negeri ini bahkan mungkin di
dunia yang masih tetap beridiri dan eksis. Banyak organisasi yang tidak mampu
berdiri lama seperti Muhammadiyah, bahkan Muhammadiyah ini sudah berdiri
sebelum Republik ini di Proklamasikan, jadi organisai persyarikatan
Muhammadiyah ini lebih tua dari usia Republik Indonesia.
Sebelum
mendirikan persyarikatan Muhammadiyah beliau terlebih dahulu belajar tentang
keorganisasian, manajemen dan administrasi kepada organisasi Budi Utomo. Yang
di anggap salah satu organisasi yang modern karena didirikan oleh
sarjana-sarjana barat. Dan telah memiliki aturan-aturan yang sangat jelas dan
memiliki data keanggotaan secara sistematis dan teratur.
Setelah
beliau masuk dalam organisasi Budi Utomo beliau langsung mempelajari manajemen
organisasi ini. Sekaligus mempersiapkan bedirinya organisasi yang akan mewadahi
perjuangan KH. Ahmad Dahlan yang telah dirintis. Setelah melalui proses yang
panjang akhirnya beliau mendirikan Organisasi yang diberinama Muhammadiyah
artinya pengikut Nabi Muhammad. Pada 18 November 1912 bertepatan dengan tanggal
8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah permohonan KH. Ahmad Dahlan dikabulkan oleh
pemerintah Hindia Belanda. Penentuan tanggal tersebut sesuai usul Ahmad Dahlan
dan kawan-kawannya setelah melalui pertimbangan rasional dan spiritual lewat
musyawarah dan salah istiharah (Mahasari dkk.2008).
Usaha
dan kegiatan Muhammadiyah terdiri dari 17 subsistem sebagaimana yang tercantum
dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah pasal 3, yaitu :
1.
Menyebarluaskan Agama Islam terutama
dengan mempergiat dan menggembirakan tabligh;
2.
Mempergiat dan memperdalam pengkajian
ajaran Islam untuk mendapatkan kemurnian dan kebenarannya;
3.
Memperteguh iman, mempergiat ibadah,
meningkatkan semangat jihad, dan mempertinggi akhlak;
4.
Memajukan dan memperbarui pendidikan dan
kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta mempergiat
penelitian menurut tuntunan Islam;
5.
Menggembirakan dan membimbing masyarakat
untuk berwakaf serta membangun dan memelihara tempat ibadah;
6.
Meningkatkan harkat dan martabat manusia
menurut tuntunan Islam;
7.
Membina dan menggerakkan angkatan muda
sehingga menjadi manusia muslim yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa;
8.
Membimbing masyarakat ke arah perbaikan
kehidupan dan mengembangkan ekonomi sesuai dengan ajaran Islam;
9.
Memelihara, melestarikan, dan
memberdayakan kekayaan alam untuk kesejahteraan masyarakat.
10. Membina
dan memberdayakan petani, nelayan, pedagang kecil, dan buruh untuk meningkatkan
taraf hidupnya;
11. Menjalin
hubungan kemitraan dengan dunia usaha;
12. Membimbing
masyarakat dalam menunaikan zakat, infaq, shadaqah, hibah, dan wakaf;
13. Menggerakkan
dan menghidup-suburkan amal tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa dalam
bidang kesehatan, sosial, pengembangan masyarakat, dan keluarga sejahtera;
14. Menumbuhkan
dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah dan kekeluargaan dalam Muhammadiyah;
15. Menanamkan
kesadaran agar tuntunan dan peraturan Islam diamalkan dalam masyarakat;
16. Memantapkan
kesatuan dan persatuan bangsa serta peran serta dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara; dan
17. Usaha-usaha
lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan persyarikatan.
Dari
17 amal usaha yang dilakukan Muhammadiyah di atas, amal usaha Muhammadiyah yang
pertama kali dila kukan adalah melalui jalur pendidikan, baik secara formal
maupun nonformal. Hal ini sesuai dengan jalur pendidikan nasional yang
disebutkan dalam pasal 13 bahwasanya jalur pendidikan terdiri atas pendidikan
formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
Pada penulisan ini, akan difokuskan membicarakan pada usaha yang diterapkan
Muhammadiyah dalam pengembangan pendidikan Islam baik secara formal maupun
nonformal.
Berbicara
mengenai persyarikatan Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari sang pendirinya
yaitu KH. Ahmad Dahlan. Beliau mendirikan Muhammadiyah bukan tanpa alasan
ataupun hanya main-main, akan tetapi ada faktor yang melatar belakangi
pendirian Organisasi Muhammadiyah. Menurut Djindar Tamimy ada dua faktor yang
melatar belakangi pendirian Muhammadiyah, yaitu faktor Internal dan faktor
eksternal.
1.
Faktor Internal
Faktor
Internal ini lahir dari dalam pendiri Muhammadiyah itu sendiri hal ini
berkaitan dengan Intelektualitas KH. Ahmad Dahlan. Setelah melihat keadaan
masyarakat muslim Indonesia khususnya yang ada di Jogjakarta yang melaksanakan
ibadah tidak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Yang langsung berkaitan
dengan pengamalan ajaran Islam dikalangan umat Islam. Kondisi internal
menyangkut implementasi Islam di Indonesia (Mahasari dkk.2008).
2.
Faktor Eksternal
Selain
faktor yang lahir dari dalam ada juga faktor yang mempengaruhi dari lingkungan
atau lebih sering di kenal dengan faktor eksternal. Yang ikut mempengaruhi
proses berdirinya Muhammadiyah, namun faktor ini muncul dari luar artinya tidak
berkaitan langsung dengan KH. Ahmad Dahlan secara individual. Akan tetapi
berkaitan dengan umat Islam secara keseluruhan.
a. Sosio-kegamaan.
Islam yang merupakan agama yang membawa misi rahmatal lil alamain yang hanya
bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Telah mengalami pergeseran ajaran
normatif yang sudah jauh, dari ajaran yang sesungguhnya (sesuai tuntunan Rasulullah).
Bahkan praktek ibadahnya pun telah bercampur dengan pengaruh dari luar, yang
sering di kenal dengan praktek Tahayul, Bid’ah, dan
Khuroffat. Hal-hal yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan
menganjurkan namun di anggap baik , sehingga mereka lakukan padahal nabi
sendiri tidak pernah melakukan apalagi menganjurkan.
Realitas Islam sebagai
agama dan Islam sebagai pemikiran di Indonesia mengalami kemacetan pemikiran.
Islam yang ada di Indonesia sudah bercampur dengan praktek yang bertentangan dengan
tauhid. Kepercayaan kepada pohon, benda-benda dan tempat-tempat yang mengandung
kramat dan memiliki kekuatan gaib, merupakan hal yang biasa pada umat Islam.
b. Sosio-pendidikan. Ada
dua sistem pendidikan yang berkembang di Indonesia yaitu pendidikan Barat dan
Pesantren. Pendidikan Barat hanya mengajarkan ilmu-ilmu umum dan
sudah memiliki metode dan kurikulum modern. Ilmu yang di ajarkan sama dengan
yang di ajarkan di dunia Barat dan lulusannya sudah memiliki pemikiran maju.
Sedangkan pendidikan model pesantren hanya mengajarkan ilmu-ilmu
agama seperti, fiqih, hadits, ilmu kalam, tasawuf, dll. Yang menjauhkan diri
dari model pendidikan barat karena di anggap kafir dan tidak sesuai dengan
Islam. Sehingga secara sistematis karena doktrin pesantren yang sangat kuat
jadi menghasilkan lulusan yang menjauhi dari perkembangan modern.
Melihat hal ini KH.
Ahmad Dahlan merasa prihatin dengan kondisi sosio pendidikan yang ada. Sehingga
beliau mengabil keputusan dengan membuat lembaga pendidikan yang memadukan dua
sistem tersebut. Diharapkan lulusan nantinya selain memiliki pengetahuan dalam
bidang umum tetapi tetap didasari dengan ilmu agama.
c. Politik
Hindia Belanda. Salah satu faktor penting dari kelahiran Muhammadiyah ini
adalah politik Hindia Belanda. Secara tidak langsung mereka melemahkan posisi
umat Islam di satu pihak mereka mencoba netral dengan keadaan yang ada. Karena
ingin memperlihatkan kenetralannya namun dilain pihak pemerintah Belanda
melakukan gerakan dengan meng’kebiri’ umat Islam. Hal ini dilakukan dengan
membatasi kegiatan-kegiatan umat Islam hanya pada tataran ibadah saja. Untuk
ibadah haji saja umat Islam di awasi dengan sangat ketat, karena umat Islam
yang telah menunaikan Ibadah Haji biasanya memiliki pengaruh yang sangat kuat
dilingkungannya.
B.
Peran
Muhammadiyah
Memasuki
usia satu Abad ini Muhammadiyah telah banyak memberikan kontribusi kepada
bangsa dan negeri ini. Berbagai Amal Usaha yang dimiliki Muhammadiyah ini dari
Sabang sampai Merauke. Setidaknya ada 4 hal yang menjadi bidang garapan oleh
Muhammadiyah yaitu :
1. Pendidikan. Melalui
bidang ini Muhammadiyah telah banyak melahirkan para cendikiawan negeri ini.
Bahkan sudah mencapai ribuan, kita lihat para tokoh bangsa ini banyak sekali
hasil didikan Muhammadiyah sebagai contoh Jendral Besar Sudirman, jendral
termuda ini merupakan kader Muhammadiyah sampai Andrea Hirata (Laskar
Pelangi), Hanung Brahmantiyo (Sutradara).
Lembaga Pendidikan
Muhammadiyah bertebaran mulai dari TK sampai dengan PT, yang jumlahnya sangat
banyak sekali. Bahkan kalau pemerintah disuruh membiayai semua lembaga
pendidikan saja milik Muhammadiyah niscaya tidak sanggup begitulah kata pak
Amien Rais. Lembaga pendidikan ini 20% dari lembaga pendidikan yang ada di
Indonesia, sehingga dapat dibayangkan sumbangan Muhammadiyah itu.
2. Social. Dalam
bidang ini Muhammadiyah sudah konsen dari awal, karena memang berdirinya
Muhammadiyah ini erat kaitannya dengan bidang social. Bahkan berdirinya ini
berkaitan erat dengan Surat Al-Qur’an yaitu Surat Al-Maun yang mengisyaratkan
kepada kepedualian social maka sering kita kenal dengan Teologi Al-Maun. Lewat
bidang ini Muhammadiyah membina anak-anak yatim, orang-orang jompo, dan juga
rumah sakit-rumah sakit yang sudah berdiri ratusan tahun.
3. Ekonomi.
Bidang garapan ini Muhammadiyah ikut membantu memberdayakan masyarakat dengan
cara membentuk Koperasi dan membinda para pedagang. Selain itu juga
Muhammadiyah membinda para petani yang masih belum memiliki pengetahuan tentang
bertani dengan baik.
4. Politik. Politik
merupakan bidang garapan Muhammadiyah walapun Muhammadiyah bukan organisasi
politik. Akan tetapi Muhammadiyah tidak alergi dengan politik bahkan dari awal
pendirian negeri ini Muhammadiyah telah ikut membantu mendirikan Negeri ini
dengan Tokohnya Ki Bagus Hadikusumo. Begitupun ketika terjadi Reformasi kader
Muhammadiyah yang mempeloporinya yaitu Prof. Dr. Amien Rais, MA (Pendiri IMM)
tampil terdepan sebagai pemimpin Reformasi.
C.
Sejarah
Berdirinya Lembaga Pendidikan Muhammadiyah
Sebenarnya
jika dikaji lebih dalam, berdirinya Muhammadiyah juga didasari oleh faktor
pendidikan. Sutarmo, Mag dalam bukunya Muhammadiyah, Gerakan Sosisal, Keagamaan
Modernis mengatakan bahwa Muhammadiyah didirikan oleh KHA. Dahlan didasari oleh
dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu
faktor yang berkaitan dengan ajaran Islam itu sendiri secara menyeluruh dan
faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berada di luar Islam. Maka
pendidikan Muhammadiyah adalah salah satu faktor internal yang mendasari
Muhammadiyah didirikan. Kita ketahui bahwa pada masa awal berdirinya
Muhammadiyah, lembaga-lembaga pendidikan yang ada dapat dikelompokkan menjadi
dua kelompok besar sistem pendidikan. Dua sistem pendidikan yang berkembang
saat itu, pertama adalah sistem pendidikan tradisional pribumi yang
diselenggarakan dalam pondok-pondok pesantren dengan Kurikulum seadanya. Pada
umumnya seluruh pelajaran di pondok-pondok adalah pelajaran agama. Proses
penanaman pendidikan pada sistem ini pada umumnya masih diselenggarakan secara
tradisional, dan secara pribadi oleh para guru atau kyai dengan
menggunakan metode srogan(murid secara individual menghadap kyai satu
persatu dengan membawa kitab yang akan dibacanya, kyai membacakan pelajaran,
kemudian menerjemahkan dan menerangkan maksudnya) dan weton (metode
pengajaran secara berkelompok dengan murid duduk bersimpuh mengelilingi kyai
juga duduk bersimpuh dan sang kyai menerangkan pelajaran dan murid menyimak
pada buku masing-masing atau dalam bahasa Arab disebut metode Halaqah) dalam
pengajarannya. Dengan metode ini aktivitas belajar hanya bersifat pasif,
membuat catatan tanpa pertanyaan, dan membantah terhadap penjelasan sang kyai
adalah hal yang tabu. Selain itu metode ini hanya mementingkan kemampuan daya
hafal dan membaca tanpa pengertian dan memperhitungkan daya
nalar. Keduaadalah pendidikan seluler yang sepenuhnya dikelola oleh
pemerintah kolonial dan pelajaran agama tidak diberikan.
Bila
dilihat dari cara pengelolaan dan metode pengajaran dari kedua sistem
pendidikan tersebut, maka perbedaannya jauh sekali. Tipe pendidikan pertama
menghasilkan pelajar yang minder dan terisolasi dari kehidupan modern, akan
tetapi taat dalam menjalankan perintah agama, sedangkan tipe kedua menghasilkan
para pelajar yang dinamis dan kreatif serta penuh percaya diri, akan tetapi
tidak tahu tentang agama, bahkan berpandangan negatif terhadap agama.
Maka
atas dasar dua sistem pendidikan di atas KHA. Dahlan kemudian dalam mendirikan
lembaga pendidikan Muhammadiyah coba menggabungkan hal-hal yang positif dari
dua sistem pendidikan tersebut. KHA. Dahlan kemudian coba menggabungkan dua
aspek yaitu, aspek yang berkenaan secara idiologis dan praktis. Aspek
idiologisnya yaitu mengacu kepada tujuan pendidikan Muhammadiyah, yaitu
untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, pengetahuan yang komperensif,
baik umum maupun agama, dan memiliki kesadaran yang tinggi untuk bekerja
membangun masyarakat (perkembangan filsafat dalam pendidikan Muhammadiyah,
syhyan rasyidi). Sedangkan aspek praktisnya adalah mengacu kepada
metode belajar, organisasi sekolah mata pelajaran dan kurikulum yang
disesuaikan dengan teori modern. Maka inilah sejarah awal berdirinya lembaga
pendidikan Muhammadiyah yang jika disimpulkan ihwal berdirinya lembaga
pendidikan Muhammadiyah untuk mencetak ulama atau pemikir yang mengedepankan
tajdid atau tanzih dalam setiap pemikiran dan gerakannya bukan ulama atau
pemikir yang say yes pada kemapanan yang sudah ada (established)
karena KHA. Dahlan dalam memadukan dua sistem tersebut coba untuk menciptakan
ulama/pelajar yang dinamis dan kreatif serta penuh percaya diri dan taat dalam
menjalankan perintah agama.
Awal
didirikannya amal usaha pendidikan oleh KH. Ahmad Dahlan adalah untuk membantu
para kaum miskin yang tidak mampu sekolah. Bermula dari penafsiran Al-Maun yang
kemudian dikenal sebagai teologi Al-Maun, KH. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah
agama modern pertama untuk rakyat miskin. Bahkan KH. Ahmad Dahlan mendirikan
sekolah tersebut bukan hanya untuk kaum miskin, namun lintas kelas dan lintas
gender. Hingga akhirnya sampai saat ini, Muhammadiyah merupakan NGO yang paling
tua dan paling awal mendirikan sekolah. Muhammadiyah menjadi NGO yang terbesar
di Indonesia, bahkan di dunia, yang memiliki lembaga pendidikan mulai dari TK
sampai Perguruan Tinggi (PT).
Kehebatan
Muhammadiyah dalam mengelola lembaga pendidikannya memang sudah tidak diragukan
lagi, bahkan diantara sekolah-sekolah dan perguruan tinggi swasta yang lain,
Muhammadiyah menempati urutan pertama dalam kepercayaan masyarakat saat memilih
sekolah atau PT bagi anaknya.
Menurut
Prof. Dr. A. Munir Mulkhan, saat menyampaikan materinya pada Seminar Pendidikan
Nasional tersebut, gagasan utama pendidikan Muhammadiyah tercermin dalam konsep
guru keliling dan guru desa yang muncul sebelum Muhammadiyah meresmikan diri.
Saat itu, Muhammadiyah telah mengembangkan praktik pendidikan bagi kaum
perempuan disaat gerakan feminisme belum menjadi wacana di Eropa. Bahkan pada
tahun 1921, Muhammadiyah mengusulkan rancangan program pendidikan dalam Kongres
Islam Cirebon yang didalamnya memuat berbagai gagasan dasar pembelajaran dan
pendidikan guru.
Dalam
perkembangannya, lembaga pendidikan Muhammadiyah mengalami berbagai macam hal
yang membuat pasang surut. Namun kesemuanya itu tidak hanya terjadi karena
rendahnya kualitas dan rendahnya manajeman sekolah atau perguruan tinggi
tersebut, melainkan banyak faktor yang menyebabkannya.
Sampai
sekarang ini, pendidikan Muhammadiyah belum memiliki pedoman atau sistem secara
konseptual. Yang ada hanyalah sebuah kepanjangtanganan regulasi pemerintah
dalam bidang pendidikan. Sehingga model pendidikan Muhammadiyah tidak mempunyai
ciri khas tersendiri dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum. Artinya sekolah
Muhammadiyah pun tidak pernah menjadi solusi alternatif bagi rakyat miskin
untuk bersekolah ketika biaya sekolah semakin menjulang tinggi.
Karena
itu, sekiranya Muhammadiyah perlu merumuskan sistem pendidikan tersendiri untuk
pendidikan Muhammadiyah yang nantinya menjadi acuan pola penyelenggaraan
pendidikan Muhammadiyah. Selanjutnva adalah mengembalikan fungsi dan peran
pendidikan Muhammadiyah sebagaimana yang pertama kali digagas oleh KH. Ahmad
Dahlan, yakni menjadikan pendidikan Muhammadiyah sebagai "Penolong
Kesengsaraan Oemoem" ditengah himpitan biaya pendidikan yang semakin
mahal.
Sudah
sewajarnya dan selayaknya pendidikan Muhammadiyah menjadi solusi alternatif
untuk mengurangi angka putus sekolah. Jika dahulu Muhammadiyah dikenal sebagai
pelopor pendidikan yang menjadi motor penggeraknya, maka sekarang Muhammadiyah
harus berperan lebih dari pada itu, yakni Muhammadiyah kembali tampil sebagai
aktor utama pemberantasan anak putus sekolah dan menjadi aktor yang
mencerdaskan kehidupan bangsa
D.
Pembenahan
Kualitas Pendidikan Muhammadiyah
Sekolah
(pendidikan) Muhammadiyah, sejak didirikan tahun 1912 hingga saat ini, berasal
dari komunitas basis atau kesadaran pribadi warganya. Gagasan genial KH. Ahmad
Dahlan sampai saat ini dirasa masih tetap relevan dan signifikan bagi
perkembangan pendidikan pada masa sekarang. Gagasan tersebut yang kemudian
menjadi ruh dan kekuatan penggerak pendidikan Muhammadiyah. Namun ide besar KH.
Ahmad Dahlan tersebut kurang begitu dipahami dan dikaji oleh para aktivis dan
praktisi pendidikan Muhammadiyah. Sehingga pendidikan Muhammadiyah saat ini
banyak dikatakan sudah menjauhi apa yang telah digagas oleh KH. Ahmad Dahlan.
Yang ada pendidikan Muhammadiyah menjadi kepanjangantanganan regulasi
pemerintah.
Dengan
modal kepercayaan dari masyarakat terhadap amal usaha pendidikan dan kesehatan
Muhammadiyah, pendidikan Muhammadiyah harus dikelola secara profesional dan
progresional dan tidak bisa lagi dikelola secara alakadarnya dan hanya
menjadi kegiatan sampingan.
Jika
kita lihat perkembangan sekolah Muhammadiyah, sebenarnya kita harus merasa
prihatin. Data menunjukkan bahwa sekolah Muhammadiyah harus segera dibenahi
sedini mungkin. Dr. Qomari Anwar, MA dalam Seminar Nasional Pendidikan tersebut
memaparkan peringkat sekolah Muhammadiyah (Khusus untuk DKI). Pada jurusan IPA,
sekolah Muhammadiyah yang pertama (SMAM 16) menempati urutan ke 117 dan 381
sekolah (negeri dan swasta). Pada jurusan Bahasa, tak satupun sekolah
Muhammadiyah menempati urutan dari 24 sekolah yang mempunyai jurusan Bahasa.
Pada jurusan IPS, dan 446 sekolah yang mempunyai jurusan IPS, sekolah
Muhammadiyah pertama (SMAM 16) hanya menempati urutan ke 91. Ini menandakan
bahwa sekolah Muhammadiyah belum memiliki kualitas yang cukup dibandingkan
sekolah-sekolah yang lain (negeri dan swasta). Lalu bagaimana dengan nasib
sekolah-sekolah Muhammadiyah yang berada di daereh-daerah terpencil? Bagaimana
peran struktur Muhammadiyah setempat? Apakah hanya diam saja dan hanya
diserahkan pada pihak sekolah? Inilah yang seharusnya persoalan yang harus
segera dijawab agar sekolah Muhammadiyah tidak gulung tikar, sebagaimana yang
banyak terjadi beberapa daerah.
Fungsi
pendidikan dalam Muhammadiyah, sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Qomari Anwar,
MA, yakni;Pertama, sebagai ibadah dan sarana dakwah Muhammadiyah amar
ma 'ruf nahyi munkar. Kedua, sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan
peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Ketiga, sebagai upaya
mencerdaskan bangsa. Dan yang terakhir dan cukup penting
kiranya adalah sebagai sarana kaderisasi Muhammadiyah sendiri. Dengan
berlandaskan keempat hal tersebut, maka Mahammadiyah perlu segera melakukan
pembenahan internal pendidikan Muhammadiyah untuk melakukan evaluasi terhadap
mutu sekolah Muhammadiyah.
Selanjutnya
adalah upaya peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah. Dalam upaya meningkatkan
kualitas atau mutu pendidikan Muhammadiyah, ada beberapa langkah yang mungkin
patut untuk diperhatikan.Pertama, pembenahan sumber daya manusia (Kepala
sekolah, guru, murid), yang salah satunya dengan meningkatkan profesionalitas
dan kesejahteraan kepala sekolah dan guru, serta memposisikan peserta didik
sebagai subjek aktif dalam proses belajar-mengajar. Kedua, kurikulum.
Muhammadiyah perlu membuat kurikulum tersendiri. Mengapa harus berbeda dengan
kurikulum pendidikan nasional? Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi yang
mempunyai lembaga pendidikan paling banyak dan paling lengkap dibandingkan
dengan yang lain. Dengan demikian, Muhammadiyah harus mulai menyapih diri dari
pemerintah berkaitan dengan kurikulum. Karena pendidikan Muhammadiyah juga
merupakan pendidikan kekaderan bagi keberlangsungan Muhammadiyah
kedepan.Ketiga, pembenahan dan pangadaan sarana-prasarana, seperti gedung yang
representarif, laboratorium yang memadahi, perpustakaan yang mempunyai koleksi
lengkap, meja-kursi, dan lain sebagainya. Dengan sarana-prasarana yang memadahi
dan lengkap, tentunya akan menujunjang proses pembelajaran sehingga
menghasilkan kualitas yang baik pula. Namun perlu diingat jangan sampai dengan
dalih pengadaan sarana-prasarana, lembaga pendidikan Muhammadiyah memasang
bandrol mahal bagi siswa atau peseta didik baru yang hendak sekolah atau
menempuh pendidikan di lembaga tersebut. Keempat, perbaikan manajeman
sekolah. Manajemen sekolah disini tidak hanya pada agenda administratif saja,
namun peraturan sistem penyelenggaraan sekolah (pendidikan) Muhammadiyah. Yakni
tidak terus langsung mengadopsi konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) milik
pemerintah begitu saja, namun sekolah Muhammadiyah harus mempertimbangkan aspek
kelokalan (local wisdom). Karena itu, Muhammadiyah melalui Majelis Dikdasmen
dan Diktilitbang perlu membuat panduan teknis pelaksanaan manajemen sekolah
Muhammadiyah secara konseptual.
Dengan
demikian, Muhammadiyah harus terus melakukan pembenahan di semua sector tidak
hanya pendidikan saja. Dengan pembenahan internal dan eksternal Muhammadiyah,
Insya Allah cita-cita untuk mewujudkan baldatun thayyibatun warrabun
ghafur akan lebih mudah tercapai.
Namun,
yang perlu diingat oleh kita semua, khususnya aktivis dan praktisi pendidikan
Muhammadiyah, adalah menjadikan sekolah Muhammadiyah kembali menjadi
"Penolong Kesengsaraan Oemoem" sebagaimana yang digagas oleh KH.
Ahmad Dahlan. Sudah banyak saran dan kritik dari berbagai pihak terhadap
pendidikan Muhammadiyah, apakah kita hanya akan diam saja melihat fenomena ini?
Jangan sampai pendidikan Muhammadiyah justru menjadi penyebab naiknya angka
putus sekolah karena mahalnya pendidikan Muhammadiyah.
Dalam
segi mutu atau kualitas pendidikan Muhammadiyah, hal ini menjadi tanggung jawab
kita semua sebagai warga persyarikatan. Maju dan tidaknya pendidikan
Muhammadiyah adalah ditangan kita semua. Semoga sekolah Muhammadiyah mampu
menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Amien.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perserikatan
Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari sang pendirinya yaitu KH. Ahmad Dahlan.
Beliau mendirikan Muhammadiyah bukan tanpa alasan ataupun hanya main-main, akan
tetapi ada faktor yang melatar belakangi pendirian Organisasi Muhammadiyah.
Menurut Djindar Tamimy ada dua faktor yang melatar belakangi pendirian
Muhammadiyah, yaitu faktor Internal dan faktor eksternal. Faktor internal
yaitu faktor yang berkaitan dengan ajaran Islam itu sendiri secara menyeluruh
dan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berada di luar Islam.
Memasuki
usia satu Abad ini Muhammadiyah telah banyak memberikan kontribusi kepada
bangsa dan negeri ini. Berbagai Amal Usaha yang dimiliki Muhammadiyah ini dari
Sabang sampai Mereuke. Setidaknya ada 4 hal yang menjadi bidang garapan oleh
Muhammadiyah yaitu : bidang pendidikan, bidang social, bidang ekonomi, dan
bidang politik.
Pendidikan
Muhammadiyah adalah salah satu faktor internal yang mendasari Muhammadiyah
didirikan. Sejarah awal berdirinya lembaga pendidikan Muhammadiyah yang jika
disimpulkan ihwal berdirinya lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk mencetak
ulama atau pemikir yang mengedepankan tajdid atau tanzih dalam setiap pemikiran
dan gerakannya bukan ulama atau pemikir yang say yes pada kemapanan
yang sudah ada (established) karena KH A. Dahlan dalam memadukan dua sistem
tersebut coba untuk menciptakan ulama/pelajar yang dinamis dan kreatif serta
penuh percaya diri dan taat dalam menjalankan perintah agama.
Mengembalikan
fungsi dan peran pendidikan Muhammadiyah sebagaimana yang pertama kali digagas
oleh KH. Ahmad Dahlan, yakni menjadikan pendidikan Muhammadiyah sebagai
"Penolong Kesengsaraan Oemoem" ditengah himpitan biaya pendidikan
yang semakin mahal. Jika dahulu Muhammadiyah dikenal sebagai pelopor pendidikan
yang menjadi motor penggeraknya, maka sekarang Muhammadiyah harus berperan
lebih dari pada itu, yakni Muhammadiyah kembali tampil sebagai aktor utama
pemberantasan anak putus sekolah dan menjadi aktor yang mencerdaskan kehidupan
bangsa.
B.
Saran
Kami selaku penyusun sangat menyadari masih
jauh dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembutan makalah
ini.Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, Kami selaku pembuat makalah
ini sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.Kami juga
mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya bagi pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Klik Download Now untuk mendownload versi docx



Post a Comment